Lonjakan Penumpang KA Sumatera: Peluang dan Risiko Ekonomi Baru

Berdasarkan data internal PT Kereta Api Indonesia (Persero) per 31 Agustus 2024, kelima rute kereta api lintas Sumatera yang membentang dari Lampung hingga Sumatera Utara mencatat kenaikan volume penu...

Berdasarkan data internal PT Kereta Api Indonesia (Persero) per 31 Agustus 2024, kelima rute kereta api lintas Sumatera yang membentang dari Lampung hingga Sumatera Utara mencatat kenaikan volume penumpang signifikan sepanjang tahun berjalan. Secara kumulatif, hingga akhir Agustus, jumlah penumpang pada rute-rute tersebut mencapai 1,47 juta orang, atau melonjak 23,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang hanya mencatat sekitar 1,19 juta penumpang. Kenaikan ini menyebar hampir merata di seluruh rute, dengan lonjakan tertajam terjadi pada relasi Tanjungkarang–Kertapati (Lampung–Sumatera Selatan) yang tumbuh 31,2% yoy, serta rute Medan–Rantau Prapat (Sumatera Utara) yang naik 27,5% yoy.

Angka ini sekaligus menandakan pulihnya mobilitas masyarakat pascapandemi sekaligus adanya pergeseran preferensi moda transportasi. Namun, di balik angka pertumbuhan itu, terdapat dua sisi yang perlu dicermati: berkah ekonomi yang turut menggeliat, sekaligus tekanan terhadap kapasitas infrastruktur perkeretaapian di Pulau Sumatera yang selama ini terbatas.

Lima Rute Penopang, Mobilitas Lintas Provinsi Menguat

Kelima rute yang dimaksud meliputi Tanjungkarang–Kertapati (Lampung–Palembang), Kertapati–Lubuklinggau (Sumatera Selatan), Medan–Binjai, Medan–Rantau Prapat, serta Medan–Tebing Tinggi. Karakteristik rute-rute ini adalah jalur tunggal (single track) dengan panjang lintasan mencapai ratusan kilometer, yang menghubungkan pusat-pusat ekonomi dan simpul logistik andalan di koridor timur Sumatera. Data PT KAI Divre III Palembang dan Divre I Medan menunjukkan bahwa okupansi rata-rata pada lima rute tersebut kini menyentuh 89%, naik dari 76% pada tahun sebelumnya. Bahkan pada akhir pekan dan musim liburan, tiket kerap habis terjual tiga hari sebelum keberangkatan.

Di satu sisi, geliat ini menjadi sinyal positif pemulihan konsumsi rumah tangga. Dengan tarif yang lebih terjangkau dibandingkan tiket pesawat untuk rute antarkota menengah, kereta api menjadi pilihan utama masyarakat kelas pekerja, pelaku usaha kecil, dan pelajar. Kenaikan penumpang turut mengerek pendapatan non-tiket PT KAI, seperti dari sektor parkir, iklan stasiun, serta bisnis angkutan barang (freight) yang juga mencatat pertumbuhan volume sebesar 9,3% yoy pada rute yang sama, terutama pengiriman hasil perkebunan dan komoditas dari Sumatera Utara menuju Pelabuhan Panjang di Lampung.

Di sisi lain, lonjakan penumpang justru memperlihatkan betapa terbatasnya daya tampung jalur kereta api Sumatera. Mayoritas rute masih mengandalkan rel tunggal, sehingga frekuensi perjalanan tidak dapat ditambah secara signifikan tanpa mengorbankan ketepatan waktu. Akibatnya, terjadi peningkatan risiko overcrowding pada jam sibuk dan penurunan kenyamanan yang dapat menggerus pengalaman konsumen dalam jangka menengah.

Dampak Berganda: Lokomotif Ekonomi Daerah atau Beban Baru?

