Oct 09, 2026
Bisnis

BRI Peduli Bekali 500 Relawan Kelola Sampah MotoGP Mandalika 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per awal 2026, sektor pariwisata masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan kontribusi terh...

BRI Peduli Bekali 500 Relawan Kelola Sampah MotoGP Mandalika 2026

Berdasarkan data Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik per awal 2026, sektor pariwisata masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Barat (NTB), dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi yang berkisar di angka dua digit. Di tengah momentum itu, gelaran MotoGP Mandalika 2026 menjadi salah satu agenda nasional yang diproyeksikan mendorong belanja wisatawan, okupansi hotel, hingga perputaran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan sekitarnya. Namun, di sisi lain, event berskala internasional selalu membawa konsekuensi tersendiri, terutama dari sisi timbulan sampah dan tekanan terhadap daya dukung lingkungan.

500 Relawan Dilatih Kelola Sampah Kawasan Mandalika

Menjawab tantangan tersebut, program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari salah satu bank besar nasional, BRI Peduli, menggelar pelatihan bagi 500 relawan yang akan diterjunkan selama periode penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026. Pelatihan ini mengintegrasikan tiga pendekatan sekaligus, yakni edukasi, aksi lapangan, dan tata kelola sampah, dengan tujuan menciptakan kawasan Mandalika yang lebih bersih dan berkelanjutan. Materi yang diberikan mencakup pemilahan sampah organik dan anorganik, teknik daur ulang, hingga manajemen logistik pengangkutan sampah dari titik-titik keramaian menuju tempat pengolahan akhir.

Dalam konteks ekonomi, langkah semacam ini kerap disebut sebagai investasi pada modal sosial dan modal lingkungan. Keduanya bukan sekadar biaya, melainkan aset jangka panjang yang memengaruhi valuasi destinasi wisata di mata wisatawan domestik maupun mancanegara. Indeks kebersihan dan keberlanjutan sebuah kawasan, menurut sejumlah kajian pariwisata, berkorelasi positif dengan tingkat kunjungan ulang dan loyalitas pengunjung.

Pro: Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal dan Citra Destinasi

Di satu sisi, keberadaan ratusan relawan membuka ruang partisipasi ekonomi bagi warga sekitar. Pelibatan komunitas lokal dalam pengelolaan sampah menciptakan lapangan kerja temporer, meningkatkan keterampilan, serta memperkuat kapasitas kelembagaan desa dan kelompok masyarakat setempat. Dengan demikian, aliran nilai tambah tidak hanya dinikmati pelaku usaha besar, tetapi juga merembes ke lapisan bawah melalui mekanisme yang oleh ekonom disebut trickle-down effect.

Dari kacamata industri, citra Mandalika sebagai sirkuit berstandar internasional yang bersih dapat memperkuat posisi Indonesia dalam peta wisata olahraga global. Sentimen pasar terhadap sektor pariwisata NTB berpotensi membaik, terutama jika berita positif menyebar sebelum dan sesudah event berlangsung. Hal ini bisa mendorong keputusan investasi pada infrastruktur penunjang seperti hotel, restoran, dan transportasi.

"Pengelolaan sampah yang terstruktur di kawasan wisata bukan hanya soal estetika, tetapi menyangkut daya saing destinasi dalam jangka panjang," ujar seorang pengamat pariwisata dalam sebuah diskusi ekonomi regional.

Kontra: Tantangan Keberlanjutan dan Beban Fiskal

Di sisi lain, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa program pelatihan bersifat sporadis berisiko kehilangan dampak jangka panjang. Tanpa mekanisme pendanaan berkelanjutan dan kelembagaan yang mapan pasca-event, relawan yang telah dilatih bisa kehilangan kesempatan mengaplikasikan keterampilannya. Akibatnya, multiplier effect yang diharapkan dari pelatihan tersebut tidak terealisasi secara optimal.

Selain itu, beban biaya logistik pengelolaan sampah di kawasan wisata cenderung meningkat year-on-year seiring bertambahnya volume kunjungan. Jika tidak diimbangi dengan pendapatan daerah yang memadai, defisit fiskal pada pos pengelolaan lingkungan bisa melebar. Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana pemerintah daerah dan pelaku industri bersedia menanggung biaya operasional lanjutan, bukan sekadar mengandalkan anggaran CSR korporasi yang bersifat tidak tetap.

Kritik lain menyoroti aspek transparansi dan pengukuran dampak. Publik berhak mengetahui metrik konkret, seperti berapa ton sampah yang berhasil dipilah, berapa persen yang didaur ulang, dan berapa indeks pengurangan sampah plastik di area sirkuit. Tanpa data terukur, klaim keberlanjutan rentan dianggap sekadar pencitraan.

Proyeksi dan Sikap Pasar

Ke depan, keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi multipihak: pemerintah daerah, pengelola sirkuit, pelaku usaha, komunitas, dan penyandang dana. Jika tata kelola sampah mampu diinstitusionalisasi menjadi sistem permanen, bukan proyek musiman, maka Mandalika berpotensi menjadi percontohan bagi destinasi wisata lain di Indonesia. Sebaliknya, tanpa kesinambungan, dana yang dikucurkan hanya menjadi biaya sesaat tanpa jejak struktural pada perekonomian lokal.

Dari perspektif portofolio pembangunan daerah, investasi pada lingkungan dan SDM semacam ini menawarkan imbal hasil yang tidak langsung terlihat di neraca keuangan, namun berdampak pada likuiditas sosial dan reputasi daerah. Bagi investor dan pelaku pasar, sinyal positif terhadap komitmen keberlanjutan dapat memperkuat kepercayaan, meski harus tetap dicermati dengan data dan evaluasi berkala. Pada akhirnya, MotoGP Mandalika 2026 bukan hanya soal balapan, melainkan ujian bagi kesiapan ekosistem pariwisata Indonesia menghadapi standar keberlanjutan global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User