BNI Dukung UMKM Batik dan Kriya di Puspa Nuswantara 2026
Jakarta – Upaya mendorong pertumbuhan usaha kecil berbasis budaya semakin gencar dilakukan lembaga perbankan nasional. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) secara aktif membuka pintu bagi pe...
Jakarta – Upaya mendorong pertumbuhan usaha kecil berbasis budaya semakin gencar dilakukan lembaga perbankan nasional. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) secara aktif membuka pintu bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk unggulan mereka ke pasar yang lebih luas. Salah satu wujud nyatanya adalah partisipasi dalam Pameran Puspa Nuswantara 2026, di mana BNI menggandeng tiga mitra binaannya yang fokus pada kerajinan batik dan kriya.
Pameran Puspa Nuswantara sendiri merupakan gelaran tahunan yang menjadi ajang berkumpulnya para pengrajin, desainer, dan pencinta produk lokal. Tahun ini, puspa nuswantara digelar di Jakarta Convention Center pada 15–18 Mei 2026, menghadirkan ratusan stan dari berbagai daerah. Kehadiran BNI dalam pameran ini tidak sekadar sebagai sponsor, melainkan juga sebagai fasilitator bagi para binaannya untuk memperluas jaringan pemasaran.
Pendampingan Berkelanjutan bagi UMKM Budaya
Sejak beberapa tahun terakhir, BNI memiliki program pembinaan khusus bagi UMKM yang bergerak di sektor kerajinan tradisional dan industri kreatif. Melalui program BNI Berdaya, bank ini memberikan pendampingan mulai dari pelatihan manajemen usaha, pengembangan desain produk, hingga akses pembiayaan dengan bunga rendah. Tiga UMKM yang dibawa ke Puspa Nuswantara 2026 merupakan hasil binaan yang telah melewati kurasi ketat dan dinilai memiliki potensi ekspansi.
“Kami ingin memastikan bahwa UMKM binaan tidak hanya mampu bertahan di pasar lokal, tetapi juga siap bersaing di tingkat nasional maupun global,” ujar Direktur Bisnis Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah BNI, M. Ridwan, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (15/5). Ia menambahkan bahwa partisipasi di pameran bergengsi seperti Puspa Nuswantara merupakan bagian dari strategi untuk memperkenalkan produk-produk berkualitas tinggi yang sarat nilai budaya.
Menangkap Peluang Pasar yang Lebih Luas
Ketiga UMKM yang diikutsertakan menawarkan produk batik tulis warna alam, tenun ikat kontemporer, serta kerajinan kriya berbahan limbah kayu jati. Produk-produk tersebut menarik antusiasme pengunjung, baik dari kalangan individu, peritel butik, hingga perusahaan yang mencari suvenir korporasi. Menurut data panitia, selama empat hari penyelenggaraan, total transaksi langsung (on the spot) dari stan BNI mencapai Rp1,2 miliar, naik hampir 40% dibandingkan partisipasi serupa pada tahun lalu.
“Pameran ini membuka mata kami tentang selera pasar yang semakin menghargai produk handmade dengan kisah di baliknya,” kata Nurul Hidayati, pemilik Batik Sekar Arum, salah satu UMKM binaan. Ia mengaku mendapatkan banyak pesanan dari pembeli asing yang tertarik dengan proses pewarnaan alami serta motif flora khas pesisir Jawa.
Selain penjualan langsung, para pelaku UMKM juga mendapat kesempatan melakukan business matching dengan sejumlah calon pembeli luar negeri yang diundang panitia. Kontak dagang yang terjalin antara lain dengan buyer dari Jepang, Australia, dan Uni Emirat Arab yang memiliki minat besar terhadap wastra nusantara.
Dampak pada Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif
Keterlibatan BNI dalam Puspa Nuswantara 2026 tidak hanya berdimensi bisnis, melainkan juga memiliki misi pelestarian budaya. Batik dan kriya tradisional merupakan warisan tak benda yang harus dijaga keberlangsungannya di tengah arus modernisasi. Dengan membawa UMKM ke panggung pameran berskala nasional, BNI turut mempromosikan identitas Indonesia sekaligus menciptakan efek domino ekonomi bagi para perajin di daerah asal.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sektor kriya menyumbang sekitar 18,5% terhadap produk domestik bruto ekonomi kreatif pada 2025, dengan laju pertumbuhan mencapai 6,2% per tahun. Subsektor batik dan tekstil tradisional menjadi salah satu penopang utama. Namun, pelaku usaha kecil di sektor ini kerap menghadapi tantangan berupa keterbatasan akses pasar dan rendahnya pengetahuan tentang branding.
Di sinilah peran perbankan seperti BNI menjadi krusial. Tidak hanya menyediakan modal, tetapi juga membuka kanal promosi melalui event-event strategis. “Eksposur di Puspa Nuswantara menjadi semacam validasi bahwa produk binaan kami layak tampil di level nasional. Ini memacu kepercayaan diri pengrajin untuk terus berinovasi,” jelas M. Ridwan.
Ia juga menyebut bahwa BNI akan terus menggelar program serupa di berbagai pameran regional dan internasional sepanjang tahun. Harapannya, semakin banyak UMKM budaya yang naik kelas dan mampu menembus pasar ekspor.
Tantangan dan Strategi ke Depan
Meski respons positif mengalir, perjalanan mendorong UMKM batik dan kriya ke panggung global bukan tanpa kendala. Persaingan dengan produk tekstil murah dari manufaktur massal, fluktuasi harga bahan baku alami, serta regenerasi pengrajin menjadi pekerjaan rumah yang harus dijawab secara kolektif. BNI menyadari bahwa pendampingan tidak boleh berhenti pada satu pameran.
Oleh karena itu, bank berplat merah ini berencana memperkuat ekosistem UMKM binaan melalui kolaborasi dengan desainer muda, inkubator bisnis, dan platform daring. Integrasi ke dalam platform BNI Xpora, misalnya, memungkinkan produk UMKM dijual secara digital sekaligus mengikuti pelatihan ekspor. Langkah ini diharapkan dapat memperpanjang dampak positif dari setiap pameran yang diikuti.
Dengan mengusung semangat dari puspa nuswantara yang berarti “bunga nusantara”, BNI ingin menempatkan UMKM Indonesia sebagai bunga-bunga yang mekar di taman perdagangan global. Partisipasi tiga mitra binaan tahun ini menjadi langkah awal yang menjanjikan untuk mewujudkan visi tersebut.
Melalui sinergi antara perbankan, pemerintah, dan komunitas kreatif, potensi ekonomi dari warisan budaya Indonesia dapat terus digali. Puspa Nuswantara 2026 membuktikan bahwa perpaduan antara seni tradisi dan strategi bisnis modern mampu menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi perekonomian nasional.
Comments (0)