Oct 12, 2026
Bisnis

Indonesia dan Mesir Perkuat Poros Ekonomi dan Pertahanan Strategis

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Bank Indonesia per akhir 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Mesir masih berada di kisaran US$1,3 miliar, atau setara sekitar Rp20,8 triliun...

Indonesia dan Mesir Perkuat Poros Ekonomi dan Pertahanan Strategis

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Bank Indonesia per akhir 2024, nilai perdagangan bilateral Indonesia dengan Mesir masih berada di kisaran US$1,3 miliar, atau setara sekitar Rp20,8 triliun dengan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan total ekspor nonmigas Indonesia yang menembus US$245 miliar pada periode yang sama. Namun, pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Abdel Fattah el-Sisi membuka sinyal bahwa kedua negara ingin mendongkrak kerja sama di sektor ekonomi hingga pertahanan, sebuah langkah yang oleh kalangan analis disebut sebagai upaya memperluas diversifikasi pasar di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah.

Mesir memiliki populasi lebih dari 110 juta jiwa, terbesar di kawasan Afrika Utara, dengan produk domestik bruto (PDB) sekitar US$396 miliar pada 2024. Bagi Indonesia, pasar ini menyimpan potensi besar untuk produk kelapa sawit, tekstil, alas kaki, hingga komponen otomotif. Di sisi lain, Mesir sedang membutuhkan mitra dagang yang stabil untuk menekan defisit neraca perdagangannya yang sempat menembus US$40 miliar pada 2023, sebelum menyusut ke kisaran US$20 miliar setahun berikutnya.

Pro: Diversifikasi Pasar dan Akses ke Terusan Suez

Di satu sisi, penguatan kerja sama ini memberi Indonesia jalur strategis ke Terusan Suez, yang dilalui sekitar 12% perdagangan global dan menjadi pintu masuk utama ke Eropa serta Afrika. Jika Indonesia bisa memanfaatkan Mesir sebagai hub logistik, biaya pengiriman barang ke Eropa berpotensi turun 10-15% dibandingkan rute langsung yang lebih jauh. Selain itu, Mesir merupakan anggota aktif Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan telah menandatangani sejumlah perjanjian perdagangan preferensial, termasuk dengan Uni Eropa dan negara-negara Arab. Akses ke jaringan ini bisa menjadi nilai tambah bagi eksportir nasional.

"Kerja sama ekonomi dengan Mesir bukan sekadar jual beli barang, tetapi membangun simpul logistik dan diplomasi dagang di kawasan yang selama ini belum tergarap optimal," ujar seorang ekonom senior yang meneliti perdagangan kawasan Afrika Utara.

Dari sisi pertahanan, Mesir adalah salah satu negara dengan anggaran militer terbesar di Afrika, mencapai US$3,2 miliar pada 2024 menurut data lembaga pemantau global. Kerja sama ini membuka peluang bagi industri pertahanan dalam negeri, khususnya PT Pindad dan PT PAL, untuk masuk ke rantai pasok komponen dan alutsista. Nilai kontrak potensialnya diperkirakan bisa menyentuh ratusan miliar rupiah dalam lima tahun ke depan.

Kontra: Risiko Ekonomi Makro Mesir dan Ketergantungan Impor

Di sisi lain, fundamental ekonomi Mesir masih menghadapi tekanan. Inflasi tahunan negara itu sempat melonjak di atas 30% year-on-year pada 2023 dan baru turun ke kisaran 25% pada 2024. Nilai tukar pound Mesir juga terdepresiasi tajam, dari sekitar 15 pound per dolar AS pada 2021 menjadi lebih dari 48 pound per dolar AS pada awal 2025. Depresiasi ini membuat daya beli impor Mesir melemah, sehingga permintaan terhadap produk Indonesia bisa tidak stabil.

Risiko lain adalah capital outflow yang pernah dialami Mesir saat gejolak politik dan tekanan likuiditas global. Ketika bank sentral menaikkan suku bunga acuan untuk menahan modal keluar, pertumbuhan kredit melambat dan sektor riil tertekan. Jika kondisi ini berlanjut, kerja sama dagang bisa berjalan lambat meski secara politik sudah disepakati.

Dari kacamata makro Indonesia, ekspor ke Mesir baru menyumbang kurang dari 0,5% total ekspor nasional. Artinya, dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi domestik relatif terbatas dalam jangka pendek. Proyeksi Bank Indonesia menempatkan pertumbuhan ekonomi 2025 di kisaran 4,8-5,2%, dan kontribusi dari pasar Afrika Utara masih marjinal. Namun, sentimen pasar terhadap langkah diplomasi ekonomi ini bisa positif bagi indeks kepercayaan investor, terutama jika diikuti kesepakatan konkret seperti preferential trade agreement (PTA) atau kerja sama investasi di sektor energi dan infrastruktur.

Valuasi Peluang dan Tantangan Implementasi

Secara valuasi, potensi peningkatan perdagangan bilateral 20-30% dalam tiga tahun bukanlah angka yang mustahil, mengingat basis awalnya masih rendah. Tetapi, realisasi bergantung pada kesiapan pelaku usaha dalam negeri, pembiayaan ekspor, dan stabilitas nilai tukar kedua negara. Pemerintah perlu memastikan adanya skema pembayaran yang aman, misalnya melalui local currency settlement (LCS), agar transaksi tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

Dari sisi pertahanan, kerja sama ini juga menyimpan tantangan terkait alih teknologi dan regulasi ekspor alutsista. Tanpa perjanjian yang jelas, peluang tersebut bisa berhenti pada tahap nota kesepahaman. Sebaliknya, jika berjalan mulus, ini bisa menjadi pintu masuk Indonesia ke pasar pertahanan Afrika yang nilainya diperkirakan tumbuh 6-7% per tahun hingga 2030.

Kesimpulannya, langkah Indonesia-Mesir memperkuat kerja sama ekonomi dan pertahanan adalah strategi jangka panjang yang masuk akal untuk diversifikasi mitra. Namun, tanpa perbaikan fundamental di kedua sisi dan eksekusi kebijakan yang konsisten, target besar itu hanya akan menjadi angka di atas kertas. Pasar akan menunggu bukti nyata berupa kontrak, investasi, dan arus barang yang terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User