Oct 15, 2026
Bisnis

Banjir Bandang dan Longsor Landa Kota, Infrastruktur Lumpuh

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per akhir pekan lalu, curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan perkot...

Banjir Bandang dan Longsor Landa Kota, Infrastruktur Lumpuh

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per akhir pekan lalu, curah hujan ekstrem yang mengguyur kawasan perkotaan selama lebih dari enam jam berturut-turut memicu luapan sungai dan longsor di sejumlah titik. Intensitas hujan tercatat mencapai 150 milimeter per hari, jauh di atas rata-rata historis bulanan yang berkisar 80 milimeter. Kondisi ini mengakibatkan permukiman terendam, akses jalan utama terputus, dan korban jiwa yang dilaporkan bergeletakan di beberapa lokasi terdampak.

Kronologi dan Skala Kerusakan

Peristiwa dimulai pada malam hari ketika sistem awan konvektif stagnan di atas wilayah cekungan. Sungai yang melintasi pusat kota tidak mampu menampung debit air, sehingga meluap ke kawasan permukiman padat. Data sementara menunjukkan lebih dari 3.000 jiwa mengungsi dan ratusan unit rumah mengalami kerusakan berat. Infrastruktur vital seperti jembatan, saluran drainase, dan jaringan listrik turut lumpuh. Dalam terminologi ekonomi, kerusakan ini menciptakan apa yang disebut destruksi stok kapital, yakni hilangnya aset produktif yang menurunkan kapasitas output wilayah dalam jangka pendek.

Di satu sisi, pemerintah daerah bergerak cepat dengan menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari. Posko pengungsian, dapur umum, dan layanan kesehatan darurat didirikan. Anggaran belanja tak terduga (BTT) dikucurkan untuk evakuasi dan perbaikan darurat. Langkah ini penting untuk menjaga likuiditas sosial, memastikan distribusi bantuan tidak tersendat, dan mencegah sentimen pasar memburuk akibat ketidakpastian.

Di sisi lain, sejumlah pengamat kebijakan publik menilai respons struktural masih reaktif. Mereka menyoroti lemahnya tata ruang, alih fungsi lahan di daerah hulu, serta minimnya investasi jangka panjang pada sistem peringatan dini. Artinya, bencana serupa berpotensi berulang setiap musim hujan tanpa perbaikan fundamental pada tata kelola risiko.

"Kerugian ekonomi akibat bencana hidrometeorologi cenderung meningkat karena urbanisasi di kawasan rawan. Tanpa mitigasi berbasis data, biaya pemulihan akan terus membebani anggaran daerah," ujar seorang ekonom lingkungan dari lembaga riset independen.

Dampak Ekonomi dan Proyeksi

Secara makro, bencana ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi regional. Sektor perdagangan, jasa, dan pertanian diproyeksikan mengalami penurunan output selama masa pemulihan. Menurut estimasi awal, kerugian ekonomi bisa menembus Rp500 miliar jika menghitung kerusakan fisik, hilangnya jam kerja, dan terganggunya rantai pasok. Inflasi pangan daerah juga berisiko naik karena pasokan terhambat, meski dampaknya terhadap inflasi nasional relatif terbatas bila pemulihan logistik berjalan cepat.

Dari kacamata pasar, obligasi daerah dan kredit produktif di wilayah terdampak dapat mengalami kenaikan premi risiko. Namun, selama pemerintah pusat memberikan dukungan fiskal dan lembaga penjaminan berperan, capital outflow besar-besaran diperkirakan tidak terjadi. Rasio kredit bermasalah (NPL) perbankan di sektor UMKM lokal justru perlu diwaspadai karena banyak debitur kehilangan aset dan pendapatan.

Fundamental Tata Kelola Risiko

Pro: investasi pada infrastruktur hijau, normalisasi sungai, dan reboisasi hulu dapat menekan biaya bencana di masa depan. Setiap rupiah yang dialokasikan untuk mitigasi berpotensi menghemat berkali-kali lipat biaya pemulihan. Kontra: keterbatasan fiskal dan prioritas pembangunan sering membuat anggaran mitigasi dikorbankan, sehingga penanganan bencana tetap bersifat kuratif.

Pelajaran dari peristiwa ini menegaskan bahwa ketahanan iklim bukan sekadar isu lingkungan, melainkan variabel fundamental dalam perencanaan ekonomi daerah. Tanpa perbaikan tata ruang dan sistem peringatan dini, tren kerugian akan terus naik year-on-year. Pemerintah perlu menjadikan pengurangan risiko bencana sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang, bukan sekadar pos belanja darurat musiman.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User