Tren Kebugaran Dorong Investasi Hotel, Industri Kolam Renang Melonjak
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, sektor pariwisata Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 4,67 juta pada kuartal p...
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, sektor pariwisata Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan dengan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 4,67 juta pada kuartal pertama, naik 18,2% secara tahunan (year-on-year/yoy). Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya tren wisata kebugaran (wellness tourism) yang secara global bernilai US$ 919 miliar pada 2022, menurut Global Wellness Institute, dengan proyeksi pertumbuhan tahunan 8,6% hingga 2027. Di satu sisi, peningkatan ekspektasi tamu terhadap fasilitas penunjang kesehatan dan rekreasi memacu hotel berbintang untuk terus berbenah. Di sisi lain, kondisi ini menciptakan efek domino yang mengangkat industri pendukung, khususnya kontraktor dan pemasok kolam renang.
Transformasi Standar: Kolam Renang Bukan Lagi Sekadar Pelengkap
Dahulu, kolam renang dianggap sebagai fasilitas tambahan yang hanya dimiliki hotel mewah. Kini, properti bintang tiga pun mulai menyertakannya sebagai syarat kompetitif. Survei internal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menunjukkan bahwa 73% tamu domestik dan mancanegara menjadikan ketersediaan kolam renang dan pusat kebugaran sebagai faktor penentu dalam memilih akomodasi, naik dari 58% pada 2019. Tak hanya volume, kualitas juga meningkat. Hotel-hotel tidak lagi membangun kolam persegi panjang standar, tetapi merancang infinity pool di atap, kolam air hangat terintegrasi spa, hingga kolam semi-olimpiade dengan sistem filtrasi ramah lingkungan. Tren ini mendorong investasi signifikan: proyek konstruksi perhotelan pada 2024 diperkirakan menyerap dana sebesar Rp 12,7 triliun, meningkat 14,3% yoy, dengan porsi untuk fasilitas air dan wellness mencapai 22%–lebih dari dua kali lipat dibanding satu dekade lalu. Pelaku industri pool melaporkan lonjakan permintaan yang belum pernah terjadi. Asosiasi Kontraktor Kolam Renang Indonesia (AKKORIN) mencatat nilai kontrak baru pada semester I/2024 melonjak 31% yoy menjadi Rp 1,8 triliun, terutama dari sektor perhotelan dan resor.
Prospek Ekonomi: Gelombang Kenaikan yang Menjanjikan
Dari perspektif makro, tren wellness membawa berkah berantai. Di satu sisi, setiap rupiah yang diinvestasikan ke fasilitas penunjang kesehatan dan rekreasi di hotel menciptakan efek pengganda (multiplier effect) pada ekonomi lokal. Studi Bank Indonesia (BI) di Bali dan Lombok menunjukkan bahwa peningkatan belanja modal perhotelan senilai Rp 1 triliun mampu menciptakan 2.800 lapangan kerja langsung di sektor konstruksi dan 1.500 pekerjaan permanen di sektor jasa terkait, serta mendorong kenaikan pendapatan daerah dari pajak hotel dan restoran rata-rata 9,2%. Industri kolam renang yang semula didominasi segmen residensial, kini menikmati pendapatan berulang dari kontrak pemeliharaan dan pasokan bahan kimia untuk properti komersial. Margin usaha kontraktor meningkat karena permintaan bergeser ke proyek bernilai tinggi dengan spesifikasi teknis rumit. Di sisi lain, potensi gelembung investasi patut diwaspadai. Lonjakan pasokan kamar dengan fasilitas serupa berisiko menekan okupansi dan tarif rata-rata harian (ADR). Data Teradata STR menunjukkan bahwa tingkat hunian di kota sekunder yang agresif menambah hotel baru justru turun tipis 1,3 poin persentase menjadi 63,7%, meskipun pertumbuhan jumlah tamu positif. Valuasi investasi kolam renang yang mahal–bisa mencapai Rp 3–5 miliar per unit untuk standar bintang empat–memerlukan arus kas yang stabil agar tidak menjadi beban bagi kinerja keuangan hotel.
Tantangan Biaya dan Tekanan Keberlanjutan
Kacamata fundamental mengungkap dimensi lain yang kerap terabaikan: biaya operasional dan tuntutan lingkungan. Biaya pemeliharaan kolam renang komersial dapat menyedot 8–12% dari total beban operasional hotel bulanan, terdiri dari listrik untuk pompa dan pemanas, bahan kimia penjernih, serta tenaga teknisi. Di kawasan dengan tarif air tinggi, tambahan ini dapat mengurangi net operating income secara signifikan. Sementara itu, tekanan lingkungan terhadap model konvensional kian menguat. Sebuah kolam renang ukuran standar 25x10 meter membutuhkan penggantian air secara berkala yang bisa mencapai 500–800 kiloliter per bulan jika tidak dilengkapi sistem daur ulang canggih. Dengan semakin ketatnya peraturan penggunaan air tanah di destinasi wisata seperti Bali dan Yogyakarta, hotel dipaksa beralih ke teknologi kolam ramah lingkungan–seperti sistem filtrasi biologis atau penggunaan air payau–yang membutuhkan investasi awal lebih tinggi. Hal ini menciptakan dilema antara pemenuhan standar wellness terkini dan prinsip keberlanjutan yang kini menjadi perhatian utama wisatawan kelas atas.
“Kami melihat pergeseran paradigma: fasilitas kolam dan spa bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan penentu brand positioning. Namun, industri harus cermat menghitung biaya siklus hidup, bukan hanya biaya pembangunan. Hotel yang gagal mengelola efisiensi operasional akan terjebak dalam perang harga yang merugikan,” jelas Dr. Andini Surya, ekonom senior dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI.
Proyeksi dan Arah Kebijakan
Ke depan, sinergi antara tren wellness dan industri perhotelan diperkirakan akan terus menguat. Proyeksi dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan devisa sektor pariwisata sebesar US$ 25,3 miliar pada 2025, dengan kontribusi wellness tourism yang diperbesar melalui program Indonesia Wellness Tourism. Bagi industri kolam renang, diversifikasi ke layanan desain biofilik dan material berkelanjutan akan menjadi kunci untuk bertahan di tengah ketatnya regulasi lingkungan. Sementara itu, perbankan melalui OJK diharapkan dapat menyediakan skema pembiayaan hijau (green financing) untuk proyek renovasi hotel yang mengadopsi teknologi hemat air dan energi. Di satu sisi, potensi pertumbuhan dari pasar premium sangat besar; di sisi lain, pemangku kepentingan wajib menyeimbangkan ambisi ekspansi dengan kehati-hatian finansial dan tanggung jawab ekologis agar lonjakan sektor ini tidak menjadi bumerang jangka panjang.
Baca juga:
Comments (0)