BNI Perkuat UMKM Batik di Puspa Nuswantara 2026
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di ranah ekonomi kreatif, dengan fokus pada indu...
Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di ranah ekonomi kreatif, dengan fokus pada industri batik Nusantara. Pada Pameran Puspa Nuswantara 2026 yang digelar di Jakarta Convention Center pada 10–13 Juli 2026, bank pelat merah ini menghadirkan sejumlah inisiatif strategis, mulai dari penyediaan infrastruktur pembayaran digital hingga program promosi dan pendampingan yang dirancang untuk mengakselerasi pertumbuhan para perajin batik dari berbagai daerah.
Pameran tahun ini diikuti oleh lebih dari 250 UMKM batik dari 15 provinsi, menampilkan beragam motif dan inovasi yang merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia. Kehadiran BNI bukan sekadar sebagai sponsor, melainkan sebagai mitra transformasi yang menjembatani para pelaku usaha dengan ekosistem digital yang semakin menjadi kebutuhan utama dalam perdagangan modern.
Layanan Pembayaran Digital Permudah Transaksi
Di tengah masifnya adopsi teknologi finansial, BNI menyediakan berbagai opsi pembayaran nontunai bagi seluruh stan pameran. Melalui QRIS BNI, mesin EDC, dan aplikasi BNI Mobile Banking, pengunjung dapat melakukan transaksi dengan cepat, aman, dan bebas hambatan. Data BNI mencatatkan lonjakan volume transaksi digital di pameran tahun ini hingga 42 persen dibandingkan dengan penyelenggaraan sebelumnya, mencerminkan antusiasme publik terhadap produk batik yang kian mudah diakses secara nontunai.
“Kami ingin memastikan bahwa perajin batik tidak hanya unggul dalam aspek kreativitas, tetapi juga cakap secara digital. Dengan infrastruktur ini, mereka dapat menerima pembayaran dari pelanggan tanpa kendala, bahkan dari pembeli mancanegara yang mungkin hadir atau bertransaksi secara daring,” ujar Direktur Bisnis UMKM BNI, Andi Prasetyo, di sela pembukaan pameran. Ia menambahkan, selama dua hari pertama, tercatat lebih dari 15.000 transaksi melalui QRIS BNI dengan nilai total menembus Rp 2,1 miliar.
Program Promosi dan Perluasan Pasar
Selain layanan transaksi, BNI menggulirkan paket promosi terintegrasi untuk membantu UMKM batik menembus pasar yang lebih luas. Para perajin terpilih mendapatkan kesempatan tampil dalam katalog digital BNI, mengikuti sesi pelatihan pemasaran daring, serta diikutsertakan dalam BNI Xpora—program unggulan bank yang mendampingi UMKM berorientasi ekspor. Sebanyak 75 perajin batik dari berbagai daerah disiapkan untuk mengikuti misi dagang virtual ke Malaysia dan Jepang pada kuartal ketiga 2026, memperkenalkan produk mereka ke pasar internasional.
Langkah ini diharapkan mampu mengatasi kendala klasik UMKM, yaitu terbatasnya akses terhadap jaringan pemasaran yang lebih luas. Dengan platform digital BNI, produk batik dari sentra-sentra produksi seperti Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Cirebon, hingga Papua berpeluang dikenal oleh konsumen global tanpa harus melalui rantai distribusi yang panjang.
Dampak Terhadap Ekonomi Kreatif
Sektor ekonomi kreatif, dengan subsektor fesyen berbasis batik sebagai salah satu kontributor utama, menyumbang sekitar 7,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Dengan populasi UMKM batik yang diperkirakan mencapai lebih dari 47.000 unit usaha, dukungan sistemik dari lembaga keuangan menjadi faktor krusial untuk menjaga pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. BNI sendiri telah merealisasikan penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 18,3 triliun sepanjang semester I-2026, dengan porsi signifikan dialokasikan bagi industri kreatif.
Analis ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Nailul Huda, menilai bahwa keterlibatan perbankan dalam pameran seperti Puspa Nuswantara menciptakan efek pengganda yang nyata. “Setiap rupiah yang dibelanjakan untuk batik akan menciptakan nilai tambah dari hulu ke hilir—mulai dari pembatik, penyedia bahan baku, hingga desainer. Sinergi antara BNI, pemerintah, dan komunitas perajin adalah model yang tepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis budaya,” katanya.
Panitia Puspa Nuswantara 2026 menargetkan total transaksi selama pameran mencapai Rp 25 miliar dengan jumlah kunjungan lebih dari 50.000 orang. Melihat antusiasme di hari-hari awal, target tersebut dinilai realistis dan bahkan berpotensi terlampaui. BNI menyatakan akan terus memantau dampak program ini dan berencana mereplikasi model pendampingan serupa ke sektor kreatif lain, seperti tenun, anyaman, dan kerajinan tangan, guna memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan yang berbasis pada kearifan lokal.
Comments (0)