Harga Telur Peternak Anjlok, Pemerintah Lirik Pasar Singapura

Kondisi pasar telur ayam ras di tingkat peternak sedang dalam tekanan berat. Harga jual yang terus merosot tidak sebanding dengan biaya produksi yang tetap tinggi, terutama akibat kenaikan harga pakan...

Harga Telur Peternak Anjlok, Pemerintah Lirik Pasar Singapura

Kondisi pasar telur ayam ras di tingkat peternak sedang dalam tekanan berat. Harga jual yang terus merosot tidak sebanding dengan biaya produksi yang tetap tinggi, terutama akibat kenaikan harga pakan. Situasi ini mendorong Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengambil langkah tak biasa: membuka peluang ekspor ke Singapura dan negara-negara ASEAN lainnya. Namun, jalan menuju pasar internasional tidak mudah karena peternak harus memenuhi serangkaian persyaratan ekspor yang ketat.

Tekanan Ganda di Tingkat Peternak

Data dari asosiasi peternak menunjukkan bahwa harga telur di tingkat peternak pada Juni 2026 merosot hingga di bawah Rp20.000 per kilogram di sejumlah sentra produksi, turun lebih dari 25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi meskipun permintaan domestik relatif stabil. Di sisi lain, harga pakan ternak justru melonjak sekitar 15 persen year-on-year karena tingginya harga jagung dan bungkil kedelai di pasar global. Kondisi ini menjepit peternak dalam tekanan likuiditas yang serius.

Peternak skala kecil dan menengah paling merasakan dampaknya. Banyak di antara mereka terpaksa mengurangi populasi ayam petelur atau bahkan gulung tikar. Di Blitar, Jawa Timur, salah satu lumbung telur nasional, sejumlah koperasi melaporkan stok telur yang tidak terserap sempurna membanjiri gudang penyimpanan. Fenomena ini bukan hanya persoalan harga, melainkan juga kelebihan pasokan yang terhitung kronis akibat ekspansi usaha yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.

Misi Selamatkan Peternak Lewat Ekspor

Dalam konteks inilah Kemendag menginisiasi diskusi dengan otoritas perdagangan Singapura dan sejumlah negara ASEAN. Singapura menjadi target prioritas karena ketergantungannya yang tinggi pada impor produk pangan segar, termasuk telur. Selama ini, pasokan telur ke Singapura didominasi oleh Malaysia dan Thailand. Indonesia, dengan kapasitas produksi yang besar, sesungguhnya memiliki potensi untuk menjadi pemasok baru. Diskusi awal menyebutkan kuota awal yang bisa dialokasikan mencapai 500 ton per bulan, meski angka tersebut masih dalam tahap penjajakan.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag dalam sebuah kesempatan menjelaskan bahwa pemerintah siap memfasilitasi proses negosiasi dan harmonisasi standar. “Kami melihat peluang ini sebagai katup pengaman untuk menyerap kelebihan produksi. Namun, peternak dan eksportir harus siap memenuhi standar Singapore Food Agency yang sangat ketat,” ujarnya. Hal ini mencakup jaminan bebas residu antibiotik, sertifikasi sistem jaminan mutu, hingga ketertelusuran produk dari hulu ke hilir.

Persyaratan Ekspor yang Bukan Perkara Mudah

Tantangan terbesar dalam merealisasikan ekspor telur adalah pemenuhan standar keamanan pangan dan standar karantina. Singapura, misalnya, mensyaratkan seluruh telur impor berasal dari peternakan yang telah mendapatkan sertifikasi Good Agricultural Practices (GAP) dan terbebas dari penyakit unggas tertentu seperti Salmonella Enteritidis. Tidak hanya itu, fasilitas packing dan rantai dingin harus memenuhi standar internasional.

Saat ini, hanya segelintir peternakan besar di Indonesia yang memiliki sertifikasi tersebut. Untuk menjangkau pasar ekspor, dibutuhkan investasi perbaikan kandang, laboratorium pengujian, dan pelatihan sumber daya manusia. Biaya yang diperlukan untuk memenuhi standar ini tidak sedikit. Seorang pengamat ekonomi perunggasan dari Universitas Brawijaya, Dr. Andi Prasetyo, menilai bahwa pemerintah perlu memberikan insentif khusus agar peternak kecil bisa mengakses pasar ekspor melalui skema kemitraan atau koperasi. “Tanpa dukungan teknis dan finansial, ekspor telur hanya akan menjadi peluang bagi segelintir korporasi besar,” katanya.

Dinamika Pasar Internasional dan Prospek ke Depan

Di sisi lain, ekspor telur juga menghadapi dinamika persaingan global. Harga telur di pasar internasional saat ini juga mengalami fluktuasi akibat melimpahnya produksi di India dan Ukraina. Namun, keunggulan geografis Indonesia membuat biaya logistik ke Singapura dan Malaysia menjadi lebih rendah dibandingkan pesaing dari Eropa Timur. Faktor ketepatan waktu pengiriman menjadi nilai tambah yang signifikan.

Kemendag optimistis bahwa jika seluruh syarat dapat dipenuhi, Indonesia bisa menembus pasar ekspor dalam waktu enam hingga dua belas bulan ke depan. Rencananya, pemerintah juga akan membentuk satuan tugas khusus yang melibatkan Kementerian Pertanian, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan pelaku usaha untuk mempercepat proses sertifikasi dan promosi dagang. Di samping Singapura, negara tujuan lain seperti Filipina dan Timor Leste juga masuk dalam radar.

Bagi peternak, harapan terbesar adalah agar upaya ini tidak hanya menjadi wacana. Setiap hari keterlambatan berarti kerugian yang terus terakumulasi. Dengan fundamental produksi yang kuat dan dukungan kebijakan yang tepat, telur ayam ras Indonesia berpotensi menjadi komoditas ekspor unggulan baru yang mampu menopang kesejahteraan peternak nasional.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User