Oct 09, 2026
Bisnis

Ketangguhan dan Kerja Keras Jadi Kunci Generasi Muda Hadapi Gejolak Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional tercatat sebesar 4,76 persen, dengan kontribusi signifikan dari kelompok usia muda 15-24 tah...

Ketangguhan dan Kerja Keras Jadi Kunci Generasi Muda Hadapi Gejolak Ekonomi

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) nasional tercatat sebesar 4,76 persen, dengan kontribusi signifikan dari kelompok usia muda 15-24 tahun yang menyentuh angka 16,42 persen. Angka ini menjadi cermin tantangan struktural yang harus dijawab oleh generasi muda di daerah, termasuk Lampung, ketika memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif dan dinamis.

Dalam sebuah forum literasi keuangan di Lampung, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Anggito Abimanyu, menyampaikan pesan bahwa ketangguhan mental, kemauan belajar berkelanjutan, dan etos kerja keras merupakan fondasi utama bagi anak muda untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pesan ini disampaikan bukan sebagai retorika kosong, melainkan refleksi dari perjalanan panjang seorang ekonom yang pernah meniti karier dari analis hingga pembuat kebijakan fiskal.

Realitas Ekonomi Daerah dan Urgensi Literasi Finansial

Provinsi Lampung sendiri mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,55 persen secara year-on-year pada triwulan IV 2024, sedikit di bawah rata-rata nasional yang mencapai 5,02 persen. Sektor pertanian dan perdagangan masih mendominasi struktur ekonomi daerah, sementara sektor jasa keuangan baru menyumbang sekitar 3,8 persen terhadap PDRB. Kondisi ini menunjukkan bahwa penetrasi layanan keuangan dan pemahaman investasi di kalangan muda masih memiliki ruang tumbuh yang lebar.

Di satu sisi, rendahnya literasi keuangan menjadi penghambat. Survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks literasi keuangan nasional baru mencapai 65,43 persen pada 2024, meskipun indeks inklusi keuangan sudah menyentuh 75,02 persen. Celah antara inklusi dan literasi inilah yang sering menjebak generasi muda ke dalam produk investasi berisiko tinggi tanpa pemahaman fundamental yang memadai, mulai dari pinjaman online ilegal hingga skema ponzi berkedok kripto.

Di sisi lain, generasi muda justru memiliki keunggulan adaptif. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa 61 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia berusia di bawah 40 tahun, dan sekitar 43 persen di antaranya telah memanfaatkan platform digital untuk pemasaran. Artinya, jika dibekali ketangguhan dan pembelajaran yang tepat, kelompok ini berpotensi menjadi motor penggerak ekonomi daerah yang signifikan.

"Ketangguhan bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi kemampuan bangkit setelah jatuh, dan itu hanya bisa dibangun melalui proses belajar yang tidak pernah berhenti," pesan Anggito dalam forum tersebut, sebagaimana dikutip dari diskusi panel.

Pro: Optimisme Struktural atas Bonus Demografi

Konteks demografi Indonesia memberi ruang optimisme. Berdasarkan proyeksi BPS, Indonesia akan menikmati bonus demografi hingga puncaknya pada 2030, ketika sekitar 68,3 persen penduduk berada di usia produktif 15-64 tahun. Jika kelompok ini memiliki keterampilan finansial dan kewirausahaan yang mumpuni, maka potensi pertumbuhan ekonomi tambahan bisa mencapai 1,5-2 persen per tahun menurut kajian Bank Dunia untuk kawasan Asia Tenggara.

Lampung, dengan jumlah penduduk sekitar 9,3 juta jiwa dan median usia 29,7 tahun, berada di posisi strategis untuk memanfaatkan momentum ini. Sektor agribisnis, pariwisata bahari, dan ekonomi kreatif menjadi tiga pilar yang prospektif jika didukung oleh likuiditas perbankan yang memadai dan pendampingan usaha berkelanjutan.

Kontra: Risiko Kapital Keluar dan Sentimen Pasar Global

Namun, optimisme ini perlu dikawal dengan kewaspadaan. Tekanan capital outflow dari pasar keuangan domestik masih menjadi risiko nyata. Data Bank Indonesia mencatat aliran modal asing keluar dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp18,7 triliun secara neto sepanjang kuartal I 2025, seiring ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed dan ketegangan geopolitik. Kondisi ini berpotensi menekan valuasi aset domestik, memperketat likuiditas, dan pada akhirnya mengurangi ketersediaan pembiayaan bagi usaha muda.

Selain itu, rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) perbankan pada segmen UMKM tercatat 4,21 persen per Januari 2025, lebih tinggi dibandingkan NPL korporasi yang berada di kisaran 2,35 persen. Artinya, meski semangat wirausaha tinggi, risiko gagal bayar tetap membayangi dan menuntut manajemen risiko yang disiplin.

Fundamental dan Sentimen: Dua Sisi Mata Uang yang Sama

Dalam kerangka ekonomi, pesan Anggito menyentuh dua dimensi sekaligus: fundamental dan sentimen. Fundamental merujuk pada keterampilan, pengetahuan, dan struktur usaha yang kokoh; sedangkan sentimen mencerminkan kepercayaan diri dan mentalitas pantang menyerah. Keduanya harus berjalan beriringan. Tanpa fundamental yang kuat, sentimen pasar hanya akan menghasilkan gelembung yang rapuh. Sebaliknya, tanpa sentimen positif, fundamental terbaik pun sulit berkembang karena minimnya keberanian mengambil risiko terukur.

Bagi pembaca awam, istilah likuiditas dapat dipahami sebagai ketersediaan uang tunai atau aset yang mudah dicairkan. Portofolio adalah kumpulan aset yang dimiliki. Adapun valuasi adalah nilai wajar suatu aset berdasarkan proyeksi keuntungan dan risikonya. Memahami tiga konsep ini menjadi bekal minimum bagi siapa pun yang ingin mengelola keuangan dengan bijak.

Kesimpulannya, narasi ketangguhan dan kerja keras yang dibagikan kepada generasi muda Lampung bukan sekadar motivasi musiman. Ia adalah respons rasional terhadap data ekonomi yang menunjukkan bahwa peluang dan risiko datang bersamaan. Generasi muda yang mampu menyeimbangkan etos kerja, pembelajaran berkelanjutan, dan pemahaman risiko akan memiliki posisi tawar lebih kuat, baik di pasar kerja maupun di dunia usaha, ketika gelombang bonus demografi benar-benar mencapai puncaknya lima tahun mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User