Oct 14, 2026
Bisnis

Ketua LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial bagi Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per kuartal terakhir, tingkat simpanan masyarakat di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan year-on-year mencapai kisaran...

Ketua LPS Berbagi Strategi Ketangguhan Finansial bagi Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) per kuartal terakhir, tingkat simpanan masyarakat di perbankan nasional terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan year-on-year mencapai kisaran 8-9 persen. Angka ini mencerminkan kepercayaan publik yang masih solid terhadap sistem keuangan, meski tantangan global seperti ketidakpastian suku bunga dan capital outflow masih membayangi. Di tengah dinamika tersebut, edukasi literasi keuangan bagi generasi muda menjadi kunci fundamental untuk menjaga stabilitas jangka panjang.

Pentingnya Ketangguhan di Tengah Gejolak Ekonomi

Dalam sebuah forum finansial di Lampung, Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu, menekankan bahwa ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi menjadi modal utama bagi anak muda dalam menghadapi volatilitas pasar. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan gelar akademik, tetapi perlu membangun portofolio keterampilan yang beragam. "Krisis itu bukan untuk ditakuti, tetapi untuk dipelajari polanya. Mereka yang bertahan adalah yang mau terus belajar dan bekerja keras," ujarnya dalam sesi berbagi inspirasi tersebut.

Pernyataan ini sejalan dengan data historis di mana setiap siklus krisis ekonomi, mulai dari 1998 hingga pandemi 2020, selalu melahirkan peluang baru bagi mereka yang mampu membaca sentimen pasar dengan cermat. Indeks literasi keuangan nasional memang mengalami kenaikan, namun masih terdapat gap signifikan antara pemahaman konsep dan praktik investasi riil di kalangan usia produktif.

Pro: Optimisme pada Bonus Demografi dan Inklusi Keuangan

Di satu sisi, momentum bonus demografi yang mencapai puncak pada dekade ini memberikan fondasi kuat. Berdasarkan data OJK, rasio inklusi keuangan telah menembus 85 persen pada 2024, naik dibandingkan 76 persen pada 2019. Artinya, akses masyarakat terhadap produk keuangan semakin terbuka lebar. Dengan populasi muda yang melek digital, adopsi instrumen investasi seperti reksa dana dan surat berharga negara menunjukkan tren kenaikan yang signifikan. Likuiditas pasar modal pun tercatat meningkat, ditopang oleh investor ritel yang didominasi usia di bawah 40 tahun.

"Anak muda hari ini memiliki akses informasi yang jauh lebih baik. Yang dibutuhkan adalah disiplin dan konsistensi dalam mengelola risiko, bukan sekadar mengejar return instan," tegas Anggito.

Dari kacamata makro, pertumbuhan kelas menengah dan peningkatan edukasi finansial berpotensi mendorong valuasi aset domestik. Proyeksi pemerintah menargetkan indeks literasi keuangan mencapai 65 persen pada 2027, yang jika tercapai akan memperkuat fundamental pasar keuangan secara struktural.

Kontra: Tantangan Struktural dan Risiko Perilaku Konsumtif

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa peningkatan inklusi tidak selalu diikuti oleh kualitas keputusan finansial yang baik. Fenomena pinjaman online ilegal dan gaya hidup konsumtif masih menjadi pekerjaan rumah besar. Data menunjukkan bahwa rasio kredit macet pada segmen pinjaman konsumtif sempat mengalami kenaikan, meski kini mulai stabil. Selain itu, ketimpangan akses antara perkotaan dan daerah seperti Lampung masih cukup lebar, terutama dalam hal infrastruktur digital dan pendampingan finansial.

Risiko lain datang dari ketergantungan pada instrumen jangka pendek yang rentan terhadap gejolak sentimen pasar global. Ketika capital outflow terjadi, investor ritel yang belum matang secara psikologis cenderung panik dan melakukan aksi jual, yang justru memperdalam koreksi indeks. Tanpa pemahaman fundamental yang kuat, pertumbuhan jumlah investor tidak otomatis mencerminkan ketahanan portofolio nasional.

Membangun Fondasi Lewat Kerja Keras dan Pembelajaran Berkelanjutan

Anggito menutup pesannya dengan menekankan bahwa tidak ada jalan pintas menuju kemandirian finansial. Menurutnya, tiga pilar utama—ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan etos kerja—harus menjadi pegangan. Pemerintah dan lembaga penjamin seperti LPS berperan menjaga stabilitas sistem, namun keputusan individu tetap menentukan hasil akhir. Dengan kombinasi kebijakan yang tepat dan literasi yang merata, potensi generasi muda Lampung dan Indonesia secara luas dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User