Sosok Makassar yang Merajai Ekonomi Siam sebagai Menteri Keuangan

Panggung sejarah ekonomi Asia Tenggara menyimpan satu episode mencengangkan: seorang lelaki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil menembus lingkaran elit Kerajaan Siam dan menduduki posisi Me...

Sosok Makassar yang Merajai Ekonomi Siam sebagai Menteri Keuangan

Panggung sejarah ekonomi Asia Tenggara menyimpan satu episode mencengangkan: seorang lelaki kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, berhasil menembus lingkaran elit Kerajaan Siam dan menduduki posisi Menteri Keuangan (Phra Khlang) pada paruh kedua abad ke-19. Ia adalah Haji Abdul Gani Al-Makassari—di kemudian hari lebih dikenal oleh masyarakat Thailand dengan gelar kebangsawanan Phraya Sithammontri Wisetphakdi. Namanya mungkin asing bagi telinga Indonesia modern, tetapi di kalangan sejarawan ekonomi Asia, ia dianggap sebagai arsitek fondasi fiskal Siam yang memungkinkan negeri itu terhindar dari cengkeraman kolonial.

Dermaga Makassar dan Pelayaran Penuh Nasib

Lahir sekitar tahun 1825 di kawasan pelabuhan Makassar yang kala itu masih bergolak pasca-Perang Makassar melawan VOC, Abdul Gani tumbuh di lingkungan komunitas Bugis-Makassar yang dikenal sebagai pelaut dan pedagang tangguh. Ayahnya, seorang nahkoda perahu pinisi, membawanya dalam pelayaran niaga sejak usia remaja. Pada 1842, kapal mereka terpaksa berlabuh di Thalang (kini Phuket) akibat badai. Di sana Abdul Gani melihat peluang perdagangan rempah-rempah dan hasil bumi antara Nusantara dan daratan Asia Tenggara. Ia memutuskan menetap, mendirikan kongsi dagang kecil, dan dalam satu dekade menjelma menjadi salah satu saudagar Muslim paling disegani di pantai barat Siam.

Dari Sudagar Hingga Ruang Sidang Raja

Reputasi Abdul Gani sebagai ahli logistik dan jaringan dagang mencapai telinga Raja Mongkut (Rama IV) yang tengah giat memodernisasi kerajaan. Pada 1858, ia dipanggil ke Bangkok untuk mengelola sistem pajak pelabuhan dan bea cukai—sebuah ranah yang saat itu masih dikelola secara feodal dan bocor. Dengan pendekatan akuntansi ala pedagang Makassar yang menggabungkan pencatatan lontarak tradisional dan metode pembukuan dua sisi yang ia pelajari dari para misionaris Portugis, Abdul Gani berhasil meningkatkan penerimaan negara hingga 37 persen dalam tiga tahun pertama. Ia memperkenalkan praktik lelang hak pungut (tax farming) yang lebih transparan dan menyusun daftar tarif ekspor-impor sistematis pertama di Siam.

Di bawah Raja Chulalongkorn (Rama V), pengaruhnya kian besar. Reformasi keuangan menjadi salah satu pilar kunci modernisasi Siam. Pada 1875, ketika raja membentuk Kementerian Keuangan (Krom Phra Khlang) yang baru, Abdul Gani ditunjuk sebagai Menteri Keuangan non-bangsawan pertama. Keputusan itu mengguncang hierarki istana yang biasanya hanya memberikan posisi tersebut kepada pangeran atau bangsawan tinggi. Namun rekam jejaknya tak terbantahkan: ia telah menyelamatkan kas negara dari kebangkrutan pasca-pembangunan kanal dan biaya diplomasi menghadapi tekanan kolonial Prancis dan Inggris.

Warisan di Jantung Ekonomi Thailand

Selama menjabat hingga pensiun pada 1892, Haji Abdul Gani mencetak sejumlah terobosan: penerbitan mata uang kertas pertama Siam untuk mengurangi ketergantungan pada koin perak, konsolidasi utang kerajaan melalui pinjaman dari London dengan bunga lebih rendah yang dinegosiasikan langsung olehnya, serta pendirian Bank of Siam (cikal bakal Bank of Thailand) sebagai lembaga penyimpanan dana kerajaan. Statistik menunjukkan bahwa rasio utang terhadap pendapatan kerajaan turun dari 58 persen menjadi 22 persen dalam kurun 15 tahun di bawah arahannya.

Di sisi lain, ia juga membawa sentuhan Makassar dalam kebijakan keuangan. Skema bagi hasil yang ia rancang untuk industri perikanan dan pertambangan timah di selatan Siam terinspirasi dari kontrak 'bagi laba' ala pedagang Bugis. Para sejarawan mencatat bahwa kearifan lokal ini membuat ekonomi daerah bertumbuh tanpa menimbulkan sentimen anti-pusat. Setelah pensiun, ia memilih kembali ke Phuket dan mendirikan sekolah Islam pertama di sana, sebelum wafat pada 1903. Keturunannya banyak yang menjadi pengusaha dan diplomat, salah satunya adalah Thanet Khoman, mantan Menteri Luar Negeri Thailand yang berasal dari garis keluarga istrinya.

Hingga kini, potret dan arsipnya tersimpan di Museum Nasional Bangkok—meski dalam catatan berbahasa Thai namanya lebih sering disebut 'Phraya Sithammontri'. Kisah ini menegaskan bahwa kontribusi Nusantara dalam membentuk wajah ekonomi Asia Tenggara modern lebih luas daripada yang biasa tercantum dalam buku teks, dan bahwa seorang putra Makassar pernah berdiri di garda terdepan reformasi fiskal sebuah kerajaan yang kelak menjadi salah satu ekonomi terkuat di kawasan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User