Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, tingkat pengangguran terbuka (TPT) Indonesia tercatat sebesar 4,82 persen atau sekitar 7,2 juta orang dari total angkatan kerja. Angka ini memang menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,45 persen. Namun di sisi lain, tantangan menuju kesuksesan ekonomi tetap nyata: sekitar 56 persen pekerja Indonesia masih berada di sektor informal dengan produktivitas rendah dan jaminan sosial terbatas. Dalam konteks inilah gagasan bahwa kesuksesan adalah hak semua orang, tetapi bukan sesuatu yang mudah, menjadi relevan untuk dibedah secara ekonomi.
Kesuksesan sebagai Hak versus Realitas Struktural
Di satu sisi, Indonesia memiliki fondasi optimisme. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) nasional pada 2023 mencapai 74,39, naik dibandingkan 71,92 pada 2019. Angka partisipasi sekolah menengah atas juga terus meningkat, sementara akses internet yang mendukung pembelajaran daring telah menjangkau lebih dari 78 persen populasi pada 2023 menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Artinya, secara kuantitatif, modal dasar untuk meraih kesuksesan semakin terbuka bagi lebih banyak orang, sejalan dengan semangat CT Way yang menekankan sepuluh pilar pencapaian.
Di sisi lain, mobilitas sosial ekonomi di Indonesia masih menghadapi ganjalan struktural. Rasio Gini per September 2023 berada di 0,379, yang menunjukkan ketimpangan moderat namun persisten. Data Bank Dunia memperlihatkan bahwa kelompok 20 persen terkaya menikmati sekitar 45 persen dari total pengeluaran nasional, sementara 40 persen terbawah hanya menguasai sekitar 17 persen. Kesuksesan, dengan demikian, bukan sekadar soal kemauan atau kerja keras, melainkan juga dipengaruhi akses terhadap pendidikan berkualitas, permodalan, dan jaringan.
"Kesuksesan bukan barang yang dibagikan gratis oleh pasar. Ia adalah hasil interaksi antara kapasitas individu, keberuntungan struktural, dan kebijakan publik yang inklusif," ujar seorang ekonom pembangunan dalam sebuah diskusi akademik di Jakarta.
Membaca CT Way dengan Kacamata Produktivitas dan Modal
Sepuluh pilar yang ditawarkan CT Way, meskipun bersifat motivasional, dapat ditafsirkan sebagai kerangka peningkatan kapasitas diri. Dalam bahasa ekonomi, ia menyentuh aspek human capital dan social capital, dua variabel yang terbukti signifikan memengaruhi pendapatan jangka panjang. Riset menunjukkan bahwa setiap tambahan satu tahun pendidikan formal berkorelasi dengan kenaikan upah riil sekitar 8 hingga 10 persen. Namun, kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah membuat hasil ini tidak seragam. Di daerah dengan rasio guru-murid tinggi dan infrastruktur terbatas, manfaat tersebut cenderung lebih kecil.
Dari perspektif modal, akses kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) masih menjadi hambatan. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), inklusi keuangan formal baru mencapai 88,7 persen pada 2023, namun inklusi kredit produktif jauh lebih rendah, terutama di wilayah timur Indonesia. Artinya, semangat untuk sukses kerap berbenturan dengan keterbatasan likuiditas dan jaminan. Di sinilah peran literasi keuangan dan kebijakan penjaminan pemerintah menjadi krusial.
"Tanpa akses ke pembiayaan, kerja keras hanya berputar di level subsisten. Ada tembok tak terlihat yang membedakan antara tekad dan traksi," ungkap seorang analis sektor keuangan.
Antara Sentimen Pasar dan Fundamental Ekonomi
Pro: Kesuksesan yang diartikulasikan CT Way dapat menjadi katalis perubahan perilaku. Ketika individu memiliki pola pikir bertumbuh, permintaan terhadap pendidikan vokasi dan pelatihan keterampilan meningkat. Ini sejalan dengan proyeksi pemerintah yang menargetkan 2 juta tenaga kerja terlatih melalui Kartu Prakerja hingga akhir 2024. Dampak lanjutannya, produktivitas naik, pendapatan meningkat, dan konsumsi rumah tangga yang menyumbang 52,5 persen PDB turut terdorong.
Kontra: Narasi kesuksesan yang terlalu individualistis berisiko mengabaikan faktor eksternal seperti siklus bisnis, kebijakan moneter, dan gejolak global. Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan untuk menahan capital outflow, biaya pinjaman meningkat dan ekspansi usaha kecil melambat. Dalam kondisi seperti itu, ajakan untuk sukses melalui kerja keras semata bisa terasa tidak adil bagi mereka yang terdampak kebijakan makro. Indeks kepercayaan konsumen yang naik dari 123,1 pada Desember 2023 menjadi 125,2 pada Januari 2024 memang positif, tetapi sentimen ini rapuh jika fundamental tidak diperkuat.
Kesimpulannya, gagasan bahwa kesuksesan adalah hak semua orang tetap valid sebagai cita-cita normatif. Namun, mewujudkannya memerlukan kombinasi antara kesiapan individu, keberpihakan kebijakan, dan stabilitas ekonomi makro. CT Way dengan sepuluh pilarnya bisa menjadi pemantik, tetapi tanpa ekosistem yang mendukung, ia hanya akan berhenti sebagai slogan. Rasio tabungan domestik yang sekitar 37 persen dari PDB dan valuasi pasar modal yang fluktuatif menandakan bahwa jalan menuju sukses tetap menuntut ketekunan sekaligus kehati-hatian dalam membaca tren ekonomi.
Comments (0)