Oct 19, 2026
Bisnis

Ketangguhan dan Kerja Keras: Pelajaran Finansial untuk Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru menyentuh angka sekitar 65,43 persen, sementara tingkat inklusi keuangan sudah mencapai ...

Ketangguhan dan Kerja Keras: Pelajaran Finansial untuk Generasi Muda Lampung

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per awal 2025, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia baru menyentuh angka sekitar 65,43 persen, sementara tingkat inklusi keuangan sudah mencapai 75,02 persen. Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak orang memiliki akses ke produk keuangan, tetapi belum sepenuhnya memahami cara mengelolanya. Di tengah kondisi tersebut, pesan tentang ketangguhan, pembelajaran berkelanjutan, dan etos kerja keras menjadi relevan bagi generasi muda, terutama di daerah dengan pertumbuhan ekonomi yang dinamis seperti Lampung.

Lampung sebagai Episentrum Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Provinsi Lampung mencatat pertumbuhan ekonomi year-on-year sebesar 5,11 persen pada triwulan III 2024, sedikit di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 4,95 persen. Sektor pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan masih menjadi penopang utama, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai lebih dari 60 persen. Angka ini menggambarkan fundamental ekonomi daerah yang cukup solid, namun tantangan struktural seperti ketimpangan pendapatan dan akses permodalan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih membayangi.

Dalam sebuah forum finansial di Lampung, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya membangun resiliensi sejak dini. Ia menekankan bahwa keberhasilan finansial tidak lahir dari keberuntungan semata, melainkan dari proses belajar yang konsisten dan kemampuan beradaptasi terhadap tekanan ekonomi. Menurutnya, generasi muda perlu memahami siklus ekonomi—dari ekspansi hingga kontraksi—agar tidak mudah panik ketika sentimen pasar berubah.

"Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi mampu bangkit setelah jatuh dan terus belajar dari setiap keputusan," ujar Anggito dalam forum tersebut, mengutip pengalamannya selama berkecimpung di sektor kebijakan fiskal dan moneter.

Dua Sisi Pandang: Optimisme versus Realitas Struktural

Di satu sisi, pesan tentang kerja keras dan pembelajaran berkelanjutan patut diapresiasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk kelompok usia 15–24 tahun masih berada di angka 16,47 persen per Agustus 2024. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan TPT nasional yang sebesar 4,91 persen. Artinya, generasi muda menghadapi persaingan ketat di pasar kerja, sehingga keterampilan finansial dan mentalitas tangguh menjadi modal penting untuk bertahan. Program literasi keuangan yang digalakkan LPS, OJK, dan Bank Indonesia—seperti edukasi tentang penjaminan simpanan hingga maksimum Rp2 miliar per nasabah per bank—menjadi bekal konkret bagi masyarakat.

Di sisi lain, narasi tentang ketangguhan individu tidak boleh menutupi persoalan struktural. Rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) perbankan nasional per Desember 2024 tercatat 2,19 persen, namun untuk segmen UMKM angkanya lebih tinggi, yakni mendekati 4 persen. Ini menandakan bahwa banyak pelaku usaha kecil masih kesulitan mengakses pembiayaan yang sehat. Tanpa dukungan kebijakan yang berpihak—seperti suku bunga kredit yang kompetitif dan pendampingan usaha—semangat kerja keras saja tidak cukup. Capital outflow dari pasar keuangan domestik juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai, terutama jika sentimen global memburuk dan nilai tukar rupiah tertekan.

Likuiditas, Portofolio, dan Pelajaran dari Krisis

Dalam konteks yang lebih luas, pemahaman tentang likuiditas dan diversifikasi portofolio menjadi krusial. LPS sendiri memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sistem keuangan melalui penjaminan simpanan dan resolusi bank gagal. Hingga akhir 2024, total simpanan yang dijamin LPS mencapai lebih dari Rp8.000 triliun, mencerminkan besarnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penjaminan. Namun, kepercayaan ini harus diimbangi dengan edukasi agar masyarakat tidak terjebak pada instrumen investasi berisiko tinggi yang menjanjikan imbal hasil tidak wajar.

Anggito juga mengingatkan bahwa krisis finansial 1998 dan 2008 memberikan pelajaran berharga: fundamental ekonomi yang kuat tidak menjamin imunitas terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, proyeksi keuangan pribadi harus disusun secara konservatif, dengan mempertimbangkan skenario terburuk. Rasio tabungan terhadap pendapatan idealnya berada di atas 20 persen, sementara dana darurat sebaiknya mencakup 3–6 bulan pengeluaran.

Menakar Valuasi Kesuksesan di Era Ketidakpastian

Pada akhirnya, kesuksesan finansial bukan hanya soal angka nominal, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan antara konsumsi, investasi, dan proteksi. Dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan berada di kisaran 5,0–5,2 persen pada 2025, peluang masih terbuka lebar. Namun, generasi muda perlu waspada terhadap jebakan gaya hidup konsumtif dan tekanan sosial yang sering kali mengaburkan prioritas keuangan. Pesan dari Lampung menjadi pengingat bahwa ketangguhan, pembelajaran, dan kerja keras adalah fondasi yang tidak lekang oleh waktu—terlepas dari naik-turunnya indeks dan gejolak pasar.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User