Latar Belakang dan Karier Politik

<h1>Profil dan Review Bupati Kulon Progo Sutedjo</h1> <img src="https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/9/9a/Sutedjo_2016_%28cropped%29.jpg/220px-Sutedjo_2016_%28cropped%29.jpg" alt="Bupati Sutedjo" style="float:left; margin-right:20px;

Profil dan Review Bupati Kulon Progo Sutedjo

Bupati Sutedjo

Sutedjo adalah Bupati Kulon Progo yang menjabat selama dua periode, yaitu 2011–2016 dan 2016–2021. Ia lahir di Kulon Progo, 15 Maret 1963, dan dikenal sebagai birokrat yang naik daun melalui jalur karier pemerintahan daerah sebelum terjun ke politik praktis. Sutedjo diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan berhasil memenangi dua pemilihan langsung secara berturut-turut. Namanya melekat erat dengan transformasi besar-besaran di wilayah perbukitan Menoreh itu, terutama setelah hadirnya proyek strategis nasional Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).

Latar Belakang dan Karier Politik

Sutedjo menempuh pendidikan sarjana di bidang hukum dan kemudian mengabdi sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Pria yang akrab disapa “Pak Tejo” ini pernah menduduki berbagai jabatan strategis, antara lain Kepala Bagian Hukum Setda, Asisten Pemerintahan, hingga Sekretaris Daerah (Sekda) Kulon Progo. Pada 2011, ia memutuskan pensiun dini dari PNS untuk maju sebagai calon bupati berpasangan dengan dr. Hasto Wardoyo (kini Kepala BKKBN). Pasangan ini menang dengan perolehan suara dominan dan dilantik pada 17 Oktober 2011. Lima tahun kemudian, Sutedjo kembali terpilih sebagai bupati dengan wakil baru, Fajar Gegana, setelah Hasto Wardoyo maju sebagai calon wakil wali kota Yogyakarta. Di internal partai, Sutedjo merupakan kader senior PDIP yang cukup disegani. Pengalamannya sebagai birokrat membuatnya memahami seluk-beluk birokrasi Kulon Progo, sehingga ia mampu menerjemahkan visi partai ke dalam kebijakan teknis yang aplikatif.

Kebijakan dan Pencapaian Penting

1. Pembangunan Bandara YIA dan Kawasan Ekonomi Khusus
Pencapaian paling monumental sekaligus paling kontroversial dari pemerintahan Sutedjo adalah realisasi Bandara Internasional Yogyakarta di Kecamatan Temon. Bersama pemerintah pusat dan Pemda DIY, Sutedjo berhasil mempercepat pembebasan lahan seluas lebih dari 600 hektare yang sempat diwarnai penolakan keras dari warga. Bandara ini mulai beroperasi penuh pada 2020 dan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru: muncul ribuan lapangan kerja langsung dan tidak langsung, nilai investasi meroket hingga lebih dari Rp10 triliun, serta menyulap Temon dan sekitarnya menjadi pusat bisnis baru. Tak heran, Kulon Progo kemudian ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) “Yogyakarta Aerotropolis” yang kini terus berkembang.

2. Pengentasan Kemiskinan dan Bela Beli Kulon Progo
Sutedjo juga serius menjalankan program penurunan angka kemiskinan. Ia menggalakkan gerakan “Bela Beli Kulon Progo” yang mewajibkan ASN, BUMD, dan masyarakat berbelanja produk lokal, terutama dari UMKM. Data BPS menunjukkan angka kemiskinan di Kulon Progo turun dari 24,5% pada 2011 menjadi 17,3% pada 2020—meskipun masih di atas rata-rata DIY (sekitar 12%). Di sektor pertanian, ia merevitalisasi sistem irigasi dan memperkuat lumbung pangan desa untuk menjaga ketahanan pangan. Program lain yang menonjol adalah jaminan kesehatan semesta melalui Universal Health Coverage (UHC) yang terintegrasi dengan BPJS, membuat lebih dari 95% warga memiliki akses layanan kesehatan gratis di puskesmas dan rumah sakit daerah.

Kontroversi dan Tantangan Pemerintahan

Pemerintahan Sutedjo tak lepas dari kritik dan polemik. Yang paling keras adalah perlawanan warga terdampak pembangunan bandara YIA. Ratusan keluarga petani penggarap lahan Sultan Ground dan Paku Alam Ground menolak relokasi karena nilai ganti rugi yang dinilai tidak adil. Protes berlangsung bertahun-tahun, bahkan sebagian warga mendirikan tenda-tenda penolakan dan menolak pindah hingga akhir 2019. Selain itu, meskipun bandara mendongkrak pertumbuhan ekonomi, masyarakat lokal di sekitar bandara justru menghadapi dampak sosial seperti hilangnya lahan pertanian produktif, kenaikan harga tanah yang mencekik warga asli yang ingin membeli rumah, serta konflik agraria yang belum sepenuhnya tuntas. Di akhir masa jabatannya, Sutedjo juga dikritik belum mampu menekan angka kemiskinan secara lebih agresif, serta masih minimnya infrastruktur pendukung di luar kawasan bandara.

Penilaian Publik dan Prospek Masa Depan

Secara objektif, Sutedjo adalah bupati yang berhasil membawa Kulon Progo melompat dari kabupaten agraris yang tertinggal menjadi wilayah dengan etalase pertumbuhan ekonomi spektakuler berkat kehadiran YIA. Pada 2019, ekonomi Kulon Progo tumbuh di atas 10%, jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional. Namun capaian ini belum sepenuhnya berkeadilan—kesenjangan antara kawasan bandara dan desa-desa di perbukitan utara masih lebar, dan petani penggarap masih mendominasi wajah kemiskinan setempat. Setelah tidak menjabat sebagai bupati pada 2021, nama Sutedjo tetap diperhitungkan dalam bursa politik DIY. Ia disebut-sebut sebagai salah satu kandidat potensial dalam pemilihan gubernur atau jabatan publik lain di tingkat provinsi. Dengan pengalaman panjang sebagai birokrat dan politikus, serta loyalitasnya kepada PDIP, Sutedjo diperkirakan masih akan meramaikan panggung politik Yogyakarta di tahun-tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User