Dukungan BRI Perkuat Daya Saing Tenun Troso di Pasar Global

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 64 juta unit dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, dengan kontribusi terhadap produk domesti...

Dukungan BRI Perkuat Daya Saing Tenun Troso di Pasar Global

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM di Indonesia mencapai lebih dari 64 juta unit dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja nasional, dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai sekitar 61 persen. Namun, porsi ekspor UMKM masih tertinggal, baru sekitar 15 persen dari total ekspor nasional. Kesenjangan inilah yang membuat pendampingan perbankan terhadap pelaku usaha kecil kerap menjadi sorotan. Salah satu contohnya adalah pembinaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. kepada KAINRATU, perajin kain tenun ikat Troso asal Jepara, Jawa Tengah, yang produknya kini berhasil menembus pasar global.

Program pemberdayaan yang dijalankan bank pelat merah itu tidak berhenti pada penyaluran kredit. Pelatihan kewirausahaan, pendampingan kualitas produksi, perbaikan kemasan, hingga pembukaan akses pasar menjadi satu paket pendampingan yang menyertai usaha tenun ikat tersebut. Hasilnya, kain yang sebelumnya banyak dijual di pasar tradisional dan toko oleh-oleh kini mulai merambah kanal modern, pameran dagang, hingga permintaan ekspor ke sejumlah negara di Asia Tenggara dan Eropa.

UMKM Tekstil di Tengah Tekanan Industri

Kabar ini muncul di tengah kondisi industri tekstil domestik yang masih bergelut dengan tekanan impor dan fluktuasi permintaan. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk tekstil dalam beberapa tahun terakhir bergerak fluktuatif dan sempat mengalami penurunan dua digit year-on-year pada 2023, seiring melemahnya permintaan global serta masuknya produk impor dengan harga lebih murah. Kinerja sektor ini baru perlahan menggeliat kembali, tetapi belum sepenuhnya pulih ke level sebelum pandemi.

Di sisi lain, produk kerajinan berbasis budaya justru menunjukkan tren yang berbeda. Tenun ikat, batik, dan produk fesyen etnik lain dianggap memiliki nilai tambah yang sulit ditiru karena mengandalkan keterampilan turun-temurun. Menurut para pengamat industri kreatif, keunikan dan cerita di balik setiap helai benang menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen luar negeri yang mencari produk berkelanjutan. 'Kekuatan produk semacam ini ada pada autentisitasnya, bukan pada volume produksinya,' begitu penilaian yang kerap disampaikan para praktisi.

BRI: Dari Kredit hingga Jembatan ke Pasar Ekspor

Dalam kasus KAINRATU, peran BRI dapat dilihat dari tiga sisi. Pertama, pembiayaan. Akses terhadap kredit usaha rakyat (KUR) memberikan likuiditas bagi pengadaan bahan baku benang dan pewarna. Kedua, penguatan kapasitas. Pelatihan manajemen, pembukuan, hingga standardisasi kualitas membantu usaha itu naik kelas dari skala rumahan menjadi lebih terstruktur. Ketiga, akses pasar. Pendampingan membuka jalan ke pameran dagang, kurasi produk, dan misi dagang dengan calon pembeli dari luar negeri.

Model seperti ini sejalan dengan tren perbankan yang mulai menggeser portofolio kreditnya dari sekadar menyalurkan dana menjadi pendampingan ekosistem. Bagi perbankan, UMKM tetap menjadi segmen yang menjanjikan: rasio kredit UMKM terhadap total kredit nasional terus dijaga, sementara tingkat kredit bermasalah di segmen ini relatif terkendali berkat pendampingan yang berkelanjutan. Kombinasi antara modal dan pembinaan inilah yang menjadi pembeda dibanding pendekatan konvensional yang hanya berhenti pada pencairan pinjaman.

Dua Perspektif: Optimisme dan Catatan Kritis

Di satu sisi, keberhasilan KAINRATU menjadi bukti bahwa pemberdayaan berbasis ekosistem bekerja. Kapasitas produksi meningkat, kualitas produk membaik, dan yang terpenting, ada permintaan nyata dari luar negeri. Pengalaman ini juga bisa menjadi replika bagi ribuan perajin tenun lain di daerah-daerah, dari Troso, Sumba, hingga Lombok, yang selama ini kesulitan menembus pasar karena keterbatasan akses.

Di sisi lain, sejumlah pengamat mengingatkan agar keberhasilan kasus per kasus tidak dibaca berlebihan. Tidak semua UMKM memiliki kapasitas menyerap pelatihan, dan pendampingan yang efektif membutuhkan biaya serta waktu yang tidak sedikit. Ada pula risiko ketergantungan pada satu lembaga pembiayaan serta kejenuhan pasar apabila produk serupa diproduksi secara massal tanpa menjaga kualitas. Tanpa replikasi yang masif dan dukungan kebijakan, dampak program semacam ini berisiko tetap timpang antardaerah.

Proyeksi: Peluang Ekspor dan Pekerjaan Rumah

Ke depan, proyeksi permintaan produk fesyen etnik global masih menjanjikan. Tren slow fashion, kesadaran konsumen terhadap keberlanjutan, dan preferensi terhadap produk buatan tangan menjadi sentimen pasar yang mendukung. Fundamental usaha kecil di sektor kerajinan juga dinilai kuat karena bahan baku lokal, struktur biaya yang relatif efisien, serta permintaan yang terdiversifikasi ke berbagai segmen.

Namun, pekerjaan rumah tetap banyak. Diperlukan perlindungan hak kekayaan intelektual agar motif tenun tidak diklaim pihak lain, standardisasi kualitas agar konsisten, serta diversifikasi pasar agar ekspor tidak menggantung pada satu atau dua negara tujuan. Pelemahan nilai tukar rupiah yang kerap diiringi arus keluar modal (capital outflow) di pasar keuangan bisa menjadi pisau bermata dua: di satu sisi menguntungkan eksportir, di sisi lain menaikkan biaya bahan baku impor. Penetapan harga juga menjadi tantangan klasik, sebab valuasi produk kerajinan selama ini kerap belum mencerminkan waktu dan keterampilan yang terkandung di dalamnya.

Keberhasilan KAINRATU membuktikan bahwa tenun Troso tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga komoditas bernilai ekonomi. Namun, agar cerita serupa terulang di lebih banyak daerah, kolaborasi antara perbankan, pemerintah, dan komunitas perajin harus diperluas. Dengan pendekatan yang tepat, pemberdayaan UMKM tidak sekadar menjadi program, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User