UMKM Fesyen Angkat Aksara Lontara, Bertahan di Tengah Tekanan Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Di ...

Oct 08, 2026 - 20:09
0 0
UMKM Fesyen Angkat Aksara Lontara, Bertahan di Tengah Tekanan Pasar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja. Di antara jutaan unit usaha tersebut, segmen kriya dan fesyen berbasis warisan budaya menjadi salah satu ceruk yang menarik perhatian, terutama ketika nilai tradisi diubah menjadi produk bernilai tambah. Salah satu contohnya adalah usaha Ripuji Lontaratta yang mengangkat aksara Lontara, warisan tulisan masyarakat Bugis-Makassar, ke dalam produk fesyen kontemporer.

Perjalanan usaha ini tidak lepas dari sosok As'ad, yang menyadari bahwa kemampuan mengelola bisnis sama pentingnya dengan kemampuan menjaga keaslian budaya. Menurutnya, produk berbasis kearifan lokal memiliki daya tarik emosional, tetapi tanpa tata kelola keuangan, pemasaran, dan produksi yang rapi, usaha semacam ini rentan stagnan. Persoalan itu sejalan dengan temuan Badan Pusat Statistik bahwa hanya sekitar 20 persen UMKM yang mampu naik kelas dari usaha mikro ke kecil dalam kurun lima tahun.

Peluang: Nilai Budaya sebagai Diferensiasi Pasar

Di satu sisi, industri fesyen nasional menunjukkan tren positif. Data Bank Indonesia per kuartal IV 2023 mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga berada di kisaran 4,8 persen year-on-year, dengan belanja sandang dan alas kaki sebagai salah satu pendorong. Sentimen pasar terhadap produk lokal juga menguat, terlihat dari meningkatnya transaksi di platform digital dan gelaran pameran kriya daerah.

Dalam konteks ini, aksara Lontara memberi diferensiasi yang sulit ditiru. Konsumen tidak sekadar membeli kain atau aksesori, tetapi juga membawa narasi sejarah. Nilai tambah semacam ini membuat harga jual lebih tahan terhadap perang harga, karena produk tidak bersaing murni pada ongkos bahan baku.

"Produk budaya punya cerita, dan cerita itu adalah modal untuk membangun loyalitas pelanggan," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif dalam sebuah diskusi industri.

Tantangan: Likuiditas dan Kapasitas Manajerial

Di sisi lain, fundamental usaha kriya menghadapi tekanan struktural. Hasil survei Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa sekitar 60 hingga 70 persen UMKM belum memiliki akses ke lembaga keuangan formal. Akibatnya, likuiditas usaha sangat bergantung pada arus kas harian serta modal pribadi pemilik.

Persoalan lain adalah kapasitas manajerial. Banyak pelaku usaha tumbuh dari kecintaan terhadap budaya, bukan dari latar belakang bisnis. Ketika permintaan naik, mereka kerap kesulitan mengatur produksi, menghitung harga pokok penjualan, dan menjaga kualitas secara konsisten. Hal itu membuat valuasi usaha sulit diukur, sehingga investor atau lembaga pembiayaan enggan masuk.

Tekanan eksternal juga perlu dicermati. Ketika rupiah melemah dan biaya impor bahan baku tekstil meningkat, margin usaha kriya bisa tergerus. Rasio biaya produksi terhadap pendapatan yang semula 60 banding 100 dapat membengkak menjadi 75 banding 100 dalam kondisi tertentu.

Proyeksi dan Arah Kebijakan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor ekonomi kreatif diperkirakan berada di kisaran 5 hingga 6 persen per tahun, dengan fesyen sebagai salah satu subsektor terbesar. Namun angka makro itu tidak otomatis dinikmati pelaku usaha mikro. Diperlukan pendampingan literasi keuangan, akses pembiayaan berbunga rendah, serta integrasi rantai pasok agar pelaku usaha tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang berkelanjutan.

Pengalaman Ripuji Lontaratta memberi pelajaran bahwa pelestarian aksara dan penguatan manajemen bisnis bukan dua hal yang berlawanan. Keduanya bisa berjalan beriringan, asalkan pelaku usaha memiliki kapasitas mengelola modal, membaca tren pasar, dan menjaga kualitas produk. Dengan begitu, warisan budaya tidak hanya hidup di museum, tetapi juga menghidupi perekonomian masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User