Anindya Bakrie: Rachmat Gobel Lebih dari Pengusaha Biasa
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum Rachmat Gobel di rumah duka. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial,...
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan penghormatan terakhir kepada almarhum Rachmat Gobel di rumah duka. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan bentuk apresiasi mendalam terhadap sosok yang dinilainya telah menorehkan jejak teladan di dunia usaha nasional. Rachmat Gobel, pendiri Gobel Group yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan, meninggal dunia dan meninggalkan warisan yang jauh melampaui capaian korporasi.
Dalam suasana duka, Anindya Bakrie menuturkan bahwa almarhum adalah figur pengusaha yang tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga membawa misi kebangsaan dan tanggung jawab sosial. Menurut Anindya, prinsip itulah yang membuat Rachmat Gobel berbeda dari kebanyakan pelaku industri. Ia menempatkan nilai-nilai kemanusiaan dan kepentingan negara sejajar dengan target profitabilitas perusahaan—sebuah paradigma yang kerap dinanti dalam skema pembangunan ekonomi nasional.
Rachmat Gobel dikenal luas sebagai pionir yang berhasil membawa merek elektronik Jepang, Panasonic, merasuk ke pasar Indonesia melalui kerja sama strategis pada dekade 1970-an. Langkah brilian itu tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga mengangkat derajat teknologi manufaktur dalam negeri. Hingga akhir hayatnya, ia konsisten mendorong hilirisasi industri dan penguatan komponen lokal, sebuah visi yang kini menjadi arus utama kebijakan ekonomi pemerintah.
Kehadiran Penuh Makna di Rumah Duka
Kedatangan Anindya Bakrie disambut oleh keluarga besar almarhum. Ekspresi kehilangan terlihat jelas dari raut wajah para pelayat yang hadir. Anindya, yang akrab disapa dengan sapaan kekeluargaan, menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada istri dan anak-anak Rachmat Gobel. Momen tersebut bukan hanya pertemuan dua keluarga besar pengusaha, melainkan juga cerminan dari ikatan panjang yang terjalin di organisasi Kadin.
Dalam percakapan singkatnya, Anindya menekankan bahwa almarhum adalah mentor informal bagi banyak pengusaha muda, termasuk dirinya. “Beliau selalu mengingatkan bahwa bisnis yang baik adalah bisnis yang bisa membuat orang lain tumbuh,” ucap Anindya, merefleksikan filosofi almarhum yang menolak praktik eksploitasi dalam rantai pasok. Prinsip ini, menurutnya, jarang ditemukan pada ekosistem bisnis yang seringkali didominasi oleh orientasi keuntungan jangka pendek. Rachmat Gobel, kata Anindya, memilih membangun kemitraan berbasis keadilan dengan para pemasok lokal, sebuah strategi yang memperkuat fundamental perusahaan sekaligus memberdayakan ekonomi rakyat.
Sosok Pengusaha yang Menolak Dikotomi
Anindya Bakrie menggambarkan almarhum sebagai pribadi yang menolak dikotomi antara mengejar keuntungan dan mengabdi pada kepentingan publik. “Pak Rachmat membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan,” tegasnya. Selama puluhan tahun berkecimpung di dunia usaha, Rachmat Gobel tidak hanya membesarkan Gobel Group, tetapi juga mendirikan Yayasan Matsushita Gobel yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Inisiatif itu menjadi bukti nyata bahwa profit bukanlah satu-satunya metrik keberhasilan sebuah entitas bisnis.
Kiprahnya di pemerintahan sebagai Menteri Perdagangan pada era Presiden Joko Widodo periode pertama juga menunjukkan komitmennya yang tinggi terhadap perbaikan tata niaga nasional. Ia getol memperjuangkan kebijakan yang melindungi produk dalam negeri dan mendorong ekspor bernilai tambah. Anindya mengenang masa-masa itu sebagai periode penting di mana Rachmat Gobel berusaha menyatukan perspektif pelaku usaha dan birokrat demi kepentingan yang lebih besar. “Beliau tidak pernah lelah mengadvokasi agar regulasi perdagangan tidak menghambat, tetapi justru memfasilitasi pertumbuhan industri,” kenangnya.
Warisan yang Tak Lekang Oleh Waktu
Anindya Bakrie meyakini bahwa nilai-nilai yang diwariskan Rachmat Gobel akan terus hidup, terutama di kalangan kader Kadin. Ia menyebut almarhum sebagai teladan bagaimana seorang pengusaha bisa menjadi motor penggerak perubahan sosial tanpa harus mengorbankan integritas. Dalam berbagai forum, Rachmat Gobel kerap menekankan pentingnya etika bisnis dan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance)—topik yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia korporasi Indonesia.
Menurut Anindya, generasi pengusaha masa kini bisa belajar banyak dari jejak Rachmat Gobel, terutama di tengah era disrupsi digital yang serba cepat. “Kecepatan tidak boleh membuat kita lupa pada pondasi. Bisnis yang bertahan lama adalah yang dibangun di atas kepercayaan dan manfaat bagi sekitar,” tuturnya, mengutip pesan yang sering didengarnya dari almarhum. Pesan itu terasa semakin relevan di saat banyak model bisnis baru hanya berorientasi pada valuasi tanpa dampak nyata pada perekonomian masyarakat kecil.
Di penghujung kunjungannya, Anindya Bakrie memandangi foto almarhum yang tersenyum teduh di sudut ruangan. Ia mendoakan agar amal jariyah dan kontribusi besar Rachmat Gobel mendapat tempat terbaik. Lebih dari itu, ia berharap kisah hidup almarhum tidak hanya dikenang sebagai catatan sejarah bisnis, tetapi menjadi inspirasi hidup bagi para pelaku ekonomi nasional yang ingin memberikan arti lebih bagi negeri. Kepergian Rachmat Gobel dipastikan meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan, namun sekaligus mewariskan cetak biru (blueprint) tentang bagaimana seharusnya pengusaha Indonesia melangkah: teguh pada prinsip, rendah hati pada kekuasaan, dan selalu memberi ruang bagi sesama untuk tumbuh bersama.
Baca juga:
Comments (0)