Hery Kurniawan Saksikan Sambutan Piala Dunia 2026 dan Bertemu Speed di AS
Oleh: Hery Kurniawan, Jurnalis KLY Sports — Ketika mendengar nama Amerika Serikat, yang terbayang di benak kebanyakan orang adalah NBA, NFL, MLB, atau bahk
Oleh: Hery Kurniawan, Jurnalis KLY Sports — Ketika mendengar nama Amerika Serikat, yang terbayang di benak kebanyakan orang adalah NBA, NFL, MLB, atau bahkan NASCAR. Sepak bola? Mungkin ada di urutan kesepuluh. Namun, sejak FIFA resmi menunjuk AS, Kanada, dan Meksiko sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, Negeri Paman Sam perlahan mulai menunjukkan geliatnya menyambut pesta sepak bola terbesar di planet ini. Sebuah transformasi budaya yang menarik untuk disaksikan langsung.
Kesan Pertama: Sepak Bola Bukan Raja, Tapi Publik Mulai Tergerak
Selama dua pekan berkeliling di sejumlah kota yang akan menjadi tuan rumah pertandingan, termasuk Los Angeles, New York/New Jersey, dan Miami, saya menangkap satu benang merah: sepak bola memang belum menjadi agama, tetapi gaungnya kian terasa. Di sudut-sudut Times Square, misalnya, layar raksasa sudah menayangkan video promosi Piala Dunia 2026. Sementara itu, di area SoFi Stadium, petugas keamanan dengan bangga menceritakan bahwa stadion megah berkapasitas 70.000 penonton itu akan menjadi salah satu venue utama.
Jika biasanya trotoar kota diramaikan oleh kaus LeBron James atau Patrick Mahomes, kali ini saya melihat cukup banyak orang mengenakan jersey Timnas AS edisi terbaru. Di kafe-kafe kecil, obrolan tentang “soccer” mulai menyeruak, terutama setelah performa cukup menjanjikan The Stars and Stripes di beberapa turnamen internasional terakhir. Orang-orang yang dulu hanya tahu istilah touchdown kini mulai bertanya apa itu offsides. Momen-momen kecil ini menunjukkan bahwa AS tidak sekadar menjadi tuan rumah, tetapi perlahan merangkul olahraga yang selama ini mereka anggap “the other football”.
Infrastruktur dan Antusiasme yang Tak Main-Main
Berbicara tentang persiapan, AS memang jagonya urusan infrastruktur. Mereka tidak perlu membangun banyak stadion baru; sebaliknya, mereka menyulap venue-venue NFL yang sudah berstandar dunia. Total 11 kota di AS akan menjadi tuan rumah, dengan final dijadwalkan digelar di MetLife Stadium, East Rutherford. Itu adalah rumah bagi New York Giants dan New York Jets, dan akan menjadi saksi siapa yang mengangkat trofi emas pada 19 Juli 2026 nanti.
“Kami ingin menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai yang terbesar, paling inklusif, dan paling berkesan dalam sejarah FIFA,” bunyi salah satu poster resmi yang terpampang di pusat informasi turis di New York.
Dari pengamatan saya, sambutan ini bukan hanya menjadi proyek pemerintah atau federasi, tetapi juga masyarakat akar rumput. Di Miami, komunitas imigran asal Amerika Latin sudah sejak setahun lalu mengadakan nonton bareng pertandingan kualifikasi di taman-taman kota, sambil berharap negara asal mereka lolos ke putaran final. Bisa dibayangkan, jika Brasil atau Argentina bertanding di sini, atmosfernya akan seperti final Copa América yang dipindahkan ke utara.
Pertemuan Tak Terduga dengan IShowSpeed
Di tengah liputan persiapan Piala Dunia 2026, takdir mempertemukan saya dengan salah satu fenomena internet global: Darren Watkins Jr., atau yang lebih dikenal sebagai IShowSpeed. Kreator konten berusia 20 tahun asal Amerika Serikat itu sedang berada di salah satu kota yang akan menjadi lokasi pertandingan. Tanpa disangka, ia bersedia menyapa saya dan berbincang singkat.
