Oct 19, 2026
Bisnis

Telkom Pimpin Percepatan Adopsi AI Nasional via Ekosistem Terpadu

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital per awal 2026, kontribusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap produk domestik bruto nasional masih berkisar 0,8 persen, jau...

Telkom Pimpin Percepatan Adopsi AI Nasional via Ekosistem Terpadu

Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital per awal 2026, kontribusi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap produk domestik bruto nasional masih berkisar 0,8 persen, jauh di bawah target pemerintah sebesar 3,5 persen pada 2030. Angka ini menjadi pijakan penting bagi PT Telkom Indonesia yang tengah menyiapkan strategi percepatan adopsi AI menjelang gelaran Digital Transformation Indonesia International Forum (DTIIF) 2026. Perseroan menekankan bahwa pengembangan ekosistem terintegrasi—bukan sekadar teknologi tunggal—menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

Infrastruktur dan Data sebagai Fondasi Utama

Di satu sisi, pendekatan yang bertumpu pada penguatan infrastruktur dan tata kelola data dianggap sebagai langkah fundamental yang tepat. Tanpa konektivitas yang merata dan kualitas data yang terstandarisasi, adopsi AI di tingkat korporasi maupun layanan publik berpotensi timpang. Telkom mencatat bahwa saat ini kapasitas pusat data nasional baru mencapai sekitar 600 megawatt, sementara kebutuhan proyeksi hingga 2030 diperkirakan melonjak hingga 2,5 gigawatt. Kesenjangan ini menuntut investasi besar pada hyperscale data center, jaringan serat optik, dan komputasi awan berdaulat.

Dari sisi data, Indonesia masih menghadapi tantangan fragmentasi. Data lintas kementerian, lembaga, dan sektor swasta belum sepenuhnya terhubung dalam satu kerangka interoperabilitas. Telkom menilai bahwa standardisasi data menjadi prasyarat mutlak agar model AI bisa menghasilkan output yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, terutama untuk sektor kesehatan, logistik, dan jasa keuangan.

Kolaborasi Lintas Sektor dan Tantangan Adopsi

Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor yang digaungkan Telkom menghadapi ujian berupa kesenjangan kapabilitas digital antara perusahaan besar dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Berdasarkan data OJK per Desember 2025, hanya sekitar 22 persen UMKM yang terhubung ke ekosistem digital formal, sementara 78 persen sisanya masih beroperasi secara konvensional. Artinya, tanpa intervensi kebijakan yang inklusif, percepatan AI berisiko hanya dinikmati segelintir pemain besar dan memperlebar ketimpangan produktivitas.

Selain itu, isu talent gap menjadi penghambat struktural. Proyeksi Bank Indonesia menunjukkan kebutuhan tenaga ahli AI nasional mencapai 450 ribu orang pada 2028, sedangkan pasokan lulusan bidang teknologi informasi, data science, dan kecerdasan buatan baru sekitar 180 ribu orang per tahun. Rasio ini menciptakan tekanan pada likuiditas talenta dan berpotensi memicu capital outflow jika perusahaan domestik tidak mampu menyaingi kompensasi korporasi global.

“Transformasi digital bukan proyek jangka pendek. Ini soal membangun fundamental ekosistem yang membuat AI bekerja untuk seluruh lapisan ekonomi, bukan hanya korporasi besar,” ujar seorang analis industri telekomunikasi nasional, menanggapi arah strategi Telkom.

Dari perspektif pasar, sentimen terhadap langkah Telkom cenderung positif. Valuasi sektor teknologi telekomunikasi nasional mengalami kenaikan year-on-year sekitar 12 persen sepanjang 2025, ditopang ekspektasi monetisasi layanan AI, cloud, dan cybersecurity. Namun, para analis mengingatkan bahwa proyeksi pendapatan dari AI belum bisa dijadikan dasar valuasi agresif sebelum ada bukti adopsi yang terukur.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Pro: penguatan ekosistem terintegrasi berpotensi menciptakan efek berganda pada ekonomi digital, meningkatkan indeks kesiapan AI nasional, dan memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok teknologi regional. Kontra: tanpa regulasi perlindungan data yang tegas, pengembangan AI berisiko memicu persoalan privasi, etika, dan konsentrasi kekuatan data pada segelintir entitas.

Ke depan, keberhasilan strategi ini akan bergantung pada tiga variabel: konsistensi investasi infrastruktur, reformasi kurikulum talenta digital, dan kerangka regulasi yang seimbang antara inovasi dan perlindungan publik. Indeks adopsi AI nasional, yang kini berada di kisaran 38 dari 100, menjadi tolok ukur yang perlu dicermati setiap kuartal. Tanpa perbaikan pada ketiga variabel tersebut, target kontribusi AI terhadap PDB sebesar 3,5 persen pada 2030 berpotensi hanya menjadi angka di atas kertas.

Pasar akan menanti apakah langkah Telkom menjelang DTIIF 2026 mampu menjadi katalis nyata, atau sekadar sentimen jangka pendek yang menguap tanpa perubahan fundamental pada struktur ekonomi digital Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User