Oct 13, 2026
Bisnis

Inflasi Mendekati 3,5 Persen, Daya Beli Warga Miskin Terancam

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per rilis terbaru, angka inflasi nasional terus bergerak mendekati batas atas sasaran pemerintah sebesar 3,5 persen year-on-year. Menter...

Inflasi Mendekati 3,5 Persen, Daya Beli Warga Miskin Terancam

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia per rilis terbaru, angka inflasi nasional terus bergerak mendekati batas atas sasaran pemerintah sebesar 3,5 persen year-on-year. Menteri Dalam Negeri dalam sebuah forum koordinasi pusat dan daerah menyampaikan peringatan bahwa tren kenaikan ini perlu diwaspadai, terutama karena kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling rentan terdampak.

Inflasi, dalam bahasa sederhana, adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus. Ketika indeks harga konsumen naik, nilai uang yang dipegang masyarakat menurun. Bagi rumah tangga miskin, proporsi pengeluaran untuk makanan bisa mencapai lebih dari separuh total belanja bulanan, sehingga lonjakan harga pangan langsung menggerus daya beli mereka.

Di Satu Sisi: Inflasi Masih dalam Koridor Sasaran

Pemerintah menegaskan bahwa posisi inflasi yang mendekati 3,5 persen masih berada di dalam rentang target resmi, yakni sekitar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Artinya, secara fundamental, perekonomian belum masuk kategori overheating atau panas berlebihan.

Beberapa faktor pendorong kenaikan dinilai bersifat musiman, seperti permintaan yang meningkat pada periode hari besar keagamaan dan dampak cuaca terhadap pasokan bahan pangan. Bank Indonesia juga menilai bahwa inflasi inti, yang tidak memasukkan komoditas bergejolak dan harga diatur pemerintah, masih relatif terkendali. Likuiditas perbankan tetap memadai dan stabilitas nilai tukar terjaga, sehingga capital outflow tidak menjadi tekanan besar terhadap portofolio investasi domestik.

"Kenaikan harga pangan bergejolak biasanya bersifat sementara, tetapi harus diantisipasi agar tidak menular ke ekspektasi inflasi jangka panjang," ujar seorang ekonom dalam diskusi publik terkait kebijakan moneter.

Dari sisi proyeksi, sejumlah lembaga memperkirakan inflasi akhir tahun akan bertengger di kisaran 3,0 hingga 3,4 persen, masih di bawah ambang atas. Pemerintah daerah diminta mempercepat operasi pasar dan menjaga rantai pasok untuk meredam gejolak harga di tingkat konsumen.

Di Sisi Lain: Beban Warga Miskin Semakin Berat

Namun, angka agregat sering kali menyembunyikan kenyataan di lapangan. Kelompok pengeluaran terendah merasakan inflasi yang jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional karena keranjang konsumsi mereka didominasi bahan pokok. Kenaikan harga beras, cabai, telur, dan minyak goreng berdampak langsung pada rasio pengeluaran terhadap pendapatan.

Data susenas menunjukkan bahwa masyarakat desil terbawah mengalokasikan lebih dari 60 persen belanja rumah tangga untuk makanan. Ketika harga pangan naik 5 persen saja, tekanan terhadap daya beli mereka jauh melampaui dampak yang dirasakan kelompok menengah atas. Inilah yang membuat peringatan Mendagri relevan secara sosial, bukan sekadar teknis statistik.

Kontra-argumen pun muncul: sebagian analis menilai bahwa inflasi yang moderat justru menandakan permintaan domestik yang sehat dan roda ekonomi yang berputar. Tanpa kenaikan harga yang wajar, insentif bagi produsen untuk berproduksi bisa melemah, yang pada akhirnya berdampak pada lapangan kerja.

Respons Kebijakan dan Sentimen Pasar

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari memperkuat cadangan pangan, memperlancar distribusi antarwilayah, hingga menjaga stabilitas harga melalui anggaran ketahanan pangan. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci, mengingat inflasi bersifat sangat lokal dan berbeda antardaerah.

Dari kacamata pasar, sentimen terhadap inflasi memengaruhi ekspektasi suku bunga. Bila indeks harga terus merangkak naik, ruang pelonggaran kebijakan moneter bisa menyempit, yang berimbas pada valuasi aset dan keputusan portofolio investor. Sebaliknya, inflasi yang stabil memberi kepastian bagi dunia usaha untuk merencanakan investasi jangka panjang.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya soal angka 3,5 persen. Yang paling menentukan adalah bagaimana kebijakan mampu melindungi kelompok rentan tanpa menekan pertumbuhan. Keseimbangan antara stabilitas harga dan daya beli masyarakat akan menjadi ujian utama dalam beberapa bulan mendatang, terutama menjelang periode permintaan puncak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User