Hashim Bongkar Curhat Prabowo: Program Mulia Terhambat Eksekusi

Adik kandung sekaligus tokoh kepercayaan Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan unek-unek yang kerap dilontarkan sang kepala negara di balik layar. Dalam sebuah kesempatan, H...

Adik kandung sekaligus tokoh kepercayaan Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan unek-unek yang kerap dilontarkan sang kepala negara di balik layar. Dalam sebuah kesempatan, Hashim menceritakan bahwa Presiden Prabowo memiliki kegelisahan mendalam terhadap banyak inisiatif pemerintah yang sudah digagas dengan niat tulus, namun belum mampu mewujudkan dampak optimal akibat persoalan pada tahap pelaksanaan.

“Beliau seringkali menyampaikan kegundahannya kepada saya secara personal,” tutur Hashim. “Intinya, sudah banyak sekali program yang dirancang dengan semangat membantu rakyat, tetapi di lapangan justru kehilangan rohnya. Antara desain dan realisasi masih ada jarak yang cukup lebar.”

Pengakuan ini membuka lembaran baru tentang gaya kepemimpinan Prabowo yang selama ini dikenal tegas. Di balik citra militer dan retorika patriotiknya, terdapat sosok pemimpin yang kerap merenung dan frustrasi melihat birokrasi belum sepenuhnya mampu menerjemahkan visi nasional menjadi aksi konkret.

Akar Masalah: Dari Meja Rapat ke Lapangan

Berdasarkan penuturan Hashim, titik persoalan terbesar bukan terletak pada kualitas gagasan. Konsep-konsep yang dibawa Prabowo, mulai dari ketahanan pangan, hilirisasi sumber daya alam, hingga perlindungan sosial, dinilai memiliki fondasi kokoh dan relevan dengan kebutuhan zaman. Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika konsep itu bergulir melewati rantai birokrasi, anggaran, hingga ke tangan pelaksana di tingkat paling bawah.

“Presiden sering bilang, kita ini juara dalam membuat perencanaan yang hebat. Tetapi eksekusinya kerap tersendat di tengah jalan. Ada semacam gap antara kebijakan dan tindakan yang harus segera dijembatani,” Hashim menirukan nada prihatin Prabowo.

Fenomena ini bukan isapan jempol. Di banyak sektor, publik bisa menyaksikan kontradiksi serupa: bantuan pangan yang semestinya menjangkau 20 juta keluarga rentan, misalnya, realisasinya kerap terlambat atau datanya tumpang tindih. Proyek infrastruktur desa yang dianggarkan besar pun tak jarang menyisakan kualitas pengerjaan yang tidak sesuai spesifikasi. Padahal, secara dokumen dan niat awal, semuanya tampak ideal.

Pelaksana dan Koordinasi Jadi Kunci

Hashim menekankan bahwa dari sekian banyak keluhan Prabowo, satu benang merah utama adalah persoalan kapasitas dan koordinasi para pelaksana program. Presiden disebut sering menyoroti inkonsistensi antara target pusat dan kapasitas daerah. Otonomi yang seharusnya mempercepat layanan publik justru acapkali menjadi alasan lambatnya sinkronisasi data, distribusi sumber daya, dan pemantauan mutu.

“Pesan Presiden sangat jelas,” lanjut Hashim. “Ia ingin setiap kementerian dan lembaga tidak hanya sibuk dengan laporan indah di atas kertas. Harus ada keberanian untuk turun mengecek langsung, merevisi yang keliru, dan tidak takut mengakui bila ada yang belum beres.”

Sikap terbuka itu dinilai sebagai modal penting. Hashim menambahkan bahwa Prabowo tidak anti kritik. Justru, ia ingin jajarannya lebih jujur melaporkan kendala ketimbang menutupi dengan pencitraan. “Kalau ada yang salah, bilang saja salah. Lalu cari solusi bersama. Jangan malah ditutupi sampai akhirnya meledak jadi masalah besar,” ujar Hashim mengutip perkataan Prabowo.

Harapan Baru di Sisa Masa Jabatan

Pengakuan Hashim ini mencuat di saat pemerintah tengah memasuki periode krusial. Sejumlah program strategis nasional masih berjalan dan membutuhkan akselerasi. Publik pun menaruh ekspektasi tinggi agar evaluasi tidak hanya berhenti pada retorika, melainkan berwujud reformasi tata kelola.

Hashim sendiri optimistis bahwa kegelisahan Prabowo ini akan membawa perubahan signifikan. Ia menyebut bahwa Presiden telah menginstruksikan pembentukan satuan tugas khusus yang berfungsi melakukan audit implementasi di berbagai lini. Langkah itu ditujukan untuk memotret lebih jernih di mana letak kebocoran efektivitas program-program prioritas.

“Ini bukan soal mencari siapa yang salah. Ini tentang memperbaiki sistem agar niat baik tidak berhenti menjadi sekadar niat,” tegasnya.

Sikap reflektif yang disampaikan Hashim ini juga mendapat apresiasi dari sejumlah pengamat. Menurut mereka, keterbukaan seorang pemimpin untuk mengakui ketidaksempurnaan justru memperlihatkan kedewasaan dan komitmen kuat terhadap hasil, bukan sekadar popularitas sesaat. Dengan sisa waktu yang ada, masyarakat menanti bukti bahwa curhat Prabowo tersebut benar-benar menjelma menjadi aksi perbaikan yang terukur dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User