Oct 11, 2026
Bisnis

Beras 5 Kg Disalurkan di Manado, Program Bantuan Pangan Dimulai

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pangan per awal 2025, penyaluran bantuan pangan beras kembali bergulir di Kota Manado, Sulawesi Utara. Pada taha...

Beras 5 Kg Disalurkan di Manado, Program Bantuan Pangan Dimulai

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan laporan Kementerian Koordinator Bidang Pangan per awal 2025, penyaluran bantuan pangan beras kembali bergulir di Kota Manado, Sulawesi Utara. Pada tahap awal, setiap keluarga penerima manfaat menerima 5 kilogram beras sebagai bagian dari persiapan program bantuan pangan presiden yang diproyeksikan berlangsung hingga Desember 2026. Langkah ini menandai dimulainya kembali intervensi pemerintah di sisi permintaan (demand side) untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

Program ini menyasar rumah tangga dengan kategori rentan berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE). Pemerintah menargetkan penyaluran berjalan bertahap ke seluruh kabupaten/kota, dengan Manado sebagai salah satu titik awal di kawasan timur Indonesia. Beras yang disalurkan merupakan hasil pengadaan dari Perum Bulog, yang berfungsi sebagai buffer stock nasional.

Konteks Makro: Inflasi Pangan dan Daya Beli

Di satu sisi, langkah ini merespons tren inflasi pangan yang masih bergejolak (volatile food). Data BPS menunjukkan inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau secara year-on-year (yoy) pada periode awal 2025 berada di kisaran 4% hingga 5%, lebih tinggi dibanding inflasi umum yang berada di sekitar 2,5% hingga 3%. Kenaikan harga beras medium di beberapa pasar tradisional bahkan sempat menyentuh level Rp13.000–Rp14.000 per kilogram, di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Kenaikan ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Kelompok pengeluaran terbawah menghabiskan porsi signifikan dari total konsumsinya untuk makanan pokok. Dalam terminologi ekonomi, elastisitas permintaan terhadap beras bersifat inelastis, artinya perubahan harga tidak serta-merta menurunkan jumlah konsumsi. Akibatnya, lonjakan harga langsung menggerus kesejahteraan riil rumah tangga miskin.

Oleh karena itu, bantuan pangan dalam bentuk natura (barang) dinilai lebih efektif menjaga asupan kalori dibanding bantuan tunai, terutama ketika gejolak harga terjadi secara cepat. Penyaluran 5 kg beras per keluarga setara dengan sekitar 10 hingga 14 hari konsumsi untuk rumah tangga kecil, sehingga membantu meredam tekanan pengeluaran jangka pendek.

Dua Perspektif: Pro dan Kontra

Pro: Pendukung kebijakan berargumen bahwa intervensi ini menjaga stabilitas sosial dan konsumsi rumah tangga. Dengan menyalurkan beras dari cadangan Bulog, pemerintah sekaligus menyerap hasil panen petani domestik, sehingga menjaga harga di tingkat produsen (harga gabah). Program yang berlanjut hingga Desember 2026 memberi kepastian jangka menengah bagi penerima manfaat dan meredam sentimen pasar terhadap risiko kerawanan pangan.

Kontra: Di sisi lain, kritik muncul terkait efektivitas dan keberlanjutan fiskal. Beberapa ekonom mengingatkan potensi kebocoran data penerima, ketergantungan (dependency) terhadap bantuan, serta beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Setiap tambahan anggaran bantuan pangan harus dibiayai melalui defisit atau realokasi pos lain, yang berisiko menekan ruang fiskal untuk belanja produktif seperti infrastruktur dan pendidikan.

Selain itu, distribusi ke daerah terpencil seperti Manado dan sekitarnya menghadapi tantangan logistik. Biaya pengiriman, kondisi cuaca, dan keterbatasan infrastruktur pelabuhan dapat memperlambat penyaluran, sehingga menimbulkan kesenjangan waktu antara pengumuman dan penerimaan riil di tingkat rumah tangga.

"Bantuan pangan bersifat jangka pendek untuk meredam gejolak harga. Yang menentukan kesejahteraan jangka panjang adalah produktivitas sektor pertanian dan penciptaan lapangan kerja," catat sejumlah analis kebijakan pangan dalam berbagai kajian lembaga riset independen.

Proyeksi dan Sentimen Pasar

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati dua indikator utama: pertama, realisasi penyaluran bulanan terhadap target penerima manfaat; kedua, pergerakan indeks harga pangan menjelang musim tanam dan musim hujan. Jika penyaluran berjalan lancar, tekanan inflasi pangan diperkirakan mereda pada semester kedua. Sebaliknya, keterlambatan distribusi dapat memicu ekspektasi kelangkaan yang justru mendorong kenaikan harga di pasar lokal.

Dari sisi fundamental, ketahanan pangan tetap menjadi pilar penting stabilitas ekonomi. Likuiditas rumah tangga yang terjaga mendukung konsumsi domestik, yang menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, tanpa perbaikan struktural di sisi produksi—seperti irigasi, benih unggul, dan akses pembiayaan petani—program bantuan berisiko menjadi langkah berulang setiap tahun tanpa menyelesaikan akar masalah.

Kesimpulannya, penyaluran 5 kg beras di Manado adalah sinyal dimulainya kembali intervensi pangan pemerintah hingga 2026. Kebijakan ini memiliki sisi positif dalam menjaga daya beli dan stabilitas harga, namun tetap menyisakan catatan pada aspek fiskal, akurasi data, dan efektivitas jangka panjang. Keseimbangan antara bantuan sosial dan penguatan produktivitas akan menjadi kunci keberhasilan program ini.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User