Anindya Bakrie: Rachmat Gobel, Pengusaha yang Mewariskan Lebih dari Harta
Berdasarkan data sejarah industri nasional yang dirangkum Kementerian Perindustrian, almarhum Rachmat Gobel bukan sekadar pendiri perusahaan elektronik raksasa. Ia merupakan arsitek awal alih teknolog...
Berdasarkan data sejarah industri nasional yang dirangkum Kementerian Perindustrian, almarhum Rachmat Gobel bukan sekadar pendiri perusahaan elektronik raksasa. Ia merupakan arsitek awal alih teknologi dan penanaman modal asing pertama di sektor manufaktur Indonesia pascakemerdekaan. Saat Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Anindya Bakrie bertakziah ke rumah duka pada Rabu (10/7), jelas terlihat bahwa kepergian sang tokoh bukan hanya meninggalkan imperium bisnis, melainkan juga cetak biru cara berusaha yang melampaui akumulasi modal.
Anindya Bakrie mengenal dekat sosok yang lahir di Gorontalo pada 1931 itu. Bagi Anindya, Rachmat Gobel adalah teladan langka: seorang kapitalis sejati yang tidak pernah mengejar keuntungan jangka pendek, tetapi membangun ekosistem yang menyejahterakan bangsa. “Beliau bukan sekadar pemburu laba. Beliau adalah negarawan ekonomi yang membuktikan bahwa bisnis bisa menjadi alat pemersatu dan pemberdayaan,” ungkap Anindya di hadapan pelayat.
Membangun Fondasi Industri dari Nol
Pada era 1960-an, ketika sebagian besar pengusaha pribumi masih berkutat pada sektor perdagangan, Rachmat Gobel sudah menjalin kemitraan strategis dengan Matsushita Electric (kini Panasonic) dari Jepang. Berdasarkan catatan KADIN, PT Gobel Dharmanata—cikal bakal Panasonic Gobel—menjadi perusahaan patungan pertama yang memproduksi radio dan televisi di dalam negeri. Langkah itu tidak hanya menekan impor barang elektronik yang nilainya, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) kala itu, mencapai lebih dari USD 50 juta per tahun, tetapi juga menyerap ribuan tenaga kerja lokal.
Di satu sisi, kolaborasi ini tentu membuka ruang masuknya investasi asing yang sempat dikhawatirkan sejumlah kalangan nasionalis ekonomi. Namun di sisi lain, kesepakatan yang dinegosiasikan Rachmat Gobel menyertakan klausul transfer teknologi yang wajib melatih insinyur Indonesia. Akibatnya, pada dekade 1970-an, pabriknya tak hanya merakit, tetapi juga memproduksi komponen inti. Ekspor komponen elektronik buatan pabrik di Cakung itu menembus angka USD 100 juta pada 1985, menjadikannya salah satu penyumbang devisa nonmigas terbesar saat itu.
Di Balik Pundi-Pundi: Warisan Sosial yang Membekas
Kekayaan yang dikumpulkan tidak berhenti di neraca perusahaan. Rachmat Gobel terkenal sebagai filantropis yang menyisihkan sebagian besar laba untuk mendirikan yayasan pendidikan. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Gobel di Jakarta dan berbagai beasiswa di Gorontalo menjadi bukti komitmennya pada pembangunan sumber daya manusia. Menurut catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai filantropi korporasi, sumbangan Yayasan Gobel mencapai rata-rata 12 persen dari laba bersih tahunan perusahaan selama periode 1990–2005—jauh di atas rata-rata kontribusi sosial perusahaan nasional yang hanya berkisar 2–3 persen.
Pro-kontra memang sempat muncul: ada yang menilai bahwa kegiatan sosial ini bagian dari strategi pembentukan citra agar bisnis semakin moncer. Namun kalangan organisasi masyarakat sipil mengakui bahwa pendekatan yang dijalankan Rachmat Gobel bersifat sistemik. Dia tidak sekadar membagi-bagikan bantuan karitatif, tetapi mendirikan institusi pendidikan yang hingga kini terus meluluskan teknisi handal. “Di atas kertas itu mungkin bagian dari CSR, tapi dampaknya riil menciptakan angkatan kerja terampil,” tulis laporan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Indonesia pada 2010.
Perspektif Ganda: Profit dan Peran Negara
Jika dipotret dari kacamata ekonomi makro, kontribusi Rachmat Gobel menawarkan dua perspektif yang saling mengisi. Pro: ia mendemonstrasikan bahwa investasi asing langsung (FDI) yang dikelola dengan cerdas dapat menjadi katalis industrialisasi. Kontra: model bisnis yang sangat mengandalkan lisensi asing di sektor elektronik ini turut menciptakan ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap gejolak kurs. Namun analis mencatat bahwa Rachmat Gobel selalu mendorong porsi komponen lokal (TKDN) melebihi ketentuan wajib pemerintah saat itu.
Pada puncak kejayaannya, tingkat kandungan dalam negeri produk televisi Panasonic Gobel mencapai 65 persen, angka yang baru bisa dilampaui industri elektronik nasional secara kolektif pada tahun 2010-an. Di sinilah letak keunikan sang pengusaha: ia mampu menjaga margin keuntungan, sambil secara simultan menekan defisit neraca transaksi berjalan melalui substitusi impor.
Anindya Bakrie menekankan bahwa generasi pengusaha masa kini harus belajar dari keseimbangan itu. “Beliau mengajarkan bahwa portofolio bisnis yang sehat harus punya korelasi positif dengan fundamental ekonomi nasional. Kalau kita hanya mengejar valuasi sesaat, kita akan kehilangan akar,” ucapnya.
Pelajaran bagi Generasi Baru
Di tengah tren startup yang mengejar unicorn dengan membakar modal besar, kisah Rachmat Gobel menjadi pengingat akan pentingnya membangun bisnis yang kokoh secara fundamental. Likuiditas memang penting, tetapi beliau membuktikan bahwa risiko capital outflow bisa ditekan asalkan perusahaan memiliki basis produksi riil yang kuat. Proyeksi KADIN pascapandemi menunjukkan bahwa sektor manufaktur seperti yang dirintis Gobel justru menjadi bantalan saat terjadi gejolak sentimen pasar.
Warisan Rachmat Gobel bukan cuma pabrik beserta merek dagang. Ia meninggalkan paradigma: bahwa seorang pengusaha tidak cukup hanya mencetak neraca laba-rugi tebal, tetapi juga indeks kebahagiaan masyarakat. Dari Cakung hingga Gorontalo, dari radio transistor hingga televisi digital, jejaknya menunjukkan bahwa kapitalisme bisa dijalankan dengan hati. Indonesia kini kehilangan satu maestro, tetapi nilai yang ia tanamkan seharusnya menjadi daya tahan baru bagi ekonomi bangsa.
Baca juga:
Comments (0)