Oct 18, 2026
Bisnis

IndoChar Rangkul Petani Sawit Lampung Olah Limbah Jadi Biochar

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, luas perkebunan kelapa sawit nasional mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi crude palm oil (CPO) menembus ...

IndoChar Rangkul Petani Sawit Lampung Olah Limbah Jadi Biochar

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, luas perkebunan kelapa sawit nasional mencapai sekitar 16,8 juta hektare dengan produksi crude palm oil (CPO) menembus 46,9 juta ton pada 2023. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar dunia, menyumbang sekitar 55 persen pasokan global. Namun, di balik capaian itu, sektor ini menghadapi persoalan struktural: limbah biomassa dalam jumlah masif yang belum tergarap optimal. Dari setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah, sekitar 20–23 persen berakhir sebagai tandan kosong, cangkang, dan serat yang menumpuk di pabrik kelapa sawit (PKS).

Di titik inilah sebuah inisiatif berbasis komunitas mencoba masuk. IndoChar, melalui salah satu penggagasnya, David Chung, memperluas program pengolahan limbah sawit menjadi biochar—arang hayati yang kaya karbon—dengan menggandeng petani plasma di Provinsi Lampung. Program ini menyasar dua hal sekaligus: pengurangan emisi dan pemberdayaan ekonomi warga desa.

Membaca Persoalan Limbah dari Sisi Fundamental

Secara ekonomi, pengelolaan limbah sawit selama ini identik dengan biaya. Pabrik harus mengeluarkan ongkos transportasi dan penanganan untuk membuang biomassa sisa. Sebagian memang dimanfaatkan sebagai mulsa atau bahan bakar boiler, tetapi porsi yang benar-benar diolah menjadi produk bernilai tambah masih kecil. Biochar menawarkan jalur alternatif: limbah dibakar pada suhu terkendali dengan pasokan oksigen terbatas (pirolisis), menghasilkan material berpori yang dapat memperbaiki struktur tanah, menahan air, dan menyimpan karbon selama ratusan tahun.

Secara fundamental, nilai biochar terletak pada dua pasar: pertanian dan kredit karbon. Untuk lahan sawit, biochar disebut mampu menaikkan pH tanah masam dan efisiensi pemupukan—isu klasik di banyak kebun Lampung yang didominasi tanah ultisol. Sementara di pasar karbon sukarela, biochar masuk kategori carbon removal yang dihargai premium karena sifatnya permanen. Mengutip sejumlah pelaku industri, harga kredit karbon biochar di pasar global berkisar 100–200 dolar AS per ton CO2e, jauh di atas kredit energi terbarukan yang hanya belasan dolar.

"Limbah yang tadinya jadi beban pabrik bisa berubah menjadi aliran pendapatan baru bagi petani bila rantai nilainya dibangun dari bawah," ujar David Chung dalam keterangan yang dikutip Beritadua.

Pro: Diversifikasi Pendapatan dan Nilai Keberlanjutan

Dari kacamata pro, inisiatif semacam ini menyasar tiga lapis manfaat. Pertama, petani memperoleh sumber penghasilan tambahan di luar penjualan TBS yang harganya sangat fluktuatif—mengalami kenaikan tajam pada 2021–2022 lalu terkoreksi ketika sentimen pasar melemah. Kedua, kualitas tanah meningkat sehingga biaya pupuk per hektare berpotensi turun. Ketiga, dari sisi industri, jejak karbon (carbon footprint) CPO Indonesia membaik, memperkuat daya saing di pasar Eropa yang menerapkan regulasi antideforestasi (EUDR).

Bagi petani plasma yang rata-rata menggarap lahan 2–4 hektare, model kemitraan dengan penyedia teknologi seperti IndoChar bisa menjadi jembatan akses pasar. Tanpa pendampingan, teknologi pirolisis relatif mahal dan rumit. Skema kolaboratif memungkinkan petani menyumbang bahan baku, sementara pihak mitra menanggung investasi alat dan pemasaran produk.

Kontra: Skalabilitas dan Ekonomi Unit yang Menantang

Di sisi lain, sejumlah ekonom dan pengamat agribisnis mengingatkan bahwa narasi biochar kerap terbentur realitas ekonomi unit. Biaya investasi reaktor pirolisis skala desa berkisar Rp150–500 juta, bergantung kapasitas. Harga jual biochar domestik untuk pertanian masih berkisar Rp5.000–15.000 per kilogram, sementara biaya pengumpulan limbah dari kebun ke lokasi produksi bisa menggerus margin, terutama jika jarak tempuh jauh.

Selain itu, pasar kredit karbon memiliki hambatan verifikasi. Proses sertifikasi memerlukan metodologi yang diakui, auditor independen, dan biaya transaksi yang tidak murah—biasanya baru ekonomis pada skala ribuan ton CO2e. Untuk kelompok tani kecil, hal ini menjadi tantangan tersendiri. Tanpa agregasi di tingkat koperasi atau kabupaten, proyeksi keuntungan bisa tinggal angan-angan.

Risiko lain adalah likuiditas dan keberlanjutan pendanaan. Program berbasis hibah atau investasi awal sering kali terhenti ketika pendanaan habis, karena belum ada model bisnis yang mandiri. Sejumlah studi lembaga lingkungan mencatat bahwa banyak proyek biochar komunitas gagal bertahan pada tahun ketiga karena lemah dalam aspek kelembagaan dan pemasaran.

Proyeksi dan Sikap Pasar

Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga riset, pasar global biochar diperkirakan tumbuh dengan laju majemuk 10–13 persen per tahun hingga 2030. Jika Indonesia mampu menangkap 5–10 persen pangsa regional, nilai ekonominya signifikan. Namun, keberhasilan tidak ditentukan semata oleh teknologi, melainkan oleh tata kelola rantai pasok, akses pembiayaan, dan kepastian harga bagi petani.

Dengan kata lain, inisiatif di Lampung ini layak diapresiasi sebagai langkah awal, tetapi belum cukup untuk disebut solusi skala nasional. Indeks keberlanjutan sawit Indonesia baru akan terkerek bila rantai nilai biochar berjalan tanpa subsidi permanen, dengan valuasi yang jelas dan rasio keuntungan yang sehat bagi semua pihak. Di satu sisi, harapan tumbuh dari kolaborasi petani, teknologi, dan pasar karbon. Di sisi lain, tantangan fundamental tetap soal ekonomi unit dan kapasitas kelembagaan. Dua sisi inilah yang mesti dibaca secara berimbang sebelum menyimpulkan bahwa limbah sawit benar-benar berubah menjadi berkah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User