Anindya Bakrie Beri Penghormatan Terakhir kepada Rachmat Gobel
Jakarta – Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Rachmat Gobel di kawasan Jakarta Selatan. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, tampak hadir memberikan penghor...
Jakarta – Suasana duka menyelimuti kediaman almarhum Rachmat Gobel di kawasan Jakarta Selatan. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, tampak hadir memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu tokoh penting dunia usaha nasional itu. Kunjungan tersebut bukan sekadar protokol seorang pemimpin organisasi pengusaha, melainkan bentuk personal dari rasa kehilangan mendalam terhadap sosok yang dianggapnya lebih dari sekadar kolega bisnis.
Sosok yang Melampaui Logika Pasar
Anindya Bakrie mengenang Rachmat Gobel sebagai figur langka di panggung kapitalisme Indonesia. Di tengah arus persaingan yang sering kali mengaburkan nilai, almarhum konsisten menempatkan kepentingan bangsa dan keadilan sosial sebagai kompas usahanya. “Beliau adalah contoh nyata bahwa menjadi pengusaha besar tidak harus mengorbankan integritas dan rasa tanggung jawab terhadap negeri,” ujar Anindya dengan nada lirih saat ditemui di rumah duka. Rachmat Gobel bukan semata-mata memburu laba, tetapi juga membangun fondasi industri yang memberdayakan masyarakat. Visinya melampaui hitungan rugi-laba di atas kertas, menjangkau dimensi kemandirian nasional yang hingga kini masih bergema di sektor manufaktur dalam negeri.
Pandangan itu menemukan bentuknya dalam langkah-langkah konkret almarhum. Di bawah kendali PT Gobel International, perusahaan yang didirikan oleh ayahnya, Thayeb Mohammad Gobel, Rachmat berhasil mentransformasi bengkel kecil radio transistor menjadi konglomerasi manufaktur berkelas dunia yang bermitra dengan Panasonic Jepang. Namun, berbeda dari banyak pengusaha yang sekadar berorientasi ekspansi bisnis, ia giat mendorong peningkatan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dan transfer teknologi sebagai syarat mutlak kerja sama asing. Inilah yang membuat Anindya menilai bahwa “beliau tak hanya menjual produk, tetapi juga menjual konsep kedaulatan industri.”
Dari Pabrik ke Istana: Jejak Panjang Pelayanan
Nama Rachmat Gobel mencuat tidak hanya di ruang rapat direksi. Rekam jejaknya mencatat peran sebagai Menteri Perdagangan pada periode 2014-2015, ketika ia coba meramu kebijakan yang melindungi pasar domestik tanpa menutup diri dari perdagangan global. Pendekatan proteksionis terukur yang ia usung saat itu – khususnya dalam menjaga stabilitas harga pangan dan mengurangi defisit neraca perdagangan – menjadi sinyal bahwa ia mengerti denyut perekonomian rakyat kecil. Anindya Bakrie menggarisbawahi bahwa pengalaman almarhum di pemerintahan mempertegas komitmennya: “Beliau tidak memakai kekuasaan untuk kepentingan grup bisnisnya. Sebaliknya, ia justru banyak belajar bagaimana kebijakan negara bisa menjadi instrumen pemerataan.”
Di luar birokrasi, Rachmat Gobel juga dikenal aktif di berbagai organisasi, termasuk Kadin dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo). Gaya kepemimpinannya yang teduh namun tegas menjadi jembatan antara kepentingan pengusaha besar dan aspirasi UMKM. Data Kementerian Koperasi dan UKM mencatat, perusahaan-perusahaan binaan dan rantai pasok Grup Gobel menyerap sekitar 17.500 tenaga kerja langsung pada 2024, dengan estimasi dampak tidak langsung dua kali lipatnya. Angka ini, menurut Anindya, adalah ukuran keberhasilan yang sesungguhnya, jauh melampaui sekadar perolehan pendapatan yang diumumkan di lantai bursa.
Kenangan Personal: Lebih dari Sekadar Mitra
Bagi Anindya Bakrie, perjumpaan dengan Rachmat Gobel selalu meninggalkan jejak personal. Ia bercerita bahwa dalam sejumlah pertemuan Kadin, almarhum lebih sering berbicara tentang pendidikan vokasi, ketimpangan akses pangan di Indonesia timur, atau bahkan nasib petani garam di pesisir, ketimbang membahas margin keuntungan atau valuasi aset. “Saya ingat satu kali beliau mengatakan, ‘Bisnis yang hanya membuat pemiliknya kaya adalah bisnis yang gagal.’ Kalimat itu terus terngiang dan menjadi parameter saya dalam memimpin Kadin sekarang,” ungkap Anindya. Bukan sekadar kata-kata, prinsip itu terbukti saat Grup Gobel meluncurkan program kemitraan petani rempah di Sulawesi yang akhirnya mampu memotong rantai distribusi tidak efisien dan menaikkan harga jual petani hingga 30 persen.
Anindya menambahkan, warisan terpenting almarhum bukanlah aset fisik atau merek dagang, melainkan pola pikir bahwa pengusaha Indonesia harus tumbuh menjadi economic nation-builder. Di era disrupsi teknologi dan ketidakpastian geopolitik sekarang, nilai-nilai itu justru kian relevan. “Kadin akan meneruskan semangat beliau lewat berbagai program vokasi dan kerja sama industri yang tidak melulu mengejar profit jangka pendek,” tegasnya. Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga besar Gobel, seraya berdoa agar keteladanan Rachmat Gobel terus menjadi inspirasi bagi generasi pengusaha Tanah Air. Kepergian Rachmat Gobel meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi, namun fondasi pemikirannya – bahwa bisnis bukan sekadar mesin pencetak uang, melainkan alat pemersatu dan pemajuan bangsa – telah terpatri kuat di hati para pelaku ekonomi yang mengenalnya langsung.
Baca juga:
Comments (0)