Lima Saham Pilihan saat IHSG Koreksi 1,88 Persen

Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan terakhir, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,88% ke level 6.800-an. Aksi jual bersih (net sell) investor asi...

Lima Saham Pilihan saat IHSG Koreksi 1,88 Persen

Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan terakhir, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 1,88% ke level 6.800-an. Aksi jual bersih (net sell) investor asing menjadi katalis utama pelemahan ini, dengan total pencatatan mencapai Rp1,26 triliun. Sentimen global yang kurang kondusif, termasuk ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve dan perlambatan ekonomi Tiongkok, turut membebani pasar domestik. Meski demikian, sejumlah emiten justru mencatatkan perkembangan fundamental positif, yang berpotensi menjadi penopang kinerja saham dalam jangka pendek hingga menengah. Berikut lima saham pilihan yang layak dicermati di tengah koreksi IHSG.

1. AMMN: Penyelesaian Smelter Sumbawa, Katalis Baru Hilirisasi

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi sorotan setelah menyelesaikan pembangunan smelter tembaga di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Proyek strategis ini menandai langkah konkret perseroan dalam mendukung program hilirisasi mineral pemerintah. Smelter berkapasitas 900 ribu ton konsentrat tembaga per tahun itu diharapkan mulai beroperasi penuh pada kuartal IV tahun ini. Dari sisi fundamental, penyelesaian smelter akan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah sekaligus meningkatkan margin keuntungan melalui produk bernilai tambah. Analis menilai, sentimen positif ini dapat mendorong valuasi saham AMMN yang saat ini diperdagangkan pada price to book value (PBV) 2,1 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata sektor. Di satu sisi, risiko eksekusi dan kebutuhan belanja modal masih membayangi, namun di sisi lain, dukungan regulasi dan kontrak jangka panjang dengan offtaker kredibel menjadi fondasi kuat. Dengan proyeksi pendapatan bisa melonjak hingga 40% pasca smelter beroperasi, AMMN layak masuk radar investor jangka panjang.

2. TSPC: Joint Venture Biofarmasi, Ekspansi ke Segmen Bernilai Tinggi

PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC) menjalin kerja sama pendirian perusahaan patungan (joint venture) di bidang biofarmasi bersama mitra global. Langkah ini menjadi diversifikasi strategis bagi TSPC dari lini bisnis utama obat-obatan bebas ke produk bioteknologi bernilai tinggi. Joint venture tersebut akan fokus pada pengembangan obat berbasis biologi, termasuk terapi sel dan gen, dengan total investasi mencapai Rp500 miliar. Secara fundamental, TSPC memiliki neraca yang sehat dengan rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) di bawah 0,4 kali dan tingkat pengembalian ekuitas (ROE) stabil di kisaran 14%. Meski kontribusi pendapatan dari bisnis baru ini belum signifikan dalam 1-2 tahun ke depan, sentimen pertumbuhan jangka panjang dinilai menarik. Di sisi lain, potensi perlambatan konsumsi domestik dapat menekan penjualan produk inti consumer health. Namun, valuasi saham TSPC yang kini berada pada PER 18 kali dianggap masih wajar seiring ekspektasi ekspansi margin dari lini bisnis berteknologi tinggi.

3. DCII: Pendapatan Tumbuh Pesat, Didukung Ekosistem Digital

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) membukukan pencapaian pendapatan sebesar Rp1,78 triliun pada semester I tahun ini, tumbuh 28% secara tahunan (year-on-year). Kinerja tersebut didorong oleh peningkatan permintaan layanan data center dan solusi digital seiring akselerasi transformasi digital di Indonesia. DCII mengoperasikan fasilitas data center hyperscale yang menjadi tulang punggung bagi perusahaan teknologi global maupun lokal. Dari sisi fundamental, perseroan mencatatkan EBITDA margin sebesar 55% dan utilitas kapasitas di atas 85%. Valuasi saham DCII yang cenderung premium dengan EV/EBITDA di atas 25 kali memang menjadi perdebatan: di satu sisi, pertumbuhan pendapatan yang tinggi dan potensi penambahan kapasitas baru dapat menjustifikasi valuasi; di sisi lain, risiko persaingan industri data center yang kian ketat perlu diwaspadai. Namun, dengan prospek belanja teknologi dan komputasi awan yang terus meningkat, DCII tetap menjadi pilihan bagi investor yang mencari pertumbuhan.

4. TLKM: Infrastruktur Digital dan Monetisasi 5G

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi saham defensif yang patut dipertimbangkan di tengah volatilitas pasar. Perseroan baru-baru ini meluncurkan layanan 5G komersial di beberapa kota besar dan tengah memperluas infrastruktur fiber optik ke wilayah timur Indonesia. Dengan basis pelanggan seluler lebih dari 170 juta nomor dan pangsa pasar tetap dominan, Telkomsel sebagai anak usaha tetap menghasilkan arus kas stabil. Pendapatan konsolidasian semester I diproyeksikan tumbuh 4,5% YoY, ditopang oleh segmen data dan digital. Risiko tekanan dari penurunan pendapatan legacy (SMS dan suara) sudah tertransisi dengan baik ke layanan data. Valuasi PER 19 kali masih di bawah rata-rata historis lima tahunnya, memberi ruang apresiasi. Di sisi lain, sentimen negatif dari potensi divestasi aset non-inti dan persaingan dari pemain OTT masih menjadi perhatian. Namun, bagi investor yang mengutamakan dividen, dividend yield TLKM yang stabil di kisaran 3,5% menjadi daya tarik tambahan.

5. ADRO: Transisi Energi dan Fundamental Solid

PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) menawarkan peluang di tengah tren transisi energi. Perseroan telah mengumumkan diversifikasi ke bisnis energi hijau, termasuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan smelter aluminium rendah karbon. Pada saat yang sama, bisnis batubara termal masih menjadi sumber pendapatan utama dengan margin operasional di atas 30% berkat efisiensi operasional dan harga jual rata-rata yang stabil di level USD85 per ton. Kinerja keuangan ADRO menunjukkan kas bersih yang solid dengan rasio utang minimum, sehingga memberikan fleksibilitas tinggi untuk berinvestasi pada proyek baru. Di satu sisi, risiko penurunan harga batubara global akibat perlambatan ekonomi China masih membayangi, namun di sisi lain, transisi hijau yang dilakukan ADRO dapat membuka valuasi baru di masa depan. Saat ini, saham ADRO diperdagangkan pada PER 7 kali dengan dividend yield di atas 6%, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari nilai dan pendapatan rutin.

Secara keseluruhan, pelemahan IHSG akibat sentimen eksternal justru bisa menjadi peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham dengan fundamental kuat dan katalis positif spesifik. Namun, perlu dicermati bahwa risiko pasar tetap tinggi, sehingga strategi diversifikasi dan pemahaman terhadap profil risiko masing-masing emiten sangat krusial. Dengan memilih saham yang memiliki narasi pertumbuhan jelas—seperti hilirisasi, digitalisasi, atau transisi energi—portofolio dapat lebih resilien di tengah ketidakpastian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User