Secara fundamental, kenaikan mobilitas penumpang kereta merupakan cerminan dari meningkatnya aktivitas ekonomi di wilayah Sumatera. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia untuk wilayah Sumatera menunjukkan perbaikan sejak kuartal II/2024, ditopang oleh stabilitas harga komoditas seperti kelapa sawit dan karet. Peningkatan frekuensi perjalanan masyarakat untuk urusan bisnis, keluarga, dan wisata domestik menjadi transmisi langsung dari perbaikan pendapatan tersebut.

“Pertumbuhan penumpang di rute-rute Sumatera melampaui pertumbuhan PDRB provinsi terkait, yang rata-rata hanya dikisaran 4–5 persen. Ini menunjukkan adanya peralihan moda dari bus dan mobil pribadi ke kereta api, bukan semata karena ekspansi ekonomi. Efisiensi waktu dan tarif menjadi faktor penarik utama,” ujar Andi Faisal, pengamat ekonomi transportasi dari Universitas Sriwijaya.

Dari sudut pandang valuasi, kinerja operasional yang membaik berpotensi menopang peringkat obligasi PT KAI dan mengurangi beban subsidi PSO (Public Service Obligation) dari APBN. Namun peningkatan penumpang tanpa diiringi penambahan kapasitas segera juga menimbulkan dilema. PT KAI harus mengeluarkan belanja modal (capex) tambahan untuk perawatan, penambahan rangkaian kereta, dan percepatan pembangunan jalur ganda. Jika tidak, citra layanan publik ini dapat terpukul oleh keluhan pelanggan yang berdampak pada sentimen pasar terhadap obligasi emiten transportasi pelat merah.

Proyeksi dan Antisipasi: Antara Target Ambisius dan Realitas Dana

Hingga akhir tahun, PT KAI memproyeksikan total penumpang di lima rute tersebut mampu menembus 2,25 juta orang, atau tumbuh sekitar 26% dibandingkan realisasi tahun 2023 yang sebanyak 1,78 juta penumpang. Proyeksi ini didasarkan pada tren historis kenaikan penumpang pada kuartal IV yang biasanya meningkat akibat libur Natal dan Tahun Baru serta musim panen komoditas.

Kontra terhadap outlook optimistis ini terletak pada minimnya realisasi investasi infrastruktur perkeretaapian di Sumatera yang cenderung lamban. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa dari total anggaran pembangunan jalur kereta api nasional, porsi untuk wilayah Sumatera hanya sekitar 18,3% pada tahun 2024, meskipun panjang lintas perkeretaapian di pulau itu mencapai 27% dari total nasional. Ketimpangan ini berisiko menciptakan bottleneck permanen: pertumbuhan penumpang yang tinggi malah menjadi kontraproduktif karena menurunkan service level dan memperbesar potensi kecelakaan akibat terbatasnya ruang lintas.

Dari perspektif pasar modal, investor obligasi perlu mencermati rasio cakupan layanan utang (DSCR) PT KAI yang masih sehat di level 1,8 kali, namun bisa tergerus jika perseroan harus meningkatkan pinjaman untuk percepatan pembangunan infrastruktur di tengah kenaikan suku bunga acuan. Di pasar saham, anak usaha KAI yang bergerak di sektor logistik justru diuntungkan oleh tren angkutan barang, tetapi kenaikan harga tiket yang tak terhindarkan jika terjadi kelangkaan kursi dapat memicu inflasi tarif transportasi di Sumatera bagian timur.

Dengan demikian, pertumbuhan penumpang kereta api Sumatera menyuguhkan paradoks klasik pembangunan infrastruktur: keberhasilan menarik minat masyarakat justru membuka risiko kapasitas yang terlambat ditingkatkan. Jawabannya terletak pada seberapa cepat pemerintah dan PT KAI mampu mengeksekusi proyek jalur ganda dan elektrifikasi, sembari menjaga keseimbangan tarif agar moda ini tetap inklusif. Tanpa langkah itu, angka pertumbuhan yang hari ini dirayakan bisa berubah menjadi statistik antrean dan keluhan yang berlarut-larut.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User