Oct 10, 2026
Bisnis

INACRAFT 2026 dan Geliat Ekonomi Kreatif Nasional

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya menem...

INACRAFT 2026 dan Geliat Ekonomi Kreatif Nasional

Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per Oktober 2026, sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto nasional, dengan subsektor kriya menempati posisi kedua terbesar setelah kuliner. Pameran INACRAFT 2026 yang digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) hingga 11 Oktober 2026 menjadi cermin bagaimana industri kerajinan Nusantara bergerak di tengah tekanan ekonomi global yang masih berfluktuasi. Ajang tahunan ini bukan sekadar etalase produk, melainkan indikator arah tren konsumsi kelas menengah dan kemampuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menembus pasar yang lebih luas.

Dalam konteks makro, kinerja sektor kriya tidak bisa dilepaskan dari kondisi daya beli rumah tangga. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi inti berada di kisaran 2,3 persen year-on-year pada September 2026, sementara indeks keyakinan konsumen bertahan di level optimistis. Angka ini menjadi fondasi penting: permintaan terhadap produk kerajinan bernilai tambah tinggi cenderung elastis terhadap perubahan pendapatan, sehingga stabilitas harga dan lapangan kerja menjadi penentu utama keberlanjutan tren positif ini.

Di Satu Sisi: Sentimen Pasar dan Peluang Ekspor

Di satu sisi, penyelenggaraan pameran berskala internasional seperti INACRAFT memberikan dorongan nyata bagi likuiditas pelaku usaha. Transaksi yang terjadi selama lima hari pameran berpotensi menciptakan arus kas yang lebih sehat, terutama bagi perajin yang selama ini bergantung pada pesanan musiman. Beberapa laporan asosiasi industri memperkirakan nilai transaksi pameran tahun ini dapat menembus Rp 150 miliar, dengan kontribusi pembeli mancanegara yang diperkirakan mencapai sepertiga dari total nilai.

Dari kacamata ekspor, permintaan global terhadap produk kriya etnik Indonesia masih menunjukkan tren yang menggembirakan. Negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Australia mencatat kenaikan permintaan pada kategori tekstil dekoratif, aksesori, dan perhiasan berbahan alam. Jika momentum ini terjaga, valuasi sektor kriya dalam portofolio ekspor nonmigas berpotensi naik dari posisi saat ini yang berada di kisaran 1,6 miliar dolar AS per tahun. Pameran menjadi jembatan antara perajin daerah dan jaringan distribusi internasional yang lebih mapan.

"Pameran seperti ini bukan hanya soal penjualan langsung, tetapi bagaimana membangun jejaring dan memperkuat posisi tawar perajin di rantai pasok global," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah diskusi industri.

Di Sisi Lain: Tantangan Fundamental dan Ketergantungan Pasar Domestik

Di sisi lain, terdapat sejumlah catatan fundamental yang perlu dicermati. Pertama, struktur pelaku usaha kriya masih didominasi usaha mikro dengan kapasitas produksi terbatas. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen perajin hanya memiliki akses permodalan di bawah Rp 50 juta, sehingga kemampuan mereka memenuhi pesanan besar secara konsisten masih menjadi kendala. Ketergantungan pada pasar domestik juga tinggi, dengan estimasi porsi penjualan lokal mencapai 70 persen dari total output.

Kedua, sentimen pasar global yang belum sepenuhnya pulih turut memengaruhi capital outflow dari sektor-sektor padat karya. Ketika investor asing menarik dana dari pasar negara berkembang, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, yang pada akhirnya menggerus margin perajin. Rasio biaya bahan baku terhadap harga jual produk kriya tercatat mengalami kenaikan dari 38 persen pada 2022 menjadi sekitar 44 persen pada 2026, menandakan bahwa efisiensi produksi belum sepenuhnya membaik.

Proyeksi dan Arah Kebijakan

Pro: pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendampingan dan digitalisasi UMKM yang menyasar sektor kriya sebagai salah satu prioritas, dengan target 500 ribu pelaku usaha terhubung ke platform niaga elektronik pada akhir 2026. Kontra: realisasi di lapangan sering terkendala literasi digital rendah dan infrastruktur logistik yang belum merata, sehingga manfaatnya belum terasa secara signifikan di daerah-daerah penghasil kerajinan utama seperti Jepara, Bali, dan Yogyakarta.

Ke depan, proyeksi pertumbuhan subsektor kriya diperkirakan berada di kisaran 5,2 hingga 6,1 persen year-on-year pada 2027, dengan catatan stabilitas makroekonomi terjaga dan permintaan ekspor tidak mengalami kontraksi tajam. Pameran seperti INACRAFT memang berfungsi sebagai katalis jangka pendek, namun tanpa perbaikan struktural pada akses modal, rantai pasok, dan perlindungan hak kekayaan intelektual, lonjakan transaksi musiman berisiko tidak berkelanjutan. Fundamental tetap menjadi penentu, sementara sentimen pasar hanya memberikan dorongan sementara bagi industri kriya Nusantara.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User