Oct 14, 2026
Bisnis

Karhutla Ganggu Penerbangan, Batik Air dan NAM Air Setop Operasi di Pangkalan Bun

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan otoritas bandar udara per pekan terakhir, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu ...

Karhutla Ganggu Penerbangan, Batik Air dan NAM Air Setop Operasi di Pangkalan Bun

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan otoritas bandar udara per pekan terakhir, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu operasional penerbangan di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dua maskapai nasional, Batik Air dan NAM Air, memutuskan menghentikan sementara layanan penerbangan ke dan dari bandara tersebut. Keputusan ini diambil setelah visibilitas atau jarak pandang horizontal di kawasan bandara turun drastis di bawah ambang batas keselamatan penerbangan yang umumnya mensyaratkan minimal 1.000 hingga 1.500 meter untuk pendaratan visual.

Mengapa Kabut Asap Berdampak Besar pada Operasional Penerbangan

Kabut asap karhutla mengandung partikel halus hasil pembakaran biomassa yang jauh lebih padat dibandingkan kabut biasa. Dalam terminologi aviasi, kondisi ini menurunkan RVR (Runway Visual Range), yaitu jarak pandang pilot terhadap landasan pacu. Ketika nilai RVR turun di bawah standar yang ditetapkan, pilot tidak dapat melakukan pendekatan visual maupun instrumen dengan aman. Selain itu, asap dapat merusak komponen mesin pesawat serta mengganggu sistem navigasi berbasis sensor.

Bandara Iskandar sendiri merupakan salah satu pintu masuk utama ke wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat, kawasan yang memiliki keterkaitan ekonomi erat dengan sektor perkebunan kelapa sawit, hasil hutan, dan perdagangan regional. Penghentian penerbangan sementara ini otomatis memutus jalur mobilitas udara yang biasanya melayani ribuan penumpang per pekan, baik untuk tujuan bisnis, logistik, maupun perjalanan pribadi.

Dampak Ekonomi: Di Satu Sisi dan Di Sisi Lain

Di satu sisi, langkah penghentian sementara operasi merupakan keputusan yang rasional dari perspektif keselamatan dan tata kelola risiko. Industri penerbangan memiliki rasio toleransi kesalahan yang sangat rendah; standar safety tidak bisa dikompromikan oleh tekanan komersial. Maskapai yang tetap terbang dalam kondisi visibilitas buruk berisiko menghadapi insiden yang jauh lebih mahal, baik dari sisi korban maupun reputasi. Regulator penerbangan juga memiliki kewenangan menindak operator yang melanggar ambang batas keselamatan.

Di sisi lain, penghentian operasi berdampak langsung pada cash flow maskapai dan pelaku usaha daerah. Setiap hari grounding berarti hilangnya potensi pendapatan tiket, biaya sewa pesawat yang tetap berjalan, serta kewajiban operasional lain yang tidak serta-merta berhenti. Dari sisi ekonomi regional, terganggunya konektivitas udara dapat menekan arus barang dan jasa, memicu kenaikan biaya logistik alternatif melalui jalur darat atau laut yang memakan waktu lebih lama, serta berpotensi mengganggu rantai pasok komoditas bernilai tinggi.

"Keputusan menghentikan penerbangan adalah pilihan yang pahit, tetapi keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Yang perlu dipastikan adalah seberapa cepat situasi ini bisa dipulihkan agar dampak ekonominya tidak berlarut-larut," ujar seorang pengamat transportasi udara nasional.

Proyeksi dan Sentimen Pasar Jangka Pendek

Dari perspektif fundamental, gangguan operasional akibat karhutla bersifat musiman dan umumnya berdurasi terbatas, bergantung pada intensitas hujan dan upaya pemadaman. Namun, jika asap berlanjut hingga beberapa pekan, dampaknya bisa lebih dalam. Sentimen pasar terhadap saham maskapai dan perusahaan logistik yang terpapar wilayah terdampak biasanya akan tertekan sementara, terutama jika penghentian meluas ke bandara lain di sekitar Kalimantan dan Sumatra.

Untuk mengukur besaran dampaknya, perlu diperhatikan indeks kualitas udara (IKU/AQI) harian, jumlah penerbangan yang dibatalkan, serta tingkat load factor atau rasio keterisian penumpang sebelum dan sesudah kejadian. Jika kabut asap mereda dalam hitungan hari, pemulihan operasional umumnya berlangsung cepat. Sebaliknya, jika kondisi memburuk, maskapai dapat mengalihkan kapasitas pesawat ke rute lain yang lebih produktif, sehingga ada potensi capital outflow dari kawasan terdampak.

Respons Penumpang dan Langkah Mitigasi

Bagi penumpang yang terdampak, langkah paling bijak adalah memantau kanal informasi resmi maskapai dan otoritas bandara terkait status pembatalan, opsi pengembalian dana, atau penjadwalan ulang. Maskapai umumnya menyediakan mekanisme refund atau reschedule tanpa biaya tambahan dalam kondisi force majeure seperti ini. Masyarakat juga disarankan mempertimbangkan moda transportasi alternatif sembari menunggu pemulihan kondisi cuaca dan kualitas udara.

Secara lebih luas, peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya likuiditas operasional maskapai dan kesiapsiagaan infrastruktur bandara dalam menghadapi bencana musiman. Konektivitas udara bukan hanya soal perjalanan penumpang, tetapi juga urat nadi perekonomian daerah. Oleh karena itu, koordinasi antara maskapai, pengelola bandara, otoritas penerbangan, dan pemerintah daerah dalam mempercepat penanganan karhutla menjadi faktor kunci yang menentukan seberapa cepat tren pemulihan penerbangan di Pangkalan Bun dapat terjadi. Hingga laporan ini disusun, pemantauan kondisi lapangan masih terus dilakukan, dan publik diimbau merujuk pada pengumuman resmi masing-masing maskapai sebelum melakukan perjalanan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User