Irigasi Surya Pertamina Pacu Produktivitas Petani Bali

Pemandangan menghijau di Desa Tegaljadi, Kabupaten Buleleng, Bali, kini tak lagi memudar ketika musim kemarau tiba. Berkat aliran air yang stabil dari sistem irigasi bertenaga surya, para petani di wi...

Irigasi Surya Pertamina Pacu Produktivitas Petani Bali

Pemandangan menghijau di Desa Tegaljadi, Kabupaten Buleleng, Bali, kini tak lagi memudar ketika musim kemarau tiba. Berkat aliran air yang stabil dari sistem irigasi bertenaga surya, para petani di wilayah tersebut mampu mempertahankan produktivitas lahan mereka sepanjang tahun. Program yang diberi nama Desa Energi Berdikari ini merupakan inisiatif PT Pertamina untuk membawa solusi energi terbarukan langsung ke masyarakat pedesaan, sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan dan air di daerah kering.

Dari Mesin Diesel ke Panel Surya

Sebelum program ini hadir, mayoritas petani mengandalkan pompa air bermesin diesel untuk mengalirkan air dari sumur dalam atau sungai. Biaya bahan bakar yang tinggi sering kali menggerus pendapatan mereka, terutama di saat harga solar melambung. Tak jarang, lahan terpaksa dibiarkan kosong karena beban operasional yang tak sebanding dengan hasil panen. Kini, puluhan panel surya yang terpasang di sekitar area pertanian menjadi sumber energi utama bagi pompa submersible. Sistem ini dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengangkat air dari kedalaman hingga 40 meter dan mendistribusikannya ke petak-petak sawah melalui jaringan irigasi sederhana.

Peningkatan Produktivitas yang Signifikan

Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, pola tanam petani berubah drastis. Sebelumnya, mereka hanya bisa menanam padi sekali dalam setahun, mengikuti siklus hujan. Kini, dua hingga tiga kali musim panen bukanlah hal yang mustahil. Produksi gabah di desa ini melonjak dari rata-rata 2,5 ton per hektare menjadi lebih dari 5 ton per hektare per musim, berdasarkan data yang dihimpun dari kelompok tani setempat. Pak Nyoman, salah satu petani yang telah merasakan manfaat program ini, mengaku pendapatannya meningkat tajam. "Dulu, setelah musim panen, saya bingung mau nanam apa karena air tidak ada. Sekarang, lahan bisa terus berproduksi. Biaya untuk beli solar juga nol, uangnya bisa untuk beli pupuk dan keperluan lain," ujarnya.

Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan

Selain menguntungkan dari sisi ekonomi, penerapan irigasi tenaga surya juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Penggunaan mesin diesel yang dihilangkan berarti penurunan emisi karbon dioksida serta polusi suara yang biasa mengganggu ketenangan pedesaan. Sistem ini sepenuhnya memanfaatkan sinar matahari yang melimpah di Bali, khususnya di wilayah pesisir utara yang cenderung lebih kering. Keandalan panel surya yang minim perawatan juga menjadi nilai tambah, karena petani hanya perlu membersihkan permukaannya secara berkala dan memastikan kabel serta inverter berfungsi normal.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Meluas

Efek berganda dari program Desa Energi Berdikari tidak hanya dirasakan oleh petani pemilik lahan. Masyarakat sekitar yang bekerja sebagai buruh tani turut kebanjiran rezeki karena aktivitas pertanian berlangsung tanpa jeda. Ketersediaan air yang memadai juga membuka peluang bagi budidaya komoditas bernilai tinggi seperti melon, cabai, dan sayuran organik. Kelompok wanita tani mulai mengolah hasil panen menjadi produk olahan seperti keripik dan sambal, sehingga menambah sumber pendapatan keluarga. "Kami sekarang bisa panen tiga kali setahun, hasilnya dirasakan oleh seluruh kampung," tutur Kepala Desa Tegaljadi dalam sebuah kesempatan.

Tantangan dan Langkah ke Depan

Meski manfaatnya sudah terbukti, program ini masih menghadapi kendala, terutama dalam hal pemeliharaan komponen seperti baterai dan inverter yang memerlukan keahlian teknis tertentu. Untuk itu, Pertamina bekerja sama dengan akademisi dan lembaga pelatihan memberikan pendampingan secara rutin. Ke depannya, perusahaan energi pelat merah ini berencana memperluas model Desa Energi Berdikari ke puluhan desa lainnya di Indonesia, dengan prioritas pada daerah yang memiliki potensi sinar matahari tinggi namun kesulitan air. Target ambisius berupa 100 desa energi berdikari pada tahun 2028 diharapkan mampu menciptakan ekosistem pertanian yang tangguh dan mandiri energi.

Inisiatif ini sekaligus menjadi bukti bahwa transisi energi tidak hanya milik sektor industri besar, melainkan juga bisa menyentuh langsung kehidupan petani di pelosok negeri. Dengan energi terbarukan, sawah yang dulu kerontang kini kembali menjadi sumber kehidupan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User