Harga Minyak Turun Tipis ke US$76, Konflik Iran-AS Berlanjut

Pasar energi global kembali mencatat dinamika pelik pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2025). Harga minyak mentah acuan Brent tergelincir tipis ke level US$76,12 per barel, turun 0,3% dari sesi se...

Harga Minyak Turun Tipis ke US$76, Konflik Iran-AS Berlanjut

Pasar energi global kembali mencatat dinamika pelik pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2025). Harga minyak mentah acuan Brent tergelincir tipis ke level US$76,12 per barel, turun 0,3% dari sesi sebelumnya, sementara West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 0,4% ke posisi US$73,45. Meskipun terjadi pelemahan harian, secara mingguan kedua kontrak masih bertengger di zona hijau dengan penguatan masing-masing 2,5% dan 2,2%, didorong oleh kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan di Timur Tengah yang kian memanas.

Data perdagangan dari ICE Futures Europe dan NYMEX menunjukkan bahwa volatilitas intraday tetap tinggi. Investor mengamati dengan cermat setiap perkembangan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali memanas pekan ini menjadi pemicu utama lonjakan premi risiko geopolitik pada harga minyak.

Eskalasi Konflik dan Risiko Pasokan

Situasi keamanan di Timur Tengah memburuk sejak awal pekan setelah serangkaian serangan udara dan sabotase kapal di perairan Teluk. Militer AS melaporkan peningkatan aktivitas angkatan laut Iran di dekat Selat Hormuz, sementara Teheran menuduh Washington memperluas eskalasi dengan mengerahkan kapal induk tambahan. Kondisi ini menimbulkan ancaman nyata terhadap aliran minyak, baik dari Iran sendiri maupun dari negara tetangga seperti Irak dan Arab Saudi yang menggunakan jalur yang sama.

Berdasarkan data Energy Information Administration (EIA) AS, kapasitas produksi Iran yang saat ini berada di kisaran 3,2 juta barel per hari berisiko terhenti sebagian jika konflik meluas. Analis senior dari sebuah bank investasi global, yang berbicara dengan syarat anonim, menuturkan,

"Jika terjadi blokade penuh di Selat Hormuz, hilangnya pasokan bisa mencapai 17 juta barel per hari. Itu adalah skenario terburuk yang belum pernah terjadi sejak Perang Teluk 1991."

Dua Sisi Analisis: Optimisme vs Kekhawatiran

Di satu sisi, banyak pelaku pasar yang tetap optimistis bahwa harga minyak tidak akan melonjak secara berkelanjutan. Mereka menyoroti fundamental pasar yang cenderung longgar. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) masih memiliki kapasitas cadangan yang cukup besar, diperkirakan sekitar 4 juta barel per hari, untuk mengkompensasi potensi kehilangan produksi Iran. Selain itu, permintaan global belum pulih sepenuhnya pasca pengetatan moneter di negara maju. Data terbaru dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan konsumsi minyak global hanya tumbuh 1,1% year-on-year pada kuartal kedua 2025, lebih rendah dari proyeksi awal 1,5%.

Dari sisi inventaris, stok minyak AS secara mengejutkan naik 3,5 juta barel pekan lalu, menurut laporan API, menjadi total 470 juta barel. Kondisi ini menandakan pasokan domestik yang cukup dan meredam tekanan harga. Di sisi lain, para analis yang cenderung bearish terhadap stabilitas harga justru mengkhawatirkan efek spillover dari perang Iran-AS ke seluruh kawasan. Mereka menunjuk pada sejarah: setiap kali terjadi ketegangan di Selat Hormuz, harga minyak melonjak setidaknya 15% dalam dua pekan, seperti yang terjadi pada 2019 pasca serangan drone ke fasilitas Aramco.

Kekhawatiran lain datang dari faktor iklim dan geopolitik tambahan. Musim badai Atlantik yang diprediksi lebih aktif tahun ini mengancam produksi minyak lepas pantai di Teluk Meksiko, sementara sanksi baru terhadap Venezuela dan ketidakstabilan di Libya turut menambah lapisan risiko. Dengan demikian, para trader tidak bisa sepenuhnya mengandalkan cadangan global untuk menenangkan pasar.

Proyeksi dan Implikasi Ekonomi

Berdasarkan data Bank Dunia dan IMF, setiap kenaikan harga minyak berkelanjutan sebesar 10% berpotensi mengurangi pertumbuhan PDB global sebesar 0,2% hingga 0,4%. Bagi Indonesia sebagai importir bersih minyak—dengan konsumsi harian sekitar 1,7 juta barel dan produksi hanya 0,6 juta barel—lonjakan harga akan langsung menekan anggaran subsidi energi dan nilai tukar rupiah. Menteri Keuangan Indonesia dalam kesempatan terpisah menyatakan bahwa pemerintah telah menyiapkan skenario jika harga minyak menembus US$85 per barel, yang dapat memicu pelebaran defisit fiskal sebesar 0,3% terhadap PDB.

Dari kacamata portofolio, investor asing cenderung melakukan capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Hal ini tercermin dari pelemahan IHSG sebesar 0,8% pada sesi Jumat, sejalan dengan pelemahan mata uang Garuda ke level Rp15.750 per dolar AS. Sentimen ini diperkuat oleh data BI yang menunjukkan arus keluar modal asing di pasar obligasi mencapai Rp3,2 triliun dalam dua hari terakhir.

Meski demikian, ada pula pandangan bahwa koreksi harga minyak yang terbatas pada Jumat menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya panic. Analis dari Beritadua menilai bahwa pelaku pasar masih menimbang probabilitas antara terjadinya disrupsi fisik dan hanya sebatas retorika politik.

"Kita perlu menunggu apakah ada eskalasi konkret seperti penyerangan langsung ke infrastruktur minyak. Sampai itu terjadi, volatilitas akan tetap tinggi namun tanpa arah yang pasti,"
pungkas Buffy, Analis Ekonomi Senior Beritadua.

Sementara itu, para pengamat menyarankan agar investor dan pemerintah tetap waspada. Diversifikasi sumber impor minyak, percepatan transisi energi, serta penguatan cadangan devisa menjadi langkah antisipasi yang kian krusial. Ke depan, pergerakan harga minyak akan sangat bergantung pada hasil dari perundingan gencatan senjata yang difasilitasi Uni Emirat Arab dan kapasitas produksi OPEC+ dalam merespons krisis. Untuk saat ini, angka US$76 masih menjadi level psikologis yang terus dipantau dengan intens.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User