Festival Pangan Lestari Dorong Kesadaran Konsumsi Berkelanjutan Warga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, konsumsi pangan rumah tangga Indonesia masih didominasi produk olahan impor, dengan pangsa mencapai sekitar 28 persen dari total belanja pangan n...

Oct 11, 2026 - 19:25
0 1
Festival Pangan Lestari Dorong Kesadaran Konsumsi Berkelanjutan Warga

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2024, konsumsi pangan rumah tangga Indonesia masih didominasi produk olahan impor, dengan pangsa mencapai sekitar 28 persen dari total belanja pangan nasional. Angka ini menjadi salah satu pemicu munculnya berbagai inisiatif edukasi publik, termasuk Festival Jejak Pangan Lestari 2026 yang digelar di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 10 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan rangkaian kegiatan mulai dari edukasi pangan lokal, pertanian perkotaan, hingga pemilahan sampah organik, sebagai upaya membangun kesadaran kolektif terhadap sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Pangan Lokal dan Ketahanan Domestik

Di satu sisi, penguatan konsumsi pangan lokal dinilai menjadi kunci memperkuat ketahanan pangan nasional. Data Kementerian Pertanian menunjukkan produksi padi nasional pada 2024 mencapai 30,4 juta ton gabah kering giling, atau mengalami kenaikan tipis 1,2 persen year-on-year dibanding 2023. Namun, tingkat konsumsi beras per kapita justru menurun dari 94,9 kg pada 2022 menjadi sekitar 92,4 kg pada 2024, yang menandakan pergeseran pola konsumsi masyarakat menuju sumber karbohidrat alternatif seperti jagung, singkong, dan sagu.

Tren ini menjadi peluang bagi diversifikasi pangan lokal. Sektor pertanian perkotaan, misalnya, mencatat pertumbuhan jumlah komunitas urban farming hingga 17 persen pada 2025 menurut data Dinas Ketahanan Pangan DKI Jakarta. Kegiatan ini tidak hanya menyediakan bahan pangan segar, tetapi juga memangkas rantai distribusi yang selama ini berkontribusi pada inflasi pangan, terutama saat periode hari besar keagamaan.

Pro dan Kontra Efektivitas Edukasi

Pro: Kegiatan seperti festival pangan lestari memberikan literasi praktis kepada masyarakat, terutama generasi muda, mengenai nilai gizi, asal-usul pangan, dan dampak lingkungan dari pola konsumsi. Edukasi pemilahan sampah organik juga berkorelasi positif dengan pengurangan beban tempat pembuangan akhir, mengingat sekitar 60 persen sampah rumah tangga nasional merupakan sampah organik.

Kontra: Sejumlah pengamat menilai pendekatan festival bersifat musiman dan cenderung seremonial. Tanpa dukungan kebijakan fiskal, insentif harga, dan infrastruktur pascapanen yang memadai, perubahan perilaku konsumen berpotensi tidak berkelanjutan. Selain itu, biaya produksi pangan organik dan lokal sering kali lebih tinggi 15 hingga 25 persen dibanding produk konvensional, sehingga secara valuasi ekonomi masih sulit dijangkau kelompok menengah ke bawah.

"Literasi pangan harus disertai akses harga yang terjangkau. Tanpa itu, kesadaran konsumen hanya berhenti di tingkat wacana," ujar seorang ekonom pangan dari sebuah lembaga riset independen.

Sentimen Pasar dan Proyeksi ke Depan

Dari sisi fundamental, sektor pertanian menyumbang sekitar 12,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2024, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 28 persen. Likuiditas sektor ini masih menjadi tantangan karena akses kredit perbankan untuk petani kecil relatif terbatas, tercermin dari rasio kredit UMKM pertanian yang baru menyentuh 6,8 persen dari total portofolio pinjaman perbankan nasional.

Sentimen pasar terhadap produk pangan berkelanjutan sebenarnya positif. Survei konsumen menunjukkan 64 persen responden urban bersedia membayar lebih untuk produk ramah lingkungan, meski hanya 31 persen yang benar-benar merealisasikannya. Gap antara niat dan perilaku inilah yang coba dijembatani oleh festival seperti ini.

Proyeksi ke depan, jika tren urban farming dan konsumsi pangan lokal terus tumbuh, indeks ketahanan pangan Indonesia berpotensi naik dari posisi 63 pada Global Food Security Index 2024. Namun, tanpa perbaikan tata kelola rantai pasok, penurunan kehilangan hasil pascapanen yang saat ini mencapai 20 persen, serta pengendalian capital outflow di sektor input pertanian, capaian tersebut akan sulit direalisasikan. Festival hanyalah pintu masuk; kebijakan struktural tetap menjadi penentu utama keberlanjutan sistem pangan nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User