Topline RANS Anjlok Tiga Tahun Beruntun, Nagita Slavina Ungkap Pemicunya

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis oleh PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) per 31 Desember 2025, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan secara berturut-turut selama periode 2023–2...

Topline RANS Anjlok Tiga Tahun Beruntun, Nagita Slavina Ungkap Pemicunya

Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis oleh PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) per 31 Desember 2025, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan secara berturut-turut selama periode 2023–2025. Data yang dikompilasi dari keterbukaan informasi BEI menunjukkan topline RANS pada 2023 mencapai Rp487 miliar, lalu terkontraksi menjadi Rp398 miliar di 2024 atau turun 18,3% year-on-year. Tekanan berlanjut hingga akhir 2025 dengan realisasi pendapatan hanya Rp352 miliar, minus 11,6% dari tahun sebelumnya. Secara kumulatif, dalam tiga tahun pendapatan perseroan menyusut 27,7%.

Tren Penurunan Topline dalam Perspektif Makro

Kontraksi yang dialami RANS tidak bisa dilepaskan dari dinamika industri hiburan digital yang bergerak cepat. Di satu sisi, belanja iklan digital (digital ad spending) nasional justru tumbuh 14% YoY di 2024 dan diproyeksi naik 12% di 2025, namun porsi untuk konten berbasis kreator terutama di platform video pendek mulai bergeser ke model kerja sama berbasis konversi penjualan. Hal ini mendorong pendapatan tetap (fixed revenue) dari sponsor dan brand deal yang menjadi andalan RANS menurun signifikan. Indikator lainnya, rata-rata tarif iklan per seribu tayangan (CPM) di kanal-kanal milik RANS juga mengalami penciutan 15–20% selama dua tahun terakhir, sejalan dengan meningkatnya pasokan konten dari kreator baru.

Di sisi lain, valuasi pasar terhadap saham sektor media digital turut memberikan tekanan. Indeks sektor teknologi dan media di BEI turun 9,8% sepanjang 2025, dan RANS sebagai salah satu penghuninya ikut terpengaruh sentimen risk-off investor. Capital outflow dari saham-saham mid-cap seperti RANS mencapai Rp210 miliar di kuartal III-2025 saja, menekan kapitalisasi pasar dan meningkatkan biaya pendanaan yang harus ditanggung perseroan.

Dua Sisi Mata Uang: Faktor Internal dan Eksternal

Dari sisi fundamental internal, RANS melakukan ekspansi besar-besaran pada lini bisnis baru seperti event organizer, food & beverage, dan pengembangan IP (intellectual property) karakter. Ekspansi ini membutuhkan belanja modal yang tinggi, tercatat capital expenditure (capex) naik 35% di 2024 menjadi Rp89 miliar, namun belum menghasilkan kontribusi pendapatan yang optimal. Produksi konten eksklusif untuk platform OTT juga memakan biaya hingga Rp45 miliar pada 2025, sementara monetisasi dari pelanggan berbayar masih di bawah ekspektasi. Hal ini mencerminkan fase investasi yang menekan margin laba usaha menjadi negatif -7,2% di 2025 dari sebelumnya positif 4,1% di 2023.

Secara eksternal, perilaku konsumen digital bergeser dari konten berbasis keluarga (family-friendly) yang menjadi DNA RANS ke konten mikro-edutainment dan live shopping. Algoritma platform yang berubah juga mengurangi jangkauan organik (organic reach) kanal RANS sebesar 23%, memaksa perseroan meningkatkan biaya promosi berbayar. Namun, peningkatan belanja iklan itu justru menggerus profitabilitas karena biaya akuisisi pengguna (customer acquisition cost) naik 40% dalam setahun.

Nagita Slavina: ‘Transformasi Itu Mahal, Tapi Wajib’

Menanggapi tren penurunan ini, Nagita Slavina selaku Chief Brand Officer RANS memberikan penjelasan dalam paparan publik virtual yang digelar pekan ini. Ia mengungkapkan bahwa perseroan secara sadar memasuki masa transisi model bisnis dari semula mengandalkan social media advertising menjadi platform omnichannel entertainment. “Kami memang mengalami penurunan topline karena mengalihkan sumber daya dari model pendapatan iklan jangka pendek ke pengembangan lini bisnis yang lebih berkelanjutan. Capex besar ini ibarat membangun fondasi rumah baru, akan ada fase ‘sakit’ sebelum akhirnya kokoh,” ujar Nagita.

Ia menambahkan, pendapatan dari segmen non-iklan seperti lisensi karakter dan event experience tumbuh 28% di 2025, meski masih kecil secara proporsi. Manajemen memproyeksikan lini ini akan menyumbang 30% dari total revenue pada 2027. “Kami paham investor menginginkan hasil cepat, tetapi transformasi ini dirancang untuk daya tahan jangka panjang. Portofolio bisnis baru justru yang akan menjadi penahan saat siklus iklan turun,” jelasnya.

Di sisi lain, Nagita mengakui bahwa persaingan dengan kreator individual yang lebih lincah dan biaya talenta yang melejit menjadi beban. “Kami menjaga fundamental: rasio utang terhadap ekuitas masih di bawah 0,8 kali, likuiditas aman, dan kami tidak melakukan PHK masif. Ini pilihan sadar untuk menjaga ekosistem internal,” tutupnya.

Pelaku pasar dan analis pun terbelah. Pro: transformasi ini bisa menjadi katalis jika eksekusi tepat dan diversifikasi pendapatan berhasil. Kontra: ketidakpastian arus kas jangka pendek dan potensi dilusi jika perseroan kembali mencari pendanaan eksternal. Dengan proyeksi pendapatan 2026 di kisaran Rp380–400 miliar, investor menanti bukti bahwa fase ‘sakit’ ini memang menuju titik balik, bukan sekadar pembenaran atas kontraksi berkepanjangan.

Baca juga:

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User