Bursa Korsel Hentikan Perdagangan, Indeks Anjlok 8 Persen

Pasar saham Korea Selatan menghentikan seluruh aktivitas perdagangan pada Senin (15/9) pagi waktu setempat setelah indeks acuan KOSPI ambles lebih dari 8% dalam hitungan menit. Aksi jual masif yang di...

Bursa Korsel Hentikan Perdagangan, Indeks Anjlok 8 Persen

Pasar saham Korea Selatan menghentikan seluruh aktivitas perdagangan pada Senin (15/9) pagi waktu setempat setelah indeks acuan KOSPI ambles lebih dari 8% dalam hitungan menit. Aksi jual masif yang dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta anjloknya saham-saham teknologi, membuat bursa mengalami tekanan terdalam sejak awal pandemi.

Kronologi Ambruk dan Mekanisme Penghentian

Berdasarkan data dari Korea Exchange, KOSPI jatuh hingga 8,1% ke level 2.450,47 pada pukul 10.07 KST, hanya berselang 37 menit setelah pembukaan. Penurunan ini langsung memicu circuit breaker tahap pertama yang secara otomatis menghentikan seluruh transaksi di pasar saham dan derivatif selama 20 menit. Indeks teknologi KOSDAQ juga terpukul, merosot 9,4% dan ikut dihentikan. Ini adalah kali pertama mekanisme darurat tersebut diaktifkan secara penuh sejak gejolak Maret 2020, ketika pandemi melanda Asia.

Saat jeda 20 menit itu, investor lokal dan asing mencerna derasnya capital outflow. Berdasarkan data sementara, investor asing membukukan penjualan bersih lebih dari 1,3 miliar dolar AS hanya dalam sesi pagi, sementara institusi domestik melakukan aksi beli selektif namun tidak cukup untuk menahan kejatuhan. Setelah perdagangan dilanjutkan, indeks sempat membaik tipis namun kembali tertekan, menandakan bahwa kepanikan belum mereda.

Pemicu Pertama: Eskalasi AS-Iran dan Lonjakan Minyak

Sentimen negatif terutama bersumber dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Serangkaian serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz pekan lalu, yang diduga melibatkan proksi Iran, telah mendorong Washington untuk menempatkan armada tambahan di Teluk Persia. Harga minyak mentah Brent melonjak 7,2% menjadi 94 dolar per barel dalam dua hari terakhir, menimbulkan kekhawatiran baru terhadap inflasi dan biaya produksi di sektor manufaktur—pilar ekonomi Korea Selatan.

“Pasar melihat peningkatan risiko stagflasi,” ujar Kepala Riset Mirae Asset Seoul, Kim Ji-yeon. “Korea Selatan sangat sensitif terhadap harga energi, dan setiap ketegangan di Selat Hormuz langsung diterjemahkan sebagai tekanan pada margin korporasi.” Selain itu, kekhawatiran aliran minyak yang tersendat mengancam rantai pasok global yang masih rapuh, membuat investor menghindari aset berisiko dan beralih ke safe haven seperti dolar AS serta emas, yang justru menguras likuiditas dari bursa emerging market termasuk Korea Selatan.

Pemicu Kedua: Kejatuhan Saham Teknologi

Di saat yang sama, saham-saham teknologi yang menjadi tulang punggung KOSPI—dengan kapitalisasi pasar lebih dari sepertiga indeks—mengalami tekanan hebat. Samsung Electronics, emiten dengan bobot terbesar, longsor 10,2% setelah laporan penjualan ponsel lipat terbaru yang mengecewakan dan proyeksi permintaan chip memori yang melambat. SK Hynix bahkan anjlok 12,5%, mengikuti jejak pelemahan sektor semikonduktor global yang dipicu oleh revisi turun outlook beberapa perusahaan teknologi besar di Wall Street pada akhir pekan sebelumnya.

Koreksi pada saham teknologi ini memperburuk psikologi investor ritel yang selama setahun terakhir agresif membeli saham berorientasi ekspor. Aksi margin call pun terjadi, memaksa likuidasi paksa yang memperparah tekanan indeks. “Ini bukan sekadar profit taking, melainkan kapitulasi massal,” jelas analis senior dari KB Securities, Lee Sang-hoon. “Kombinasi ketegangan geopolitik dan keraguan terhadap valuasi saham teknologi menciptakan badai sempurna yang sulit ditangkal tanpa intervensi.”

Dampak dan Prospek Pasar

Di satu sisi, kejatuhan ini memicu kerugian kapitalisasi pasar hingga lebih dari 170 triliun won (sekitar 127 miliar dolar AS) dalam satu sesi, menekan kepercayaan investor dan berpotensi merembet ke sektor keuangan. Nilai tukar won juga terdepresiasi tajam terhadap dolar, menembus level 1.380 won per dolar, yang akan memberatkan beban utang luar negeri korporasi dan memicu inflasi impor.

Di sisi lain, otoritas Korea Selatan bergerak cepat. Kementerian Keuangan dan Bank of Korea menggelar rapat darurat dan menyatakan siap menggelontorkan likuiditas serta menstabilkan pasar obligasi jika diperlukan. Sejumlah analis berpendapat bahwa koreksi ini membuka peluang valuasi yang lebih menarik bagi investor jangka panjang. “Rasio P/E KOSPI kini mendekati 11,2 kali, terendah dalam dua tahun, dan fundamental eksportir besar masih solid,” papar ekonom dari Shinhan Investment. Namun, ia menambahkan bahwa semua tergantung pada meredanya ketegangan Iran dan data penjualan teknologi kuartal mendatang.

Pasar kini menanti respons lanjutan dari pemerintah dan bank sentral jelang penutupan sore nanti. Jika AS atau Iran menunjukkan tanda de-eskalasi, rebound teknikal mungkin terjadi. Namun, jika sentimen tetap rapuh, bukan tidak mungkin bursa kembali mengaktifkan penghentian perdagangan. Para investor ritel yang mendominasi pasar Korsel disarankan untuk tetap tenang, sementara investor institusional global sedang menghitung ulang bobot risiko portofolio mereka terhadap aset Negeri Ginseng.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User