Danantara Pastikan Pelindo dan Pelni Tetap Terpisah
Berdasarkan pernyataan Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/1/2025), dipastikan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dan PT Pelay...
Berdasarkan pernyataan Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, pada konferensi pers di Jakarta, Selasa (21/1/2025), dipastikan bahwa PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo dan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni tidak akan digabungkan atau dimerger. Keputusan ini menegaskan arah konsolidasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor logistik dan transportasi laut tetap mempertimbangkan perbedaan model bisnis masing-masing perusahaan. Bagi pembaca awam, merger adalah penggabungan dua perusahaan atau lebih menjadi satu entitas tunggal, sedangkan Pelindo dan Pelni memiliki lini usaha yang berbeda meski keduanya bergerak di sektor maritim.
Perbedaan Fundamental Model Bisnis Menjadi Alasan Utama
Dony Oskaria menjelaskan bahwa Pelindo beroperasi sebagai pengelola pelabuhan atau operator terminal, yang pendapatannya berasal dari jasa bongkar muat, penumpukan peti kemas, dan layanan kepelabuhanan lainnya. Sementara itu, Pelni berfokus pada jasa angkutan penumpang dan barang antarpulau, dengan armada kapal yang melayani rute tol laut serta daerah terpencil. Perbedaan ini menciptakan struktur pendapatan, risiko operasional, dan kebutuhan investasi yang tidak sejalan jika dipaksakan berada dalam satu atap. Di satu sisi, penggabungan berpotensi menciptakan skala ekonomi dan efisiensi biaya, terutama dalam pengadaan bahan bakar serta integrasi rantai pasok logistik. Di sisi lain, perbedaan fundamental tersebut berisiko menimbulkan dis-sinergi, tumpang tindih kebijakan, dan distorsi alokasi sumber daya yang justru memperlambat kinerja kedua perusahaan.
Kinerja Keuangan dan Kontribusi terhadap Sektor Logistik
Merujuk pada laporan keuangan tahun buku 2023, Pelindo mencatatkan pendapatan usaha sekitar Rp 25,6 triliun, tumbuh sekitar 8,4 persen secara year-on-year. Laba bersih perseroan berada di kisaran Rp 3,1 triliun, ditopang kenaikan arus peti kemas nasional yang mencapai 17,2 juta TEUs pada periode yang sama. Adapun Pelni, berdasarkan data yang sama, membukukan pendapatan sekitar Rp 4,9 triliun dengan jumlah penumpang terangkut mencapai 5,3 juta orang dan volume kargo sekitar 2,1 juta ton. Angka-angka ini menunjukkan skala usaha Pelindo yang jauh lebih besar, sehingga integrasi paksa berpotensi mengaburkan fokus pengelolaan pelabuhan yang menjadi tulang punggung logistik nasional.
Dari perspektif makro, sektor transportasi laut menyumbang sekitar 6,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2023, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS). Rasio logistik terhadap PDB Indonesia masih berada di kisaran 14 persen, lebih tinggi dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang sekitar 13 persen dan Singapura yang di bawah 8 persen. Dalam konteks ini, penajaman peran masing-masing BUMN dianggap lebih fundamental ketimbang konsolidasi yang hanya mengejar sentimen pasar jangka pendek.
Pro dan Kontra Rencana Konsolidasi BUMN Maritim
Wacana merger Pelindo dan Pelni sebelumnya mencuat sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat industri pelayaran nasional menghadapi persaingan global. Pro: konsolidasi dapat meningkatkan daya tawar terhadap operator internasional, memperkuat likuiditas, serta mempermudah akses pendanaan melalui skema holding yang lebih terintegrasi. Kontra: perbedaan budaya korporasi, regulasi tarif, dan mandat pelayanan publik Pelni sebagai penyedia tol laut membuat integrasi berisiko menimbulkan konflik kepentingan. Selain itu, capital outflow di sektor pelayaran masih menjadi tantangan, dengan ketergantungan pada kapal berbendera asing untuk angkutan ekspor-impor yang mencapai sekitar 60 persen dari total volume.
"Keputusan tidak menggabungkan Pelindo dan Pelni mencerminkan pendekatan yang lebih realistis dalam mengelola portofolio BUMN. Fokus seharusnya pada perbaikan tata kelola dan efisiensi masing-masing entitas," ujar seorang pengamat BUMN di Jakarta, yang meminta identitasnya tidak disebutkan.
Ke depan, Danantara diharapkan mendorong sinergi operasional tanpa merger, misalnya melalui integrasi sistem digital pelabuhan dan pelayaran, kerja sama rute, serta optimalisasi aset idle. Proyeksi pertumbuhan arus peti kemas nasional pada 2025 berada di kisaran 5—7 persen, seiring pemulihan permintaan global. Dengan valuasi yang tetap terjaga dan fundamental yang kuat, langkah ini dinilai lebih menjaga stabilitas indeks BUMN di pasar modal, sekaligus memperkuat ketahanan logistik nasional secara berkelanjutan.
Comments (0)