Destry Damayanti: Stabilitas Rupiah Prioritas Transisi BI

Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia mengejutkan pasar keuangan domestik. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, ditunjuk sebaga...

Destry Damayanti: Stabilitas Rupiah Prioritas Transisi BI

Pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia mengejutkan pasar keuangan domestik. Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI. Dalam pernyataan perdananya, Destry menegaskan bahwa pengelolaan nilai tukar rupiah akan menjadi fokus utama bank sentral di masa transisi ini.

"Nilai tukar prioritas kita," tegas Destry, seperti dikutip dari konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/5/2025).

Berdasarkan data Bank Indonesia per 20 Mei 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada pada level Rp15.950 per dolar AS, melemah 2,3% secara year-to-date (ytd) dibandingkan posisi akhir 2024 di Rp15.590. Tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari ketidakpastian global dan penyesuaian kebijakan moneter di negara maju.

Tantangan Ganda: Global dan Domestik

Di satu sisi, kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral AS, The Fed, yang masih bertahan di level 5,25-5,50% membuat imbal hasil aset berdenominasi dolar AS lebih menarik. Kondisi ini memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) pada April 2025 turun sekitar Rp12,3 triliun menjadi Rp985,7 triliun. Arus keluar modal asing ini langsung memberikan tekanan pada rupiah.

Di sisi lain, permintaan valas domestik menjelang pembayaran dividen dan repatriasi laba korporasi multinasional pada kuartal kedua juga menambah beban. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada triwulan I-2025 tercatat sebesar 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB), sedikit melebar dari triwulan sebelumnya, yang menandakan permintaan dolar untuk impor dan jasa masih cukup kuat.

Prospek: Stabilitas atau Intervensi Agresif?

Destry Damayanti, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior, dikenal memiliki pengalaman panjang di bidang kebijakan moneter dan sistem pembayaran. Fokusnya pada stabilitas nilai tukar mendapat dukungan dari banyak ekonom, mengingat rupiah yang stabil sangat vital untuk menjaga inflasi impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi kelompok volatile food pada April 2025 mencapai 5,7% (year-on-year), didorong oleh harga pangan impor yang terdampak pelemahan rupiah. Dengan demikian, menjaga nilai tukar akan membantu meredam tekanan inflasi, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Namun, ada sejumlah analis yang mempertanyakan apakah intervensi pasar valas secara berlebihan akan mengurangi cadangan devisa. Cadangan devisa Indonesia per akhir April 2025 tercatat sebesar 140,2 miliar dolar AS, turun tipis dari 141,7 miliar dolar AS pada Maret. Penurunan ini, meskipun masih aman, menimbulkan kekhawatiran jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut dan BI harus melakukan sterilisasi secara agresif.

Dua Sisi Kebijakan

Pro: Memprioritaskan nilai tukar dapat memberikan kepastian bagi pelaku usaha dan investor. Seperti dikatakan oleh Kepala Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, "Stabilitas rupiah adalah prasyarat untuk menjaga kepercayaan pasar. Tanpa itu, aliran modal masuk akan tertahan." Selain itu, rupiah yang stabil membantu perencanaan anggaran perusahaan, terutama yang memiliki eksposur valas tinggi.

Kontra: Di sisi lain, fokus tunggal pada nilai tukar bisa mengorbankan instrumen suku bunga. Beberapa ekonom berpendapat bahwa BI mungkin perlu mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate yang saat ini di level 6,25% untuk menarik aliran modal portofolio, tetapi kenaikan suku bunga terlalu tinggi bisa menekan pertumbuhan kredit dan ekonomi domestik. "Ada trade-off yang harus dikelola dengan hati-hati," ujar analis senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Teuku Riefky.

Lebih lanjut, kebijakan moneter yang terlalu ketat dapat memperlambat pemulihan sektor riil, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih bergantung pada kredit perbankan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa kredit perbankan pada Maret 2025 tumbuh 10,1% yoy, tetapi kredit UMKM hanya tumbuh 6,8%, di bawah target pertumbuhan secara keseluruhan.

Proyeksi dan Ekspektasi Pasar

Pasar merespons pergantian ini dengan pergerakan yang relatif terbatas. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada 20 Mei 2025 ditutup melemah tipis 0,3% ke level 7.255, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 6,78%. Pelaku pasar tampaknya mengambil sikap wait and see, menunggu kejelasan arah kebijakan di bawah Plt. Gubernur BI yang baru.

Destry Damayanti diharapkan mampu menjaga koordinasi yang erat dengan pemerintah dan otoritas jasa keuangan untuk menjaga stabilitas makroprudensial. Ia juga akan menghadapi ujian besar dalam rapat dewan gubernur BI berikutnya yang akan menentukan arah suku bunga acuan. Pasar memperkirakan BI akan menahan suku bunga pada tingkatan saat ini, dengan mempertimbangkan inflasi inti yang masih terjaga di 2,3% yoy pada April 2025.

Dengan pengalaman Destry yang mencakup krisis 2008 dan 2013, banyak pihak optimistis bahwa bank sentral tetap berada di tangan yang kapabel. Namun, kejelasan mengenai gubernur definitif tetap dinantikan karena kepastian institusional sangat penting dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi.

Berdasarkan data-data terkini, rupiah diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp15.800-16.200 per dolar AS dalam jangka pendek, dengan bias pelemahan terbatas. Kebijakan Destry yang fokus pada nilai tukar menjadi kunci, tetapi intervensi sendirian tidak cukup tanpa dukungan kebijakan fiskal dan reformasi struktural. Pasar akan terus mencermati setiap kebijakan dari Plt. Gubernur BI ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User