Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal II 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan subsektor kriya menempati porsi terbesar, yakni 15,7 persen dari total nilai tambah ekonomi kreatif. Pameran INACRAFT 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 11 Oktober 2026 menjadi cermin bagaimana industri kerajinan Nusantara bergerak di tengah tekanan global. Pameran ini bukan sekadar etalase produk mewah, melainkan indikator arah likuiditas, sentimen pasar, dan daya saing ekspor UMKM kriya.
Kinerja Sektor Kriya: Antara Ekspansi dan Tekanan Global
Di satu sisi, kinerja ekspor produk kriya menunjukkan tren positif. Data Kementerian Perdagangan mencatat nilai ekspor kerajinan pada periode Januari–Agustus 2026 mencapai USD 4,12 miliar, mengalami kenaikan 6,4 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar USD 3,87 miliar. Pasar Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa masih menjadi tujuan utama, dengan pangsa gabungan mencapai 58,3 persen. Angka ini menunjukkan fundamental sektor kriya masih solid, didukung kekayaan budaya dan bahan baku lokal yang sulit disubstitusi.
Di sisi lain, sentimen pasar domestik belum sepenuhnya pulih. Indeks Penjualan Riil (IPR) untuk kelompok barang seni dan kerajinan pada Agustus 2026 berada di level 112,4, hanya naik tipis 1,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Perlambatan ini sejalan dengan pelemahan daya beli kelas menengah yang tergerus inflasi pangan dan biaya energi. Pelaku usaha kriya skala mikro juga menghadapi kendala likuiditas, dengan 43 persen responden survei internal mengaku kesulitan mengakses kredit modal kerja berbunga rendah.
"Kriya Nusantara punya valuasi budaya yang tinggi, tapi tanpa pembenahan rantai pasok dan akses pembiayaan, potensi itu hanya berhenti di etalase pameran," ujar seorang ekonom senior dalam diskusi panel industri kreatif.
INACRAFT sebagai Cermin Capital Outflow dan Peluang Portofolio
Pameran berskala internasional seperti INACRAFT 2026 berfungsi sebagai kanal penghubung antara pengrajin dan pembeli global. Namun, di balik gemerlap produk mewah, terdapat persoalan struktural yang perlu dicermati. Tekanan capital outflow dari pasar keuangan domestik pada semester I 2026 mencapai Rp 28,7 triliun di pasar obligasi, yang secara tidak langsung memengaruhi ketersediaan kredit sektor riil, termasuk kriya. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan per Juni 2026 tercatat 19,3 persen, masih di bawah target pemerintah sebesar 30 persen.
Pro: Kehadiran INACRAFT membuka akses pasar ekspor langsung, memperkuat merek kolektif "Kriya Nusantara", dan mendorong transfer pengetahuan desain. Kontra: Ketergantungan pada pameran musiman rentan terhadap fluktuasi permintaan global dan belum menyelesaikan masalah hilirisasi bahan baku. Proyeksi ke depan, sektor kriya diprediksi tumbuh 5,8–6,2 persen pada 2027, dengan catatan stabilitas nilai tukar dan perbaikan iklim investasi.
Fundamental dan Rekomendasi Kebijakan Non-Investasi
Dari perspektif fundamental, ekonomi kriya Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa keragaman motif, kearifan lokal, dan bahan baku berkelanjutan. Namun, indeks daya saing kriya nasional masih berada di peringkat ke-14 dari 20 negara produsen utama, tertinggal dari Thailand dan Vietnam dalam hal standardisasi kualitas dan digitalisasi pemasaran. Diperlukan intervensi kebijakan yang menyentuh hulu-hilir: pelatihan desain, sertifikasi produk, hingga insentif fiskal bagi eksportir pemula.
Kesimpulannya, INACRAFT 2026 adalah potret dua sisi ekonomi kriya. Satu sisi memperlihatkan kemewahan dan peluang ekspor yang menjanjikan; sisi lain mengungkap kerentanan likuiditas dan ketimpangan akses pasar. Tanpa pembenahan struktural, momentum pameran hanya menjadi siklus tahunan tanpa dampak berganda yang signifikan bagi kesejahteraan pengrajin di daerah.
Comments (0)