Oct 15, 2026
Bisnis

Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Kemenhub Awasi Bandara

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan per akhir periode laporan, sebanyak 1.673 penerbangan mengalami gangguan operasional akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejuml...

Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Kemenhub Awasi Bandara

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan per akhir periode laporan, sebanyak 1.673 penerbangan mengalami gangguan operasional akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Angka tersebut mencakup penerbangan yang mengalami penundaan (delay), pengalihan rute (diversi), hingga pembatalan jadwal, dengan konsentrasi terbesar terjadi di bandara-bandara kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menyatakan tengah melakukan pengawasan intensif terhadap operasional bandara terdampak. Pengawasan ini mencakup pemantauan jarak pandang (visibility) setiap beberapa jam, koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) sebagai peringatan resmi bagi maskapai.

Dampak Terhadap Indeks Ketepatan Waktu Penerbangan

Di satu sisi, gangguan ini menekan rasio on-time performance (OTP) atau tingkat ketepatan waktu penerbangan nasional. OTP adalah persentase penerbangan yang berangkat dan tiba sesuai jadwal—semakin rendah angkanya, semakin besar kerugian waktu dan biaya yang ditanggung maskapai maupun penumpang. Pada periode normal, OTP domestik umumnya berada di kisaran 80–85 persen. Ketika karhutla memburuk, sejumlah bandara dilaporkan mencatat penurunan OTP hingga 15–20 poin persentase dalam rentang waktu singkat.

Di sisi lain, pengalihan rute dan penundaan justru menjadi instrumen keselamatan yang tidak bisa ditawar. Jarak pandang di bawah 1.000 meter membuat prosedur pendaratan visual tidak dapat dijalankan, sementara sistem instrumentasi tetap memiliki ambang batas minimum. Mengabaikan ambang tersebut berisiko jauh lebih besar dibandingkan kerugian ekonomi akibat delay.

"Keselamatan penerbangan adalah prioritas tertinggi. Setiap keputusan penundaan atau pengalihan rute diambil berdasarkan data visibilitas aktual, bukan estimasi," demikian benang merah pernyataan yang disampaikan lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.

Tekanan pada Likuiditas dan Biaya Operasional Maskapai

Dari kacamata fundamental industri, gangguan berulang menimbulkan tekanan berlapis. Maskapai harus menanggung tambahan biaya bahan bakar akibat rute memutar, biaya perawatan pesawat karena siklus terbang tidak teratur, serta kompensasi penumpang. Tekanan ini berpotensi menggerus likuiditas operator, terutama maskapai dengan struktur kas yang tipis dan tingkat utang tinggi.

Bandara pengelola (operator) juga merasakan imbasnya melalui penurunan pendapatan aeronautika—yakni pendapatan dari pendaratan pesawat (landing fee), penempatan parkir, dan pelayanan penumpang. Jika gangguan berlangsung lebih dari dua pekan, proyeksi pendapatan kuartalan bandara terdampak berpotensi terkoreksi 5–10 persen, bergantung pada intensitas dan durasi kabut asap.

Namun, sebagian analis menilai dampak ini bersifat sementara (transitory) dan tidak mengubah valuasi jangka panjang sektor penerbangan, sepanjang tren permintaan penumpang tetap tumbuh year-on-year. Data historis menunjukkan pemulihan trafik biasanya berlangsung cepat setelah titik api karhutla menurun dan hujan mulai turun.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Kemenhub menegaskan koordinasi lintas lembaga menjadi kunci, melibatkan BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta otoritas bandara setempat. Langkah mitigasi mencakup penyesuaian slot penerbangan, penambahan buffer waktu antarjadwal, dan penyiapan bandara alternatif sebagai titik diversi.

Pro: pengetatan pengawasan dan transparansi data visibilitas meningkatkan keselamatan serta memberi kepastian bagi maskapai untuk menyusun rencana operasi. Kontra: tanpa penanganan karhutla di hulu—yakni pengendalian pembukaan lahan—gangguan akan berulang setiap musim kemarau, menciptakan biaya ekonomi berulang yang tidak pernah masuk dalam perhitungan portofolio investasi sektor transportasi.

Ke depan, pelaku pasar patut mencermati dua indikator utama: jumlah titik panas (hotspot) harian dari citra satelit dan tren capital outflow di sektor penerbangan jika risiko operasional berlanjut. Selama sentimen pasar masih didominasi kekhawatiran musiman, volatilitas harga saham emiten bandara dan maskapai berpotensi tetap tinggi, meski fundamental jangka menengah belum tentu berubah secara struktural.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User