Kenapa Sulit Keluar dari Hubungan Toksik? Dokter Ungkap Fakta Trauma Bonding
Banyak korban hubungan toksik memilih bertahan meskipun terus menerus mengalami perlakuan yang menyakitkan. Keputusan ini kerap menimbulkan kebingungan dan pertanyaan dari orang-orang sekitar yang menganggap bahwa meninggalkan pasangan adalah langkah yang mudah. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada faktor psikologis mendalam yang membuat korban merasa sulit, bahkan mustahil, untuk melepaskan diri.
Apa Itu Trauma Bonding?
Spesialis kejiwaan dr. Erickson Arthur S, SpKJ, menjelaskan bahwa fenomena ini dikenal dengan istilah trauma bonding atau ikatan traumatis. Trauma bonding adalah kondisi emosional yang terjadi ketika korban justru merasakan ikatan kuat dengan pelaku kekerasan akibat siklus kekerasan yang berulang dan diselingi momen rekonsiliasi. Ikatan ini membuat korban sulit membedakan antara cinta dan manipulasi, serta terus berharap pada perubahan yang sebenarnya palsu.
Menurut dr. Erickson, trauma bonding melibatkan beberapa fase siklus yang khas. "Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ," ujarnya dalam wawancara dengan media kami, Minggu (5/7/2026).
"Yang pertama, tadi kan sudah jelas ada kekerasan. Kekerasan yang terjadi bisa fisik, verbal, atau seksual. Memang itu pasti tidak nyaman ya. Tapi ternyata fasenya tidak sampai di situ."
Setelah episode kekerasan, pelaku biasanya memasuki fase yang justru membingungkan korban. Pelaku akan meminta maaf dengan penuh penyesalan, menunjukkan kasih sayang secara berlebihan, dan membuat janji-janji manis bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatannya. Fase 'bulan madu' ini menciptakan harapan pada diri korban bahwa pasangannya bisa berubah. Sayangnya, harapan itu hanya sementara, karena siklus kekerasan akan kembali berulang—kekerasan, permintaan maaf, janji, dan kembali ke kekerasan.
Semakin sering siklus ini terjadi, semakin kuat pula ikatan traumatis yang terbentuk. Korban kehilangan kepercayaan pada penilaiannya sendiri, merasa bergantung secara emosional pada pelaku, dan menganggap bahwa hanya pelaku yang bisa memberinya rasa aman—padahal dialah sumber ancaman. Otak korban pun terlatih untuk menerima fase rekonsiliasi singkat sebagai "imbalan" yang membuatnya terus bertahan menanti perubahan yang tak kunjung datang.
Pemahaman tentang trauma bonding ini penting untuk menghilangkan stigma bahwa korban "lemah" atau "bodoh" karena tidak bisa pergi. Dukungan dari lingkungan, terapi profesional, dan pemulihan konsep diri menjadi kunci utama bagi korban untuk memutus siklus berbahaya ini. Jika Anda atau orang terdekat sedang terjebak dalam hubungan toksik, jangan ragu untuk mencari bantuan dari tenaga kesehatan mental atau lembaga pendamping yang terpercaya.
Comments (0)