Lima Peristiwa Bersejarah Indonesia dan Dunia

Sejarah mencatat berbagai peristiwa besar yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia dan dunia. Dari percobaan pembunuhan seorang presiden hingga aneksasi wilayah, kisah-kisah ini sering kali terlupak...

Lima Peristiwa Bersejarah Indonesia dan Dunia

Sejarah mencatat berbagai peristiwa besar yang membentuk perjalanan bangsa Indonesia dan dunia. Dari percobaan pembunuhan seorang presiden hingga aneksasi wilayah, kisah-kisah ini sering kali terlupakan namun sarat akan pelajaran. Berikut lima peristiwa bersejarah yang penuh drama dan kontroversi.

1. Presiden RI Nyaris Ditembak Saat Salat Iduladha

Pada 10 Zulhijah 1381 Hijriah atau bertepatan dengan 14 Mei 1962, suasana khusyuk salat Idul Adha di Istana Merdeka, Jakarta, tiba-tiba berubah mencekam. Saat ribuan jemaah sedang mengikuti salat yang diimami langsung oleh Presiden Sukarno, seorang pria di barisan belakang melepaskan tembakan ke arah sang proklamator.

Pelaku diketahui bernama Syarif Usman, anggota gerakan Darul Islam pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo. Beruntung, tembakan meleset, dan petugas keamanan dengan sigap melumpuhkan penyerang. Peristiwa ini menjadi salah satu percobaan pembunuhan paling berani terhadap kepala negara Indonesia.

Pasca-kejadian, pengamanan terhadap Presiden Sukarno semakin diperketat. Syarif Usman sendiri diadili dan dijatuhi hukuman mati. Insiden ini sekaligus menunjukkan betapa gentingnya ancaman terhadap keutuhan negara dari kelompok separatis bersenjata.

2. Percobaan Kudeta di Arab Saudi: Masjidil Haram Lumpuh dan Jemaah Disandera

Pada 20 November 1979, bertepatan dengan tahun baru Islam 1400 H, dunia dikejutkan oleh aksi teror di tempat tersuci umat Islam. Sekelompok militan yang dipimpin Juhayman al-Otaybi menyusup ke dalam kompleks Masjidil Haram di Makkah dan menyandera ribuan jemaah yang sedang beribadah.

Mereka menutup seluruh pintu masjid, memproklamirkan kemunculan Imam Mahdi, dan menyerukan penggulingan pemerintah Saudi yang dianggap korup. Selama dua pekan, kawasan suci itu berubah menjadi medan pertempuran berdarah.

Pasukan keamanan Saudi, dengan bantuan teknis dari pasukan khusus Prancis, akhirnya berhasil merebut kembali masjid setelah pertempuran sengit yang menewaskan ratusan orang, termasuk para sandera. Peristiwa ini mengguncang dunia Islam dan mengubah kebijakan keamanan dalam negeri Arab Saudi secara radikal.

3. Menteri RI Dapat Fasilitas Haji Mewah Bak Raja di Arab Saudi

Di tengah hubungan diplomatik yang erat antara Indonesia dan Arab Saudi pada era 1950-an, terselip kisah seorang menteri yang mendapat perlakuan istimewa. Konon, Raja Saud bin Abdulaziz sangat mengagumi kecerdasan seorang menteri asal Indonesia sehingga mengundangnya menunaikan ibadah haji dengan fasilitas bak raja.

Menteri tersebut dijemput langsung dengan mobil kerajaan, menginap di suite mewah di dekat Masjidil Haram, dan didampingi pelayan pribadi selama beribadah. Cerita ini sering dihubungkan dengan Menteri Agama atau diplomat ulung yang piawai bernegosiasi dan menguasai banyak bahasa.

Meski tak banyak catatan resmi, kisah ini menjadi simbol pengakuan dunia atas kualitas sumber daya manusia Indonesia di kancah global, sekaligus menunjukkan betapa lunaknya diplomasi haji zaman itu.

4. Bos Pajak Mendadak Datangi Rumah Presiden RI Bawa Meteran, Untuk Apa?

Suatu hari di awal 1960-an, Direktur Jenderal Pajak bersama beberapa petugas mendatangi kediaman Presiden Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Bukan untuk audiensi biasa, mereka datang dengan membawa meteran dan alat ukur.

Rupanya, ada laporan bahwa sang presiden tinggal di rumah yang terlalu besar dan mewah sehingga dianggap tidak sebanding dengan gaji yang diterima. Untuk memastikan kebenaran informasi, Dirjen Pajak langsung turun tangan mengukur sendiri luas bangunan dan tanah.

Hasilnya mengejutkan: rumah tersebut ternyata milik seorang pengusaha dan hanya disewa oleh Sukarno. Ukurannya pun sederhana, jauh dari kesan istana. Kejadian ini menunjukkan betapa ketatnya pengawasan pajak pada masa itu, bahkan presiden pun tidak luput dari pembuktian.

5. Warga Malaysia Pilih Ikut RI, Janji Setia Cinta Tanah Air

Sekitar delapan dekade silam, tepatnya pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945, konsep “Indonesia Raya” sempat menjadi wacana pemersatu bangsa serumpun di Asia Tenggara. Gagasan ini menginginkan peleburan Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina bagian selatan ke dalam satu kedaulatan Republik Indonesia.

Di Semenanjung Malaya, sejumlah tokoh dan warga setempat secara terang-terangan menyatakan sumpah setia untuk bergabung dengan Indonesia. Gerakan ini dipelopori oleh Ibrahim Yaacob dan kawan-kawan, yang memandang bahwa ikatan sejarah dan budaya Melayu lebih kuat ke arah Jakarta daripada ke London.

Meski akhirnya batal karena faktor politik internasional dan lahirnya Federasi Malaysia pada 1963, episode ini meninggalkan jejak persaudaraan abadi. Hingga kini, kenangan akan semangat penyatuan itu masih hidup di kalangan pejuang nasionalis kedua negara.

Lima peristiwa di atas menunjukkan bahwa sejarah sering kali menyimpan cerita-cerita yang tidak terduga. Mulai dari percobaan pembunuhan presiden, teror di tanah suci, keistimewaan diplomasi, hingga integritas pajak dan mimpi penyatuan bangsa serumpun. Semua menjadi mozaik yang membentuk wajah Indonesia dan dunia seperti saat ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User