Lahan Pertanian Terancam Kering, Petani Tasikmalaya Didesak Buat Biopori

Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kekeringan kembali menghantui ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Tasikmalaya. Penurunan curah hujan yang drastis selama beberapa pekan terakhir membuat ...

Memasuki puncak musim kemarau, ancaman kekeringan kembali menghantui ribuan hektare lahan pertanian di Kabupaten Tasikmalaya. Penurunan curah hujan yang drastis selama beberapa pekan terakhir membuat petani di sejumlah kecamatan mulai cemas akan potensi gagal panen. Sebagai langkah antisipasi, otoritas pertanian setempat kini mendorong penerapan teknik biopori—lubang resapan air berbasis sampah organik—yang dinilai efektif menjaga kelembapan tanah dan mengurangi dampak buruk kemarau panjang.

Kondisi Kekeringan dan Dampaknya

Berdasarkan pemantauan di lapangan, kurang lebih 3.200 hektare lahan sawah tadah hujan di wilayah selatan Tasikmalaya sudah menunjukkan gejala kekeringan. Retakan pada permukaan tanah mulai tampak, sementara tanaman padi yang baru memasuki fase vegetatif terancam mati jika tidak segera mendapat suplai air. Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur, Warsono, mengungkapkan bahwa pola tanam tahun ini sangat bergantung pada sisa air embung dan aliran sungai yang debitnya terus menyusut. "Jika hujan tidak turun dalam dua minggu ke depan, kami perkirakan 30–40 persen dari total lahan yang ada akan mengalami gagal panen. Ini bukan hanya soal kerugian materi, tapi juga mengancam ketahanan pangan di tingkat lokal," ujarnya.

Di sisi lain, pengalaman tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa petani cenderung menunggu uluran tangan bantuan air melalui program distribusi pompa yang seringkali datang terlambat. Ketergantungan pada solusi reaktif inilah yang kini coba diubah dengan mengenalkan biopori sebagai solusi preventif yang mudah, murah, dan dapat dikerjakan secara mandiri oleh petani.

Apa Itu Biopori dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Biopori adalah lubang silindris berdiameter 10–30 sentimeter dengan kedalaman 80–100 sentimeter yang dibuat di lahan pertanian atau pekarangan. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah organik seperti sisa daun, jerami, atau kompos. Prinsip kerjanya sederhana: material organik akan mengundang mikroorganisme dan cacing tanah yang menciptakan rongga-rongga kecil (pori-pori) di sekitar lubang, sehingga saat hujan tiba—meskipun dalam intensitas rendah—air dapat meresap lebih cepat ke dalam tanah dan tersimpan sebagai cadangan air tanah. Selain itu, aktivitas biologi di dalam lubang memperbaiki struktur tanah, membuatnya lebih gembur dan kaya unsur hara.

Teknologi ini sebenarnya bukan hal baru, namun kesadaran untuk menerapkannya secara masif di area pertanian baru mengemuka seiring meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem. Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Manonjaya mencatat bahwa lahan yang dipasangi biopori di musim penghujan lalu memiliki tingkat kelembapan 25–35 persen lebih tinggi saat memasuki kemarau dibandingkan lahan tanpa biopori. "Lubang resapan ini ibarat tabungan air. Petani hanya butuh alat sederhana berupa linggis atau bor tanah, ditambah sedikit tenaga, dan rutin mengisi lubang dengan daun kering yang sangat melimpah," jelas penyuluh pertanian setempat, Siti Rohmah.

Respon Petani dan Tantangan di Lapangan

Meskipun secara teoretis menjanjikan, tidak semua petani menyambut ajakan ini tanpa ragu. Sebagian menganggap biopori hanya cocok diterapkan di areal perkotaan untuk mengatasi genangan, bukan di lahan pertanian luas. Mesra, petani padi dari Desa Margahayu, merasa skeptis karena ia terbiasa mengandalkan irigasi teknis yang kini debitnya menurun drastis. "Membuat puluhan lubang di petak sawah saya yang seluas satu hektare itu pekerjaan besar. Belum ada jaminan hasilnya akan benar-benar bisa menyelamatkan padi saya," katanya.

Namun, tidak sedikit pula petani progresif yang mulai melakukan uji coba. Kelompok Tani Sinar Tani di Kecamatan Ciawi telah memasang 12 titik biopori di hamparan seluas setengah hektare sebagai percontohan. Mereka memanfaatkan limbah jerami pasca panen sebagai bahan pengisi dan melaporkan pertumbuhan akar tanaman yang lebih baik pada lahan uji coba. "Awalnya memang ragu, tapi setelah kami lihat tanah di sekitar lubang tetap basah meski matahari terik seharian, kami jadi optimistis. Sekarang kami dorong seluruh anggota untuk membuat minimal 10 lubang per petak," ujar ketua kelompok, Dede Supriadi.

Tantangan terbesar bukan hanya pada pembuatan awal, melainkan pada konsistensi perawatan. Lubang biopori perlu diisi ulang setiap kali volume sampah organik di dalamnya menyusut—biasanya setiap 4–6 minggu. Jika petani lalai, lubang hanya akan menjadi kolam kecil yang cepat kering dan tidak berfungsi maksimal. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan sekarang adalah membangun kebiasaan kolektif: menjadwalkan pengisian lubang bersamaan dengan kegiatan gotong royong pembersihan saluran air.

Dukungan Pemerintah dan Harapan ke Depan

Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui Dinas Pertanian telah mengalokasikan bantuan bor biopori untuk 40 kelompok tani di delapan kecamatan rawan kekeringan. Bantuan ini disertai pelatihan singkat tentang teknik pemasangan dan pemilihan lokasi strategis agar daya resapnya optimal. Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian, Dadang Hermawan, menyatakan bahwa program ini diharapkan tidak berhenti pada musim kemarau saja. "Biopori adalah investasi jangka panjang. Kalau musim hujan kembali, lubang-lubang ini akan membantu mengurangi limpasan air yang sering menyebabkan erosi dan banjir di sawah. Jadi sifatnya dua arah," jelasnya.

Dari sisi kebijakan, penyuluh lapangan juga mulai mengintegrasikan anjuran biopori ke dalam program ‘Sekolah Lapang Iklim’ yang mengedukasi petani tentang adaptasi perubahan iklim. Dengan begitu, pemahaman bahwa setiap petani bisa menjadi bagian dari solusi—bukan sekadar penerima bantuan—diharapkan mengakar kuat. Apalagi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memproyeksikan bahwa fenomena El Nino masih akan memperpanjang durasi kemarau tahun ini, menjadikan upaya konservasi air skala mikro seperti biopori bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keniscayaan.

Kombinasi antara kesadaran petani yang tumbuh, dukungan teknis dari penyuluh, serta konsistensi perawatan akan menentukan apakah ribuan hektare lahan di Tasikmalaya bisa diselamatkan dari ancaman gagal panen. Setiap lubang biopori yang dibuat adalah sebuah langkah kecil menuju ketahanan pangan yang lebih tangguh di tengah ketidakpastian iklim yang kian nyata.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User