BPBD Sumedang Berhasil Padamkan Kebakaran Lahan di Dua Kompleks Perumahan
Kebakaran lahan yang terjadi di dua kawasan perumahan di Kabupaten Sumedang pada Sabtu, 15 Juni 2025, berhasil dipadamkan setelah penanganan intensif oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) se...
Kebakaran lahan yang terjadi di dua kawasan perumahan di Kabupaten Sumedang pada Sabtu, 15 Juni 2025, berhasil dipadamkan setelah penanganan intensif oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat. Peristiwa yang terjadi di Perumahan Bumi Sumedang Asri, Kecamatan Sumedang Utara, dan Perumahan Griya Cimanggung, Kecamatan Cimanggung ini sempat menimbulkan kepanikan warga akibat kobaran api yang menjalar cepat di tengah musim kemarau.
Laporan pertama diterima oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Sumedang sekitar pukul 12.30 WIB. Tim reaksi cepat yang sudah bersiaga langsung meluncur ke lokasi dengan estimasi tiba dalam waktu kurang dari 30 menit. “Begitu laporan masuk, kami langsung kerahkan seluruh personel dan armada yang ada. Kondisi lahan sangat kering, jadi api cepat membesar dan berpotensi mengancam permukiman warga yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari titik awal api,” ujar Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Sumedang, Budi Santoso, di sela pemadaman.
Kronologi dan Strategi Pemadaman
Berdasarkan keterangan saksi mata, titik api pertama kali terlihat di lahan terbuka di belakang Blok D Perumahan Bumi Sumedang Asri. Hembusan angin kencang langsung menerbangkan bara api ke semak-semak di sekitarnya, sehingga dalam waktu singkat api sudah merambat ke arah perumahan kedua di Cimanggung. “Saya langsung teriak-teriak minta tolong. Waktu itu api benar-benar dekat, cuma sepelemparan batu dari dapur rumah saya. Anak-anak saya suruh mengungsi dulu,” tutur Rina Marlina (38), warga Blok D yang rumahnya nyaris terdampak.
Petugas BPBD yang tiba di lokasi segera memetakan titik api dan membagi tim menjadi dua sektor. Sektor utara difokuskan melindungi Perumahan Bumi Sumedang Asri dengan mengerahkan 2 unit mobil pemadam dan 1 unit truk tangki air untuk menciptakan sekat basah (water barrier) di batas lahan. Sementara sektor selatan yang lebih sulit dijangkau karena kontur berbukit, personel gabungan dari TNI, Polri, dan relawan melakukan pemadaman manual menggunakan pompa jinjing, jet shooter, dan peralatan tradisional seperti ranting yang dicelupkan ke ember air. Total kekuatan personel yang dikerahkan mencapai 45 orang dengan dukungan 4 armada pemadam besar serta 2 truk suplai air dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sumedang.
Proses pemadaman berlangsung sangat dinamis. Beberapa kali angin berubah arah, memaksa tim untuk mundur dan mengubah posisi penyemprotan. “Kami sempat kewalahan saat angin menghembuskan api ke arah rumah warga. Tapi berkat koordinasi yang rapi antara tim darat dan personel yang memantau dari titik tinggi, kami bisa mengalihkan fokus penyemprotan ke titik genting dan akhirnya api terisolasi,” jelas Budi Santoso. Setelah lebih dari tiga jam berjibaku, api berhasil dinyatakan padam total pada pukul 16.00 WIB. Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 1,5 hektare yang didominasi vegetasi semak belukar, alang-alang, dan beberapa pohon pisang milik warga.
