Oct 10, 2026
Bisnis

Dari Hobi Merajut, EKKYTA Semarang Kembangkan Ekonomi Kreatif

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, sektor ekonomi kreatif di Indonesia mencatatkan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto nasional dengan pertumbuhan year-on...

Dari Hobi Merajut, EKKYTA Semarang Kembangkan Ekonomi Kreatif

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, sektor ekonomi kreatif di Indonesia mencatatkan kontribusi signifikan terhadap produk domestik bruto nasional dengan pertumbuhan year-on-year yang konsisten dalam lima tahun terakhir. Di tengah tren tersebut, sebuah usaha mikro yang berbasis di Semarang menunjukkan bagaimana hobi personal dapat bertransformasi menjadi entitas bisnis yang menciptakan nilai tambah ekonomi. EKKYTA, usaha kriya yang dirintis Indah Prihatiningsih, berawal dari aktivitas merajut di waktu luang, namun kini tumbuh menjadi usaha kreatif yang menyerap tenaga kerja dan memberdayakan masyarakat sekitar.

Fenomena ini menarik untuk dicermati dari kacamata makroekonomi. Usaha mikro, kecil, dan menengah menyumbang sekitar 61 persen dari PDB nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja, menurut data Kementerian KUKM per 2023. Artinya, setiap usaha kecil yang berhasil naik kelas memberikan kontribusi nyata terhadap penciptaan lapangan kerja dan penguatan fundamental ekonomi daerah.

Transformasi Hobi Menjadi Model Bisnis Berkelanjutan

Perjalanan EKKYTA menunjukkan pola khas usaha kreatif yang bertumpu pada diferensiasi produk. Alih-alih bersaing pada harga, usaha ini menekankan keunikan desain dan kualitas pengerjaan. Strategi semacam ini relevan dengan karakteristik pasar kriya nasional yang memiliki ceruk konsumen dengan preferensi nilai estetika dan keaslian produk.

Di satu sisi, pendekatan berbasis keunikan produk menawarkan margin keuntungan yang lebih baik dibandingkan produk massal. Konsumen pada segmen ini umumnya kurang sensitif terhadap harga dan lebih mengutamakan nilai cerita di balik produk. Sentimen pasar terhadap produk lokal yang autentik juga cenderung positif seiring meningkatnya kesadaran konsumen akan keberlanjutan dan pemberdayaan komunitas.

Di sisi lain, model bisnis seperti ini menghadapi tantangan konsistensi produksi. Kapasitas terbatas, ketergantungan pada keterampilan perajin, dan kebutuhan inovasi desain yang berkelanjutan menjadi kendala struktural yang lazim dialami usaha mikro di sektor kriya. Tanpa dukungan permodalan dan akses pasar yang memadai, usaha semacam ini rentan stagnan pada skala tertentu.

Pemberdayaan Masyarakat dan Multiplier Effect Ekonomi

Salah satu aspek yang membedakan EKKYTA adalah orientasi pada pelatihan masyarakat. Langkah ini memiliki implikasi ekonomi yang lebih luas daripada sekadar ekspansi bisnis. Ketika sebuah usaha mentransfer keterampilan kepada warga sekitar, terjadi apa yang dalam teori ekonomi disebut sebagai multiplier effect, yakni penggandaan manfaat ekonomi dari satu unit aktivitas usaha ke komunitas yang lebih besar.

Pelatihan keterampilan merajut dan kriya membuka peluang pendapatan tambahan bagi rumah tangga, terutama di segmen perempuan yang sering menghadapi keterbatasan akses kerja formal. Dari perspektif likuiditas rumah tangga, tambahan penghasilan ini meningkatkan daya beli dan pada akhirnya berkontribusi pada konsumsi agregat daerah. Rasio partisipasi angkatan kerja perempuan yang masih di bawah laki-laki menjadikan inisiatif semacam ini strategis secara sosial maupun ekonomi.

"Usaha kreatif berbasis komunitas memiliki keunggulan pada aspek legitimasi sosial dan keberlanjutan, karena pertumbuhannya berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat," ujar seorang pengamat ekonomi koperasi dan UMKM.

Proyeksi dan Tantangan di Tengah Persaingan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor kriya nasional masih positif, didorong oleh digitalisasi pemasaran dan meningkatnya permintaan pasar ekspor terhadap produk handmade. Namun, sejumlah tantangan perlu diantisipasi. Pertama, fluktuasi harga bahan baku seperti benang dan serat alam yang dapat menekan margin. Kedua, persaingan dengan produk impor berharga rendah yang membanjiri kanal e-commerce.

Pro: masuknya usaha kreatif seperti EKKYTA ke ekosistem digital membuka akses pasar yang jauh lebih luas, termasuk peluang ekspor ke negara dengan permintaan tinggi terhadap produk kriya tropis. Kontra: tanpa standarisasi kualitas dan manajemen rantai pasok yang baik, ekspansi digital dapat menimbulkan masalah kapasitas dan konsistensi pengiriman.

Dari sisi pembiayaan, akses terhadap kredit usaha mikro menjadi variabel kunci. Data OJK menunjukkan rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19 hingga 20 persen, di bawah target pemerintah sebesar 30 persen. Kesenjangan ini menandakan masih ada ruang bagi intermediasi keuangan yang lebih inklusif, termasuk melalui skema kemitraan dengan lembaga keuangan dan platform digital.

Secara keseluruhan, kisah EKKYTA merefleksikan potensi ekonomi kreatif berbasis komunitas sebagai penggerak pertumbuhan inklusif. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari valuasi usaha, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang mengalir ke masyarakat. Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum inovasi, memperkuat fundamental usaha, dan memastikan akses pasar serta permodalan yang berkelanjutan agar tren positif ini tidak berhenti pada tahap awal pertumbuhan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User