Mandalika dan Ekonomi Sport Tourism: Berkah atau Beban Fiskal?
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan segmen sport tourism tumbuh pali...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal IV 2025, sektor pariwisata menyumbang sekitar 4,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan segmen sport tourism tumbuh paling agresif, yakni 11,3 persen year-on-year. Angka ini menjadi konteks penting ketika PT Pertamina (Persero) kembali menyatakan komitmennya mendukung penyelenggaraan Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat. Klaim korporasi bahwa ajang balap kelas dunia itu "memperkuat ekosistem sport tourism" bukan sekadar narasi pemasaran, melainkan bagian dari strategi hilirisasi citra negara di pasar global.
Ledakan Aktivitas Ekonomi di Lingkar Mandalika
Data Dinas Pariwisata NTB menunjukkan, selama periode penyelenggaraan MotoGP 2025, tingkat hunian hotel di kawasan Kuta Mandalika mencapai 92 persen, melonjak dari rata-rata harian yang hanya 54 persen pada bulan-bulan non-event. Rata-rata belanja wisatawan per hari pun tercatat Rp 2,4 juta, atau sekitar 1,8 kali lebih tinggi dibandingkan wisatawan konvensional. Ini yang dalam terminologi ekonomi disebut efek pengganda (multiplier effect), di mana satu rupiah belanja event berputar hingga 2,3 kali di ekonomi lokal melalui sektor akomodasi, kuliner, transportasi, dan UMKM.
Dari sisi korporasi, keterlibatan Pertamina bukan tanpa perhitungan. Sebagai perusahaan energi dengan portofolio hilir yang luas, eksposur brand di ajang internasional berfungsi sebagai investasi reputasi. Valuasi merek (brand valuation) korporasi BUMN energi diperkirakan naik 7 hingga 9 persen pasca-event berskala global, menurut sejumlah lembaga riset independen. Namun, metrik ini bersifat kualitatif dan sulit diaudit secara langsung dalam laporan keuangan.
Pro: Katalis Pariwisata dan Devisa
Di satu sisi, penyelenggaraan MotoGP Mandalika memberi dampak nyata pada likuiditas daerah. Bank Indonesia mencatat peredaran uang kartal di NTB selama periode event naik 34 persen dibandingkan bulan biasa. Devisa dari kunjungan wisatawan mancanegara diperkirakan menembus USD 48 juta per edisi, setara Rp 750 miliar dengan asumsi kurs Rp 15.600 per dolar AS. Angka ini belum menghitung belanja sponsor, hak siar, dan aktivitas ekonomi turunan lainnya.
"Sport tourism adalah salah satu segmen pariwisata dengan yield tertinggi. Wisatawan event cenderung menginap lebih lama dan membelanjakan lebih banyak dibanding wisatawan rekreasi biasa," ujar seorang ekonom pariwisata dari sebuah universitas negeri di Jakarta.
Selain itu, pembangunan infrastruktur pendukung seperti jalan akses, bandara, dan fasilitas penginapan menciptakan aset jangka panjang yang tetap produktif setelah balapan usai. Ini yang dalam teori pembangunan disebut social overhead capital, fondasi yang menurunkan biaya logistik dan meningkatkan konektivitas antarwilayah.
Kontra: Beban Fiskal dan Risiko Sentimen Pasar
Di sisi lain, sejumlah kalangan menilai hitungan ekonomi event besar kerap terlalu optimistis. Studi tentang mega-event di berbagai negara menunjukkan rata-rata pembengkakan biaya (cost overrun) mencapai 45 persen dari anggaran awal. Risiko ini membebani APBN dan APBD, terutama bila proyeksi kunjungan tidak tercapai. Pada 2024 lalu, target 150 ribu penonton hanya terealisasi sekitar 78 persen.
Dari perspektif korporasi, keterlibatan sponsor besar juga menimbulkan pertanyaan soal alokasi modal. Rasio belanja pemasaran terhadap pendapatan Pertamina berada di kisaran 0,8 hingga 1,1 persen. Jika sebagian dialihkan ke ajang balap, maka ruang fiskal untuk investasi energi terbarukan bisa tertekan. Padahal, dalam kerangka transisi energi, setiap dolar yang tidak dialokasikan ke kapasitas hijau berpotensi menjadi biaya peluang (opportunity cost) jangka panjang.
Selain itu, capital outflow dari penyelenggaraan event juga perlu dicermati. Sebagian pendapatan hak siar dan sponsorship mengalir ke entitas asing, sehingga dampak bersih terhadap neraca pembayaran tidak sebesar yang dipromosikan. Diperlukan kajian input-output yang lebih rigor untuk memisahkan efek bruto dan neto.
Fundamental vs Sentimen Pasar
Secara fundamental, sport tourism Mandalika memiliki pondasi yang cukup kuat: lokasi strategis, dukungan infrastruktur, dan tren global menuju wisata berbasis pengalaman. Namun, sentimen pasar terhadap event tahunan ini sangat bergantung pada konsistensi penyelenggaraan dan kualitas pengelolaan. Bila terjadi penurunan kualitas atau pembatalan, indeks kepercayaan investor terhadap sektor pariwisata NTB bisa tergerus cepat.
Yang paling krusial adalah memastikan bahwa manfaat ekonomi tidak terkonsentrasi pada segelintir pelaku besar. Pemerintah daerah perlu memastikan UMKM lokal mendapat akses rantai pasok event, misalnya melalui kontrak katering, suvenir, dan jasa transportasi. Tanpa itu, narasi "memperkuat ekosistem" hanya akan menjadi jargon tanpa distribusi kesejahteraan yang merata.
Dengan proyeksi pertumbuhan sektor pariwisata nasional sebesar 6,2 persen pada 2026, Mandalika memegang peran strategis sebagai etalase. Namun, keberhasilannya tidak boleh diukur hanya dari jumlah penonton atau liputan media, melainkan dari seberapa besar nilai tambah yang tertinggal di tanah Lombok setelah lampu start padam.
Comments (0)