Biochar RI Diminati Jepang dan Arab Saudi, Standar Mutu Jadi Kunci
Berdasarkan catatan tren pasar karbon global dan proyeksi asosiasi industri per Agustus 2026, permintaan terhadap biochar asal Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhi...
Berdasarkan catatan tren pasar karbon global dan proyeksi asosiasi industri per Agustus 2026, permintaan terhadap biochar asal Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Biochar, atau arang hayati hasil proses pirolisis biomassa, kini tidak lagi dipandang sekadar produk sampingan sektor pertanian. Komoditas ini bertransformasi menjadi instrumen bernilai ekonomi tinggi karena kemampuannya menyimpan karbon di dalam tanah hingga ratusan tahun sekaligus memperbaiki kesuburan lahan. Pasar biochar global diperkirakan tumbuh dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) di kisaran 15–17 persen, dengan nilai pasar yang diproyeksikan menembus USD 3 miliar pada akhir dekade ini, menurut sejumlah estimasi lembaga riset pasar.
Ketua Umum Asosiasi Biochar Indonesia (ABII), Hashim Djojohadikusumo, menilai minat dari Jepang dan Arab Saudi merupakan sinyal kuat bahwa produk Indonesia mampu menembus segmen pasar dengan spesifikasi ketat. Kedua negara tersebut dikenal menerapkan standar impor tinggi, terutama untuk produk berbasis karbon yang terkait dengan komitmen pengurangan emisi. Jepang mengintegrasikan biochar ke dalam strategi pertanian berkelanjutan dan program penyerapan karbon, sementara Arab Saudi mulai melirik komoditas ini untuk proyek penghijauan dan diversifikasi ekonomi non-migas.
Lonjakan Permintaan dan Posisi Indonesia
Besarnya permintaan terhadap biochar Indonesia tidak lepas dari kombinasi faktor fundamental. Di sisi pasokan, Indonesia memiliki cadangan biomassa yang melimpah, mulai dari limbah kelapa sawit, sekam padi, hingga serbuk gergaji, yang menjadi bahan baku utama produksi biochar. Di sisi permintaan, kebijakan transisi energi dan target net zero emission mendorong negara-negara maju mencari pemasok karbon negatif dengan biaya kompetitif. Jepang, misalnya, tercatat menjadi salah satu pasar utama biochar di kawasan Asia Timur dengan kebutuhan yang terus naik seiring program dekarbonisasi sektor pertaniannya. Sementara itu, Arab Saudi menempatkan biochar dalam kerangka proyek penghijauan nasional yang menargetkan penanaman puluhan miliar pohon, sehingga kebutuhan akan pembenah tanah berbasis karbon diperkirakan ikut meningkat.
Namun demikian, Hashim menekankan bahwa peluang tersebut tidak otomatis menjadi keunggulan kompetitif. Menurutnya, kunci untuk mempertahankan kepercayaan pembeli internasional terletak pada konsistensi mutu produk. Tanpa standar yang jelas, produk Indonesia berisiko kalah bersaing dengan pemasok dari negara lain yang telah lebih dulu membangun sertifikasi dan rantai pasok yang terdokumentasi.
Standar Mutu: Pembeda di Pasar Global
Penegasan Hashim soal pentingnya standar mutu bukan tanpa alasan. Pasar biochar internasional semakin mengacu pada sejumlah parameter teknis, antara lain kadar karbon stabil, tingkat pH, luas permukaan pori, serta kandungan logam berat yang harus berada di bawah ambang batas. Negara tujuan seperti Jepang dan Arab Saudi umumnya mensyaratkan uji laboratorium dan sertifikasi dari lembaga independen sebelum produk dapat masuk. Dalam konteks ini, standar mutu berfungsi sebagai tiket masuk sekaligus pembeda harga: produk bersertifikat dapat menikmati premium harga yang signifikan dibandingkan produk tanpa verifikasi.
Di satu sisi, kejelasan standar melindungi citra produk Indonesia di mata pembeli jangka panjang dan mengurangi risiko penolakan kontainer di pelabuhan tujuan. Di sisi lain, proses sertifikasi membutuhkan biaya dan kapasitas teknis yang belum merata dimiliki pelaku usaha kecil dan menengah, sehingga berpotensi menciptakan kesenjangan antara produsen besar yang terintegrasi dan produsen skala rumah tangga. Oleh karena itu, kolaborasi antara asosiasi, pemerintah, dan lembaga riset menjadi penting untuk menyusun Standar Nasional Indonesia (SNI) yang diakui mitra dagang sekaligus membantu pembiayaan sertifikasi bagi produsen kecil.
Peluang Ekspor dan Tantangan Likuiditas Pasar
Dari sisi neraca perdagangan, peningkatan ekspor biochar berpotensi memperbaiki diversifikasi produk ekspor non-migas Indonesia. Nilai tambah pengolahan biomassa menjadi biochar jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor bahan baku mentah, sehingga rasio nilai tambah per ton meningkat. Beberapa analis memperkirakan kontribusi ekspor biochar masih kecil dibandingkan komoditas utama seperti batu bara dan kelapa sawit, namun tren pertumbuhannya dinilai paling cepat di antara produk turunan biomassa.
Kendati demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi. Pertama, infrastruktur logistik dan fasilitas pengolahan yang tersebar belum merata, sehingga biaya pengiriman dari daerah penghasil biomassa ke pelabuhan utama masih relatif tinggi. Kedua, fluktuasi harga karbon di pasar internasional memengaruhi sentimen pasar terhadap produk karbon negatif; ketika harga karbon turun, insentif ekonomi bagi pembeli ikut melemah. Ketiga, likuiditas pasar biochar global yang masih tergolong dangkal membuat proyeksi harga jangka panjang sulit diprediksi secara pasti.
Proyeksi dan Arah Ke Depan
Melihat kombinasi faktor di atas, proyeksi jangka menengah pasar biochar Indonesia tetap optimistis namun penuh kehati-hatian. Jika standar mutu dapat diselesaikan dan diakui secara internasional dalam waktu dekat, Indonesia berpeluang merebut porsi yang lebih besar dari permintaan Jepang dan Arab Saudi yang sedang tumbuh. Sebaliknya, jika proses standardisasi berjalan lambat, peluang tersebut dapat bergeser ke pemasok lain yang lebih siap secara teknis.
Hashim mengingatkan bahwa keberlanjutan permintaan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk, tetapi juga oleh konsistensi pasokan dan reputasi jangka panjang. Dalam industri berbasis karbon, kepercayaan pembeli adalah aset yang dibangun bertahun-tahun dan dapat hilang hanya karena satu pengiriman yang gagal memenuhi spesifikasi. Oleh karena itu, penguatan kelembagaan, pendampingan teknis bagi produsen, serta sinergi kebijakan antara kementerian terkait menjadi agenda yang tidak bisa ditunda. Dengan fundamental sumber daya yang kuat dan arah kebijakan yang tepat, biochar dapat menjadi salah satu cerita sukses ekspor hijau Indonesia di tengah transisi energi global.
Comments (0)