Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik (BPS) per rilis terbaru, sektor industri makanan olahan skala mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terus menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Salah satu contoh nyata datang dari sebuah rumah produksi kerupuk kulit di Jakarta yang telah beroperasi sejak 1999 dan kini menembus pasar Inggris. Usaha dengan merek Cap Tiga Bintang ini mengolah sekitar 150 kilogram kulit sapi per hari menjadi kerupuk kulit siap ekspor, sebuah angka yang mencerminkan kapasitas produksi harian yang stabil selama lebih dari dua dekade.
Perjalanan usaha ini menjadi cerminan bagaimana pelaku UMKM mampu bertahan melintasi berbagai siklus ekonomi, mulai dari krisis moneter akhir 1990-an, perlambatan global 2008, hingga guncangan pandemi 2020. Dalam konteks makro, ketahanan sektor UMKM menjadi penyangga penting bagi perekonomian nasional, mengingat kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB) yang secara historis berada di kisaran 60 persen dan menyerap lebih dari 97 persen tenaga kerja nasional.
Fundamental Ekspor dan Nilai Tambah Kulit Sapi
Di satu sisi, keberhasilan menembus pasar Inggris menunjukkan adanya pengakuan internasional terhadap kualitas produk olahan pangan Indonesia. Inggris dikenal memiliki standar keamanan pangan yang ketat, sehingga lolosnya produk ini ke pasar tersebut menjadi sinyal positif bagi daya saing UMKM nasional. Secara fundamental, kulit sapi yang sebelumnya hanya bernilai rendah sebagai limbah peternakan kini diubah menjadi komoditas bernilai tambah tinggi. Proses produksi yang melibatkan penggorengan, pengeringan, dan pengemasan ini menciptakan rantai nilai (value chain) yang melibatkan peternak, pemasok, hingga tenaga kerja pengolahan.
Dari perspektif ekonomi, transformasi bahan baku murah menjadi produk ekspor merupakan strategi hilirisasi yang sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah domestik. Jika diasumsikan harga jual kerupuk kulit matang di pasar Eropa berada pada rentang tertentu per kilogram, maka nilai ekonomi dari 150 kilogram bahan mentah per hari dapat berlipat ganda dibandingkan menjual kulit sapi mentah. Angka ini, meski tidak tersedia secara resmi dalam laporan terbuka, menggambarkan potensi margin yang menarik bagi pelaku usaha.
Sentimen Pasar Global dan Tantangan Struktural
Di sisi lain, Badan Indonesia menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan. Ketergantungan pada bahan baku impor atau fluktuasi harga kulit sapi domestik dapat memengaruhi stabilitas biaya produksi. Selain itu, sentimen pasar global terhadap produk pangan olahan dari negara berkembang kerap dipengaruhi isu keberlanjutan, standar halal, serta jejak karbon logistik. Pengiriman ke Inggris, misalnya, memerlukan rantai dingin dan pengemasan tahan lama yang menambah biaya logistik dan berpotensi menekan margin keuntungan.
"Ketahanan UMKM ekspor sangat bergantung pada kemampuan menjaga konsistensi kualitas, kontinuitas pasokan bahan baku, dan adaptasi terhadap regulasi negara tujuan. Tanpa itu, ekspor hanya bersifat sporadis," ujar seorang pengamat ekonomi industri dari lembaga riset independen, menggambarkan pentingnya tata kelola usaha yang berkelanjutan.
Dalam konteks makro, kinerja ekspor makanan olahan Indonesia secara year-on-year (YoY) menunjukkan tren positif. Data BPS mencatat ekspor kelompok makanan olahan pada periode tertentu mengalami kenaikan, meski pertumbuhannya bervariasi antarnegara tujuan. Inggris, sebagai pasar dengan daya beli tinggi, menjadi tujuan yang strategis untuk diversifikasi pasar di luar Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang yang selama ini mendominasi.
Proyeksi dan Prospek Ke Depan
Proyeksi ke depan, keberlanjutan usaha ini akan sangat dipengaruhi oleh likuiditas modal kerja, akses pembiayaan UMKM, serta kemampuan beradaptasi dengan digitalisasi pemasaran. Rasio ekspor terhadap total produksi yang saat ini mungkin masih kecil berpotensi ditingkatkan jika pelaku usaha mampu menggandeng mitra distribusi di Eropa. Valuasi usaha semacam ini pun dapat meningkat seiring terbukanya peluang kemitraan dengan jaringan ritel internasional.
Namun, capital outflow dari sektor riil ke instrumen keuangan yang lebih likuid menjadi tantangan tersendiri bagi regenerasi usaha keluarga. Tanpa insentif fiskal dan pendampingan ekspor yang berkelanjutan, kekhawatiran akan stagnasi produksi tetap membayangi. Pemerintah melalui program UMKM berorientasi ekspor diharapkan dapat memperkuat fundamental pelaku usaha, termasuk akses sertifikasi internasional seperti HACCP dan halal yang menjadi prasyarat di banyak negara.
Secara keseluruhan, kisah rumah produksi kerupuk kulit Cap Tiga Bintang menawarkan dua perspektif: optimisme atas daya saing produk lokal di pasar global, sekaligus pengingat akan kerentanan struktural UMKM terhadap guncangan eksternal. Tren ini, jika dikelola dengan kebijakan yang tepat, dapat menjadi fondasi penguatan indeks daya saing ekspor nasional di sektor makanan olahan. Portofolio produk UMKM yang terdiversifikasi dan berorientasi ekspor menjadi kunci menjaga resiliensi ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Comments (0)