Speed mungkin dikenal karena tingkah kocaknya saat streaming video game dan reaksinya yang meledak-ledak ketika menonton sepak bola. Ia adalah fans berat Cristiano Ronaldo. Namun, belakangan ia juga menjadi sorotan berkat interaksinya dengan komunitas Indonesia. Dan benar saja, begitu tahu saya berasal dari Indonesia, matanya langsung berbinar.
“Aku Cinta Kamu!”: Bukti Speed Makin Jago Berbahasa Indonesia
Saya memulai percakapan dalam bahasa Inggris, memuji kontennya dan menanyakan pendapatnya tentang Piala Dunia mendatang. Namun, di tengah obrolan, tiba-tiba ia menatap saya, tersenyum lebar, dan melontarkan tiga kata yang membuat saya terkejut sekaligus bangga:
“Aku cinta kamu!” ucap Speed dengan logat khasnya yang lucu, tapi fasih.
Rupanya, ia sudah sering mendapat komentar dan pesan dari penggemar Indonesia, sehingga ia mulai mempelajari beberapa frasa. Tidak hanya “aku cinta kamu”, Speed juga menunjukkan bahwa ia hafal “apa kabar?”, “terima kasih”, dan bahkan “gue adalah Speed!” — yang terakhir diucapkannya dengan dialek Betawi, membuat saya tertawa geleng-geleng kepala. Momen ini menunjukkan betapa eratnya hubungan Speed dengan penggemar Tanah Air, yang jumlahnya mencapai jutaan orang.
Ketika saya bercerita bahwa Indonesia juga sangat antusias menyambut Piala Dunia 2026, meskipun Garuda belum berhasil lolos, Speed tampak bersemangat. Ia berjanji akan mengunjungi Indonesia suatu hari nanti. “I want to meet my fans there, I promise!” katanya sambil mengacungkan jempol.
Piala Dunia dan Jembatan Budaya
Apa yang saya alami dalam perjalanan ini adalah cerminan bahwa Piala Dunia bukan hanya urusan 22 pemain mengejar bola. Ia adalah katalis budaya yang luar biasa. Amerika Serikat, sebagai adidaya yang selama ini mengisolasi diri dari demam sepak bola global, sekarang membuka pintu lebar-lebar. Perubahan ini terasa dari trotoar hingga layar raksasa. Dan sosok seperti IShowSpeed menjadi bukti bahwa sepak bola mampu menyatukan orang dari belahan dunia yang berbeda — dalam kasus ini, antara AS dan Indonesia — melalui bahasa sepak bola, bahasa internet, dan bahasa persaudaraan.
Dari sorot lampu stadion megah hingga celoteh bahasa Indonesia seorang kreator konten muda, perjalanan ini mengajarkan saya satu hal: Piala Dunia 2026 akan menjadi lebih dari sekadar turnamen, ia akan menjadi perayaan kemanusiaan. Amerika Serikat mungkin bukan negara sepak bola secara tradisi, tetapi saat peluit pertama ditiupkan pada Juni 2026 nanti, jangan heran jika Negeri Paman Sam berubah menjadi pusat jagat sepak bola dunia.
[SOCIAL_TWEET]: Dari AS, jurnalis KLY Sports Hery Kurniawan menyaksikan langsung sambutan Piala Dunia 2026 dan bertemu IShowSpeed! Speed tunjukkan kemampuan bahasa Indonesianya: "Aku cinta kamu!" #PialaDunia2026 #IShowSpeed #WorldCup2026[SOCIAL_TG]: 🇺🇸🏟️ Hery Kurniawan dari KLY Sports berbagi kisah dari AS: persiapan Piala Dunia 2026 di negara yang bukan fans sepak bola, plus pertemuan tak terduga dengan IShowSpeed yang tiba-tiba bilang “Aku cinta kamu!” dalam bahasa Indonesia. Baca selengkapnya di sini!
Comments (0)