Tidak Ada Korban Jiwa, Tapi Kerugian Ekologis Patut Diwaspadai
Meski tidak menelan korban jiwa atau kerusakan bangunan permanen, kebakaran ini tetap meninggalkan dampak serius dari sisi lingkungan. Asap tebal yang dihasilkan sempat menyelimuti dua perumahan tersebut selama hampir dua jam, memicu keluhan gangguan pernapasan ringan dari sejumlah lansia dan anak-anak. Petugas medis dari Puskesmas setempat langsung mendirikan posko kesehatan darurat untuk memeriksa warga yang terpapar asap. “Kami mendapat laporan sekitar 15 warga mengeluh sesak napas ringan dan iritasi mata. Semua sudah kami tangani dan kondisinya membaik. Tidak ada yang perlu dirujuk ke rumah sakit,” ujar Koordinator Tim Medis Lapangan, dr. Anita Rahmawati.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumedang, Dewi Kusumawardhani, menyayangkan musnahnya vegetasi alami yang berfungsi sebagai penahan erosi dan habitat satwa kecil. “Kebakaran lahan seperti ini kalau terus berulang akan merusak ekosistem lokal. Kami akan berkoordinasi dengan BPBD dan dinas terkait untuk melakukan penghijauan kembali setelah musim hujan tiba. Saat ini kami fokus dulu pada inventarisasi kerusakan dan pendampingan warga yang tanamannya ikut terbakar,” kata Dewi. Secara material, kerugian ditaksir mencapai Rp75 juta yang berasal dari hangusnya tanaman keras warga serta biaya operasional pemadaman.
Dukungan Multi-Pihak Jadi Kunci Keberhasilan
Keberhasilan pemadaman yang cepat dan tanpa jatuhnya korban jiwa ini tidak lepas dari dukungan banyak pihak. Selain BPBD, unsur TNI, Polri, relawan Tagana, PMI, hingga komunitas pecinta alam setempat bahu-membahu di lapangan. “Ini adalah bukti nyata bahwa sinergitas lintas sektor sangat diperlukan dalam penanggulangan bencana. Saya apresiasi seluruh pihak yang terlibat,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Barat yang turut memantau via telekonferensi. Sementara itu, Kabag Ops Polres Sumedang, Kompol Andi Lala, menegaskan akan menyelidiki penyebab kebakaran. “Dugaan sementara karena kelalaian manusia, seperti membuang puntung rokok atau membakar sampah sembarangan. Kami akan periksa beberapa saksi dan jika ditemukan unsur kesengajaan, akan kami proses secara hukum,” tegasnya.
Warga Griya Cimanggung yang sempat ketakutan kini bisa bernapas lega. Beberapa di antaranya bahkan ikut membantu proses pendinginan dengan menyiramkan air selang dan ember ke titik-titik yang masih mengeluarkan asap. “Tadi kami panik, tapi setelah lihat petugas datang banyak, hati jadi tenang. Alhamdulillah rumah aman. Terima kasih buat semuanya,” ucap Asep Hidayat (52), warga setempat yang rumahnya hanya terpaut 30 meter dari lahan terbakar.
Imbauan dan Langkah Antisipatif ke Depan
Musim kemarau yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga September mendatang membuat BPBD Sumedang meningkatkan status kewaspadaan. Plt Kepala BPBD, Budi Santoso, kembali mengimbau agar seluruh masyarakat tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. “Kami mohon dengan sangat, jangan bakar sampah, jangan buang puntung rokok sembarangan, dan laporkan segera jika melihat titik api sekecil apa pun. Kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga bagi kita semua,” pintanya.
Dalam waktu dekat, BPBD bersama pemerintah kecamatan akan meningkatkan intensitas patroli rutin, khususnya di kawasan perumahan yang berbatasan langsung dengan lahan terbuka. Pemasangan spanduk peringatan, penyebaran selebaran, serta sosialisasi keliling menggunakan pengeras suara akan digencarkan. Selain itu, posko pemadam di setiap desa akan diperkuat dengan peralatan sederhana seperti pompa air portable dan selang cadangan agar respons awal dari masyarakat bisa lebih cepat. “Kami juga akan mengaktifkan kembali satgas lingkungan di tingkat RW. Pencegahan jauh lebih baik daripada pemadaman. Semoga ini kebakaran lahan terakhir di Sumedang pada musim kemarau ini,” tutup Budi.
Kejadian ini sekaligus menegaskan pentingnya kesiapsiagaan dan kolaborasi. Dengan armada yang memadai, personel yang terlatih, serta partisipasi aktif masyarakat, ancaman bencana kebakaran lahan di Sumedang dapat diminimalisir. Seluruh pihak berharap cuaca ekstrem kering yang melanda segera berlalu dan hujan kembali membasahi bumi Sumedang.
Baca juga:
Comments (0)