Oct 12, 2026
Bisnis

BNI Manjakan Nasabah Terpilih Nonton MotoGP Mandalika 2026

Berdasarkan data industri perbankan nasional per awal 2026, persaingan memperebutkan dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat di sektor perbankan terus memanas. Di tengah tren itu, PT Bank Neg...

BNI Manjakan Nasabah Terpilih Nonton MotoGP Mandalika 2026

Berdasarkan data industri perbankan nasional per awal 2026, persaingan memperebutkan dana pihak ketiga (DPK) atau simpanan masyarakat di sektor perbankan terus memanas. Di tengah tren itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI kembali menggulirkan program apresiasi bagi nasabah terpilih berupa kesempatan menyaksikan langsung ajang MotoGP Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di kawasan Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Program ini menjadi salah satu bentuk strategi menjaga loyalitas nasabah sekaligus memperkuat posisi di segmen nasabah prioritas yang menjadi tulang punggung likuiditas bank.

Mengapa Ajang MotoGP Menjadi Instrumen Apresiasi?

MotoGP Mandalika merupakan salah satu event internasional dengan valuasi ekonomi yang signifikan bagi daerah tuan rumah. Berdasarkan proyeksi sejumlah lembaga riset pariwisata, penyelenggaraan balapan kelas dunia di Mandalika mampu mendorong perputaran ekonomi lokal, mulai dari sektor akomodasi, transportasi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bagi perbankan, keterlibatan dalam ajang semacam ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari strategi pemasaran berbasis pengalaman atau experiential marketing.

Nasabah yang terpilih diajak menikmati balapan dari area Bukit 360 Mandalika. Posisi ini menawarkan panorama sirkuit secara menyeluruh, sehingga pengalaman menonton menjadi lebih istimewa dibandingkan tribun biasa. Dalam konteks bisnis perbankan, penawaran semacam ini lazim digunakan untuk memperkuat sentimen positif nasabah terhadap institusi, yang pada akhirnya berdampak pada retensi dana dan loyalitas jangka panjang.

Di Satu Sisi: Efektivitas Menjaga Loyalitas Nasabah

Di satu sisi, program apresiasi seperti ini dinilai efektif untuk mempertahankan nasabah bernilai tinggi. Pasalnya, biaya akuisisi nasabah baru di industri perbankan cenderung lebih mahal dibandingkan biaya mempertahankan nasabah lama. Dengan memberikan pengalaman eksklusif, bank berharap nasabah tidak berpindah ke institusi lain atau melakukan capital outflow ke instrumen investasi non-perbankan.

Rasio biaya terhadap pendapatan (cost-to-income ratio) menjadi pertimbangan penting dalam menyusun anggaran program semacam ini. Selama anggaran tersebut dialokasikan secara terukur dan menghasilkan dampak terhadap pertumbuhan DPK maupun fee-based income, program apresiasi masih dianggap rasional secara bisnis. Selain itu, kehadiran nasabah pada event bergengsi dapat memperkuat citra bank sebagai institusi yang mapan dan berorientasi pada pelayanan premium.

"Apresiasi berbasis pengalaman kini menjadi tren di industri jasa keuangan karena mampu membangun ikatan emosional dengan nasabah, jauh melampaui sekadar pemberian suku bunga atau hadiah barang," ujar seorang pengamat industri perbankan dalam sebuah diskusi ekonomi baru-baru ini.

Di Sisi Lain: Tantangan Efisiensi dan Pemerataan Manfaat

Di sisi lain, program yang menyasar nasabah terpilih menghadapi kritik terkait pemerataan dan efisiensi. Sebagian pengamat menilai bank perlu memastikan bahwa anggaran promosi tidak mengorbankan efisiensi operasional secara keseluruhan. Dalam situasi likuiditas yang ketat dan persaingan suku bunga yang dinamis, setiap rupiah pengeluaran perlu dipertanggungjawabkan melalui metrik yang jelas, misalnya pertumbuhan volume transaksi atau kenaikan saldo rata-rata nasabah peserta program.

Terdapat pula pertanyaan soal inklusivitas. Nasabah ritel kecil mungkin merasa program semacam ini kurang menyentuh mereka. Padahal, segmen mikro dan ritel turut menyumbang stabilitas dana pihak ketiga, terutama dalam periode gejolak pasar. Karena itu, bank dituntut menyeimbangkan strategi antara apresiasi eksklusif bagi nasabah prioritas dan program yang menyasar basis nasabah yang lebih luas.

Dari sudut pandang makro, penyelenggaraan MotoGP Mandalika juga membawa sentimen positif bagi perekonomian daerah. Peningkatan kunjungan wisatawan mendorong pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan penerimaan daerah. Namun, dampak ini bersifat musiman dan perlu diukur secara year-on-year agar tidak menjadi proyeksi berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Proyeksi dan Fundamental yang Perlu Dicermati

Ke depan, efektivitas program apresiasi akan sangat bergantung pada kondisi fundamental ekonomi, termasuk tren suku bunga acuan Bank Indonesia, tingkat inflasi, dan stabilitas nilai tukar. Jika likuiditas pasar longgar dan suku bunga cenderung turun, bank memiliki ruang lebih besar untuk mengalokasikan anggaran pemasaran tanpa mengganggu margin. Sebaliknya, ketika likuiditas ketat, prioritas biasanya bergeser pada penguatan permodalan dan efisiensi biaya.

Dengan demikian, inisiatif mengajak nasabah menonton MotoGP dari Bukit 360 Mandalika dapat dibaca sebagai sinyal bahwa bank masih memiliki ruang fiskal untuk berinvestasi pada loyalitas nasabah. Namun, keberhasilannya tidak cukup diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari rasio retensi nasabah, pertumbuhan DPK, serta dampaknya terhadap valuasi dan kinerja keuangan perseroan dalam jangka menengah. Publik dan investor tentu akan menanti data kuartalan berikutnya untuk menilai apakah strategi apresiasi ini berdampak nyata pada kinerja fundamental bank.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User