DPR Sebut Destry Damayanti Pas Pimpin BI Jaga Rupiah

Penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Bank Indonesia memperoleh dukungan penuh dari Komisi XI DPR RI. Langkah ini dinilai tepat untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah te...

Jul 27, 2026 - 19:41
0 3
DPR Sebut Destry Damayanti Pas Pimpin BI Jaga Rupiah

Penunjukan Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Bank Indonesia memperoleh dukungan penuh dari Komisi XI DPR RI. Langkah ini dinilai tepat untuk memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga di tengah gelombang ketidakpastian global. Destry yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior BI dipercaya memiliki kapasitas dan jam terbang tinggi dalam merespons dinamika pasar yang bergerak cepat.

Wakil Ketua Komisi XI DPR, Mohamad Hekal, menegaskan bahwa penunjukan itu telah sepenuhnya sejalan dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menurutnya, Undang-Undang Bank Indonesia memberi mandat kepada Deputi Gubernur Senior untuk menjalankan fungsi Gubernur ketika yang bersangkutan berhalangan. "Ini bukan sekadar solusi administratif, melainkan pilihan yang sangat ideal. Pengalaman Ibu Destry dalam pengelolaan moneter dan pasar keuangan menjadi modal utama untuk melanjutkan tugas berat menjaga rupiah," ujarnya.

Hekal mengingatkan, saat ini perekonomian Indonesia sedang menghadapi tekanan eksternal yang cukup signifikan. Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat, potensi perlambatan ekonomi Tiongkok, dan konflik geopolitik yang memicu lonjakan harga komoditas menjadi kombinasi yang menguji ketahanan eksternal negeri. "Kita butuh figur yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga punya naluri pasar. Destry Damayanti adalah sosok yang memenuhi kriteria itu," tambahnya.

Landasan Hukum yang Tak Terbantahkan

Dari sisi regulasi, posisi Pelaksana Tugas Gubernur BI memiliki pijakan yang sangat kokoh. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang telah beberapa kali diubah dan terakhir diperkuat melalui UU Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (PPSK), secara eksplisit menyatakan bahwa Deputi Gubernur Senior bertindak sebagai pemimpin bank sentral apabila Gubernur tidak dapat melaksanakan kewajibannya. Ketentuan ini dirancang untuk memastikan tidak ada kekosongan kepemimpinan yang dapat menimbulkan spekulasi dan ketidakpastian di pasar.

Destry akan memegang kendali hingga masa tugas Gubernur Perry Warjiyo kembali normal. Konfirmasi dari parlemen ini juga sekaligus meredam isu yang sempat berkembang mengenai transisi di tubuh Bank Indonesia, memberikan sinyal bahwa check and balance antara legislatif dan bank sentral tetap berjalan secara proporsional dan tanpa friksi.

Tekanan pada Rupiah dan Ekspektasi Pasar

Nilai tukar rupiah memang sedang berada dalam tekanan. Berdasarkan data pasar, pada awal pekan ini rupiah ditransaksikan di kisaran Rp15.820–Rp15.860 per dolar AS, melemah 0,4% secara year-to-date akibat capital outflow yang masih deras. Imbal hasil surat utang global yang tetap atraktif, seiring dengan proyeksi penurunan suku bunga The Fed yang lebih lambat dari perkiraan awal, membuat aliran dana asing masih enggan masuk secara agresif ke instrumen rupiah.

Dalam situasi seperti ini, kepemimpinan Destry dinilai mampu memberikan rasa aman kepada pelaku pasar. Ia pernah memimpin Departemen Pengelolaan Moneter BI dan dikenal sangat piawai dalam membaca arah pergerakan valuta asing serta mengelola likuiditas di pasar uang. Langkah-langkah seperti intervensi di pasar spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), hingga operasi moneter yang terukur diharapkan tetap dapat dijalankan secara presisi di bawah komandonya.

Profil Destry Damayanti: Pengalaman Panjang di Medan Berat

Destry Damayanti bukan nama baru di dunia kebijakan ekonomi dan keuangan. Sebelum menjabat Deputi Gubernur Senior BI pada tahun 2019, ia menapaki karir sebagai ekonom di berbagai lembaga internasional, termasuk International Monetary Fund (IMF). Rekam jejaknya yang sangat dekat dengan isu stabilitas sistem keuangan dan pengelolaan risiko makroekonomi membuatnya sering menjadi rujukan dalam forum-forum global.

Selama menangani sektor moneter di Bank Indonesia, Destry terlibat langsung dalam perumusan respons bank sentral terhadap pandemi COVID-19, di mana BI harus melakukan burden sharing dengan pemerintah serta menggelontorkan likuiditas secara terukur untuk mencegah kontraksi ekonomi yang lebih dalam. Kemampuannya menerjemahkan kompleksitas data ekonomi menjadi kebijakan konkret mendapat pengakuan dari berbagai kalangan, termasuk lembaga pemeringkat internasional yang tetap menempatkan outlook Indonesia pada level stabil.

Komisi XI DPR menilai, pengalaman itu jauh lebih penting daripada sekadar nama besar. "Beliau paham bahwa menjaga stabilitas rupiah bukan hanya soal menaikkan suku bunga acuan, melainkan soal komunikasi publik yang kredibel dan timing intervensi yang tepat. Itu hanya bisa dimiliki oleh orang yang sudah melewati berbagai siklus krisis," kata seorang anggota dewan.

Prospek Stabilitas dalam Kepemimpinan Sementara

Meski hanya bersifat sementara, peran Destry diyakini akan cukup strategis untuk menjaga persepsi positif investor. Beberapa analis memperkirakan, selama masa transisi ini, Bank Indonesia akan tetap mempertahankan bauran kebijakan yang sudah berjalan, termasuk memegang suku bunga acuan di level 6,25% untuk menjaga imbal hasil instrumen rupiah tetap menarik. Hal ini penting untuk mencegah pelebaran defisit transaksi berjalan dan menahan laju inflasi impor.

Sentimen positif juga tampak dari pergerakan pasar obligasi pemerintah yang relatif stabil setelah pengumuman penunjukan Pelaksana Tugas. Tidak terjadi lonjakan imbal hasil secara signifikan, tanda bahwa pelaku pasar tidak memandang peristiwa ini sebagai gangguan terhadap independensi atau kredibilitas BI.

DPR berharap, seluruh jajaran Bank Indonesia tetap solid di bawah arahan sementara Destry. Sejumlah agenda penting, seperti lelang surat berharga negara, serta rapat koordinasi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), diharapkan tidak terganggu dan tetap menghasilkan keputusan yang terbaik bagi perekonomian nasional. "Stabilitas kurs bukan hanya urusan nominal, melainkan fondasi bagi kepercayaan dunia usaha dan investasi. Dengan Ibu Destry di posisi kemudi saat ini, kita optimistis rupiah bisa melewati turbulensi global," pungkas Hekal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User