Boy Thohir dan Anindya Bakrie Yakin IHSG Bisa Tembus 9.000
Optimisme kembali menyeruak dalam pasar modal Tanah Air. Dua figur penting dunia usaha, Garibaldi ‘Boy’ Thohir dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, secara ter...
Optimisme kembali menyeruak dalam pasar modal Tanah Air. Dua figur penting dunia usaha, Garibaldi ‘Boy’ Thohir dan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie, secara terbuka menyampaikan keyakinannya bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu kembali menyentuh level psikologis 9.000. Pernyataan tersebut muncul di tengah dinamika pasar yang masih bergulat dengan sentimen global dan domestik.
Optimisme Berpijak pada Sejarah
Boy Thohir, yang dikenal sebagai investor kawakan melalui portofolionya di berbagai sektor, termasuk pertambangan dan energi, menyoroti rekam jejak historis sebagai landasan keyakinannya. “Kalau kita bercermin ke belakang, pasar kita sudah berkali-kali membuktikan daya tahannya. Pernah indeks kita terpuruk sangat dalam, tapi kemudian melesat berkali-kali lipat dalam beberapa tahun saja. Itu yang membuat saya pede,” ujarnya dalam sebuah forum diskusi. Ia merujuk pada momentum kebangkitan IHSG pasca krisis keuangan global 2008, di mana indeks sempat menyentuh level terendah di sekitar 1.100, namun dalam satu dekade mampu merangsek ke atas 6.000-an. Hal serupa terjadi setelah tekanan pandemi Covid-19 pada 2020, saat IHSG anjlok ke bawah 4.000, lalu kembali pulih dan mencetak rekor 7.454 pada September 2022. Menurut Boy, pola pemulihan semacam itu memberikan peluang besar untuk target yang lebih tinggi di masa mendatang.
Faktor Pendorong dan Sentimen Positif
Senada dengan Boy, Anindya Bakrie memandang optimisme ini tidak tanpa dasar. Sebagai Ketua Umum Kadin, ia melihat langsung geliat dunia usaha yang mulai berangsur pulih. “Kita memiliki fondasi ekonomi yang cukup solid. Aktivitas manufaktur dan jasa terus berekspansi, ekspor komoditas masih menguntungkan, dan yang tak kalah penting, reformasi kebijakan pemerintah mulai menunjukkan hasil,” ungkap Anindya. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per kuartal pertama 2025 mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2% secara year-on-year, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan investasi. Selain itu, aliran modal asing yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi dan saham memberikan tambahan likuiditas. Indeks dolar AS yang cenderung melemah juga membuka ruang bagi dana global untuk mengalir ke negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, valuasi IHSG saat ini dianggap masih menarik. Rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio) IHSG berada di sekitar 13 kali, relatif lebih rendah dibandingkan rata-rata historis 15 kali, sehingga menyisakan potensi kenaikan. Sektor perbankan dengan fundamental kuat, serta saham-saham pertambangan dan energi yang diuntungkan oleh harga komoditas yang relatif tinggi, menjadi penopang utama indeks.
Tantangan dan Risiko yang Mengintai
Meski demikian, perjalanan menuju 9.000 tentu tidak mulus. Ketidakpastian global seperti potensi resesi di negara maju, konflik geopolitik yang masih berlangsung, serta kebijakan moneter The Fed masih menjadi risiko utama. Capital outflow sewaktu-waktu bisa terjadi jika terjadi perubahan sentimen. Di pasar domestik, suku bunga acuan Bank Indonesia yang bertahan di level 5,75% masih menjadi pertimbangan, karena jika terjadi kenaikan lebih lanjut dapat menekan pertumbuhan kredit dan daya beli.
Namun, Boy Thohir mengingatkan bahwa risiko adalah bagian dari investasi. “Setiap ada tantangan, pasti ada peluang. Justru saat banyak orang ketakutan, di situ peluang besar hadir,” katanya. Ia menambahkan, diversifikasi dan pemahaman mendalam terhadap fundamental emiten menjadi kunci untuk menangkap momentum kebangkitan indeks.
Proyeksi dan Harapan Pelaku Pasar
Sejumlah analis pasar modal memberikan proyeksi beragam. Beberapa memperkirakan IHSG akan bergerak di kisaran 7.200 – 7.800 hingga akhir tahun 2025, dengan skenario optimistis menyentuh 8.000 jika kondisi global membaik. Target 9.000 dianggap ambisius namun tidak mustahil apabila didukung oleh perbaikan fundamental korporasi secara luas, stabilitas politik, dan aliran dana asing yang deras. Anindya Bakrie optimistis bahwa dengan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, serta keberlanjutan hilirisasi industri, Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 6% dan mendongkrak kapitalisasi pasar saham secara signifikan.
Keyakinan Boy Thohir dan Anindya Bakrie setidaknya memberi sinyal positif bahwa meski pasar sedang fluktuatif, kepercayaan diri dari tokoh bisnis berpengalaman dapat menjadi penyeimbang sentimen. Apakah IHSG benar-benar akan menyentuh 9.000? Waktu yang akan menjawab. Namun catatan sejarah dan optimisme yang berpijak pada data, bukan sekadar ilusi, memberikan harapan bagi seluruh pemangku kepentingan di pasar modal Indonesia.
Baca juga:
Comments (0)