Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif per 2024, subsektor kriya menyumbang sekitar 15,7 persen dari total produk domestik bruto ekonomi kreatif nasional, dengan nilai ekspor kriya menembus USD 5,9 miliar pada 2023 atau tumbuh 8,2 persen year-on-year. Di antara ratusan jenis kriya daerah, sulam kasab dari Aceh menempati posisi unik: bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga unit usaha rumahan yang menyerap tenaga kerja perempuan di pedesaan. Perkembangan tradisi ini tidak lepas dari peran pembiayaan mikro yang menyasar pelaku usaha ultra-kecil.
Dari Kain Adat ke Rantai Nilai Ekonomi
Sulam kasab adalah teknik menyulam benang emas atau perak di atas kain, biasanya untuk pakaian adat, hiasan dinding, dan aksesori. Secara ekonomi, kegiatan ini masuk kategori industri rumahan dengan nilai tambah tinggi karena intensitas keterampilan, bukan bahan baku. Satu lembar kain sulam berkualitas dapat dihargai Rp 1,5 juta hingga Rp 7 juta, bergantung kerumitan motif dan lama pengerjaan yang bisa mencapai dua pekan per helai.
Di satu sisi, potensi ini menjanjikan. Permintaan pasar domestik terhadap kriya bernuansa etnik mengalami kenaikan, sejalan dengan tren wisata budaya dan gaya hidup lokal. Data OJK mencatat penyaluran kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) per Desember 2024 mencapai Rp 1.519 triliun, atau tumbuh 6,4 persen year-on-year, dengan porsi kredit mikro menjadi salah satu penopang utama. Artinya, likuiditas di segmen terbawah pasar kredit tersedia dan terus bertambah.
Dukungan Pembiayaan dan Pelatihan
Di sisi lain, akses pelaku kriya terhadap pembiayaan formal masih terbatas. Banyak perajin sulam kasab beroperasi sebagai usaha perseorangan tanpa laporan keuangan, sehingga sulit memenuhi syarat administrasi bank umum. Di titik inilah skema holding ultra mikro berperan: menyediakan pinjaman berskala kecil, pendampingan usaha, hingga pelatihan pemasaran digital. Program semacam ini lazim menyasar nasabah dengan plafon awal di bawah Rp 10 juta dan bertahap naik seiring kualitas pembayaran.
"Pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis komunitas punya efek berganda karena setiap rupiah pembiayaan berputar di lingkungan setempat, bukan mengalir ke luar daerah," ujar seorang ekonom pembangunan yang meneliti industri kriya di kawasan barat Indonesia.
Dampak ekonominya bisa dihitung dari tiga saluran. Pertama, penciptaan pendapatan tambahan bagi rumah tangga perajin, yang kerap menjadi sumber penghasilan kedua. Kedua, penyerapan tenaga kerja perempuan, karena sulam kasab umumnya dikerjakan di rumah sehingga lebih ramah terhadap peran domestik. Ketiga, efek berganda pada jasa pendukung seperti penjahit, penyedia benang, dan pengiriman paket.
Namun risikonya juga nyata. Nilai tukar rupiah, kenaikan harga benang impor, serta sentimen pasar terhadap produk etnik memengaruhi daya beli konsumen. Jika permintaan lesu, perajin dengan cicilan pinjaman tetap menghadapi tekanan arus kas. Karena itu, rasio kredit bermasalah di segmen mikro menjadi indikator penting yang mesti dipantau, dan pelatihan manajemen keuangan seharusnya berjalan seiring penyaluran kredit.
Fundamental Kuat, Valuasi Budaya Belum Terukur
Dari kacamata fundamental, kriya seperti sulam kasab memiliki kekuatan pada differensiasi produk dan keterikatan cerita budaya yang sulit ditiru mesin. Proyeksi ke depan, permintaan kriya premium berpotensi tumbuh seiring kelas menengah yang mencari produk autentik. Kontra-argumennya, skala produksi tetap terbatas karena keterampilan tidak bisa dipercepat, sehingga pertumbuhan lebih bersifat intensif ketimbang ekspansif.
Kesimpulan berimbangnya, dukungan pembiayaan dan pelatihan memang membantu usaha berkembang dan memberdayakan masyarakat, tetapi bukan obat tunggal. Tanpa perbaikan akses pasar, standardisasi mutu, dan perlindungan terhadap fluktuasi biaya bahan baku, keberlanjutan usaha sulam kasab akan bergantung pada konsistensi pendampingan. Bagi pembaca, penting dicatat bahwa angka-angka makro ekonomi kreatif menunjukkan tren positif, tetapi kinerja di tingkat perajin bisa sangat beragam tergantung lokasi, jaringan pemasaran, dan kapasitas manajemen masing-masing.
Comments (0)