Oct 09, 2026
Bisnis

Komisi XI DPR Tetapkan Dua Calon Anggota BPK Periode 2026-2031

Berdasarkan hasil rapat pleno Komisi XI DPR RI, dua nama resmi ditetapkan sebagai calon Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI untuk masa jabatan 2026-2031, yakni Nyoman Adhi Suryadnyana dan Khaidi...

Komisi XI DPR Tetapkan Dua Calon Anggota BPK Periode 2026-2031

Berdasarkan hasil rapat pleno Komisi XI DPR RI, dua nama resmi ditetapkan sebagai calon Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI untuk masa jabatan 2026-2031, yakni Nyoman Adhi Suryadnyana dan Khaidir Abdurrahman. Penetapan ini menandai tahapan penting dalam siklus kelembagaan audit negara, mengingat BPK memegang mandat konstitusional untuk memeriksa pengelolaan keuangan negara yang pada 2025 mencapai belanja APBN sekitar Rp3.621 triliun, atau mengalami kenaikan year-on-year dibanding realisasi 2024.

Bagi pembaca awam, BPK adalah lembaga negara yang bertugas mengaudit penggunaan uang publik, mulai dari APBN, APBD, hingga badan usaha milik negara. Hasil auditnya menjadi dasar DPR dan pemerintah menilai akuntabilitas fiskal. Karena itu, kualitas personal anggota BPK menjadi variabel fundamental dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap tata kelola keuangan negara.

Profil dan Rekam Jejak Kedua Kandidat

Nyoman Adhi Suryadnyana dikenal sebagai auditor internal yang lama berkecimpung di lingkungan pemeriksaan keuangan negara. Rekam jejaknya mencakup penanganan audit atas sejumlah kementerian dan lembaga dengan temuan yang berujung pada penyempurnaan sistem pengendalian internal. Sementara Khaidir Abdurrahman memiliki latar belakang akuntansi sektor publik dan pengalaman mendampingi proses pemeriksaan laporan keuangan daerah.

Di satu sisi, komposisi keduanya dinilai mencerminkan kesinambungan keahlian teknis, terutama di tengah meningkatnya kompleksitas instrumen fiskal seperti pembiayaan kreatif, obligasi daerah, dan belanja subsidi energi. Pengalaman teknis tersebut relevan untuk menekan risiko kebocoran anggaran yang setiap tahunnya masih menjadi sorotan.

Di sisi lain, sejumlah kalangan mempertanyakan sejauh mana kedua kandidat mampu mendorong transparansi yang lebih agresif, terutama dalam mengungkap temuan bernilai besar yang melibatkan aktor politik. Kritik yang kerap muncul adalah bahwa laporan hasil pemeriksaan (LHP) belum selalu ditindaklanjuti secara tuntas oleh entitas yang diaudit.

Implikasi terhadap Kredibilitas Fiskal dan Sentimen Pasar

Dari kacamata pasar, kredibilitas lembaga audit berkorelasi dengan persepsi risiko investasi. Indeks persepsi korupsi dan yield surat berharga negara (SBN) sering menjadi cermin bagaimana investor menilai tata kelola. Ketika lembaga audit dianggap independen dan kompeten, capital outflow cenderung lebih terkendali karena investor merasa ada mekanisme kontrol atas penggunaan dana publik.

Data Kementerian Keuangan menunjukkan rasio utang terhadap PDB berada di kisaran 39-40 persen, level yang masih moderat secara global, namun memerlukan pengawasan berlapis. Di titik inilah peran BPK menjadi penting: memastikan setiap rupiah pinjaman dan belanja negara dialokasikan secara efisien. Likuiditas pasar keuangan juga sensitif terhadap sinyal tata kelola, terutama menjelang siklus pelaporan audit tahunan.

"Kualitas anggota BPK menentukan seberapa dalam audit negara mampu menangkap risiko fiskal yang tidak terlihat di permukaan," ujar seorang pengamat kebijakan fiskal, menggambarkan pentingnya kapasitas teknis di tubuh lembaga pemeriksa.

Pro: penetapan dua figur berpengalaman memberi stabilitas dan kesinambungan metodologi audit. Kontra: tanpa terobosan transparansi, ruang perbaikan tata kelola bisa jalan di tempat, dan valuasi risiko fiskal tetap tinggi di mata investor.

Tantangan Ke Depan dan Proyeksi Pengawasan

Ke depan, keduanya dihadapkan pada tren digitalisasi keuangan negara. Sistem informasi perbendaharaan dan belanja pemerintah berbasis digital membutuhkan kompetensi audit data yang mumpuni. Proyeksi ke 2026-2031, volume transaksi keuangan negara diperkirakan terus tumbuh seiring perluasan program prioritas dan transfer ke daerah yang nilainya menembus Rp800 triliun lebih.

Rasio temuan yang tidak ditindaklanjuti menjadi indikator kunci yang perlu ditekan. Portofolio audit yang luas, mulai dari pemerintah pusat hingga BUMD, menuntut prioritas berbasis risiko. Tanpa itu, sumber daya pemeriksa bisa tersebar dan berdampak pada kualitas simpulan audit.

Secara fundamental, penetapan anggota BPK bukan sekadar urusan internal parlemen, melainkan sinyal ke pasar mengenai arah disiplin fiskal Indonesia. Sentimen positif akan muncul bila publik melihat komitmen penguatan akuntabilitas, bukan sekadar pergantian personel. Dengan demikian, rekam jejak kedua kandidat menjadi modal awal yang harus dibuktikan melalui kinerja nyata, bukan sekadar janji perbaikan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User